CERPEN: Pria Bertangan emas

Posted on November 23, 2008

0



 

wp-image-1108807384

Ilustrasi.

 

Di jaman dahulu kala, ada seseorang yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya menjadi terlunta-lunta oleh karena kemiskinan. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Ia berdoa sepanjang masa kepada dewa agar ia bisa hidup kaya dan memiliki pasangan hidup yang cantik jelita.

Lima tahun kemudian, Pria ini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ladang peninggalan orangtuanya telah habis terjual. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup, hanya rumah yang dihuninya sejak ia lahir di dunia ini.

Saat usianya memasuki 20 tahun, rumah satu-satunya yang ia tempati pun raib di tangan “Penagih Hutang.” Ia begitu sedih. Apalah daya, ia sudah berupaya untuk berdoa setiap waktu kepada dewa dan berpuasa. Toh, hasilnya nihil.

Ketika tiba waktu “Penagih Hutang” datang untuk mengambil rumahnya, ia berlutut kepadanya dan meminta agar waktu pengambilan rumahnya dapat diundur.

“Aku berjanji… kali ini aku berjanji… bahwa aku akan membayarkan hutangku. Tetapi aku mohon kali ini, jangan ambil rumahku!” pinta pria itu. Ia bersujud di tanah sambil kedua tangannya menelungkup seperti berdoa. Ia membungkuk tiga kali.

Pria itu mengintip, memperhatikan Si Penagih Hutang. Pria itu berharap “Penagih Hutang” akan menuruti pintanya, meskipun ia sendiri tidak tahu darimana uang sebanyak itu. Agar lebih meyakinkan si Penagih Hutang, Pria itu menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung di tanah. Perilakunya yang demikian membuat para tetangganya datang dan memperhatikan kejadian itu. Banyak tetangga yang berbisik. Bisikan mereka seolah-olah membela pria malang itu. Mengapa Si Penagih Hutang begitu jahat, toh pria ini akan membayarkan hutangnya seminggu lagi? bisik para tetangga. Dimana pria ini akan tinggal jika rumahnya diambil oleh Penagih Hutang. Ada pula tetangga yang berbisik demikian. Luluhlah hati si pemilik uang.

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ingat, waktunya hanya seminggu ya. Hutangmu terlalu banyak. Dan jika seminggu lagi aku datang, kau belum memiliki uang yang cukup maka aku dengan terpaksa akan mengambil rumahmu ini” seru Penagih Hutang.

Pria pemiliki hutang ini merasa bersyukur sekali. Ia mengelus-elus dadanya. Tiba-tiba “Penagih Hutang” membalikkan badannya dan berseru “Kau seharusnya bersyukur pada tetanggamu yang membelamu. Jika tidak ada mereka, aku sudah mengambil rumah ini. Mengerti!” bentak si Penagih Hutang.

Pria ini hanya tertunduk malu dan menggangguk tanda setuju. Ia mengucapkan terimakasih atas bantuan para tetangganya. Ia berjanji kepada tetangganya bahwa jika ia berhasil mendapatkan uang yang banyak maka ia akan mengadakan syukuran. Tetangganya berlalu meninggalkan rumahnya sambil berpikir darimana Pria ini mendapatkan uang sebanyak itu. Toh, pria ini tidak bekerja.

Setelah kejadian tersebut, Pria ini berpuasa tiga hari lamanya. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia tidak tidur. Ia terus menerus menghaturkan pujian kepada Sang Dewa. Akhirnya, Dewa pun merasa iba oleh karena ketulusan dan penderitaan Pria ini.

Saat malam ketiga dari puasanya, Pria ini bertemu dengan Sang Dewa melalui penglihatannya. Dewa akan memberikan keajaiban melalui tangan kanan pria ini. Pria ini akan dikaruniai tangan yang ajaib. Jika pria ini berhasil memegang sesuatu dan berkata “Tolong!” maka apa pun yang akan dipegangnya akan menjadi emas.

Seusai penglihatannya, pria itu pun menguji keajaiban tangannya. Ia segera memegang sendok sambil berkata “Tolong!”. Akhirnya sendok itu pun menjadi emas. Begitu seterusnya ketika Pria ini memegang benda-benda yang lain. Ia pun kegirangan, melompat-lompat dan berteriak-teriak keliling rumah. Setelah terkumpul banyak barang yang bisa menjadi emas, pria ini menjualnya untuk membeli barang-barang yang diperlukan.

Dua hari kemudian rumahnya pun dipenuhi oleh banyak perabotan mewah. Hal ini membuat para tetangganya takjub dan kagum. Darimana pria ini mendapatkan uang sementara ia tidak bekerja? pikir tetangganya saat mereka melewati rumahnya. Ada pula tetangganya yang datang berkunjung dan ingin mengetahui rahasianya. Namun, pria ini tidak memberitahukan rahasianya. Padahal tetangga yang datang ini telah menolongnya saat Si Penagih Hutang datang dan mengambil rumahnya.

Karena ketakutan hartanya akan dirampok oleh tetangganya dan rahasianya diketahui oleh mereka maka pria ini pun pindah ke desa lain setelah ia membayar hutangnya kepada Penagih Hutang.

Di desanya yang baru, pria ini pun tidak berubah. Ia hanya duduk dan menikmati kemewahan perabotan yang dimilikinya. Ia tidak bekerja namun memiliki banyak emas. Karena kemewahan dan kekayaannya, banyak orang ingin mengenalnya termasuk seorang gadis yang begitu cantik jelita. Konon gadis ini adalah perempuan tercantik di desa ini namun begitu miskin. Begitu mendengar namanya, gadis ini pun datang ke rumah pria ini dan hendak bekerja di rumahnya.

Begitu melihat rupa gadis ini, pria itu pun terkejut. Ia langsung mengingat bahwa ia pernah berdoa kepada Dewa untuk mendapatkan pasangan hidup yang cantik jelita. Dewa telah mengabulkan seluruh doanya, pikir pria ini. Ia pun meminta gadis ini menjadi Isterinya. Pria ini membayar semua hutang Istrinya dan meminta Istrinya untuk melayani segala keperluannya dan merawat rumahnya yang megah bak istana itu.

Pria ini pun hidup bahagia dengan istrinya. Dari hari ke hari, isterinya begitu baik melayani pria ini bak seorang Raja. Sangking senangnya, ia terus berdoa kepada dewa agar dapat diberikan seorang anak. Ia bersyukur karena dewa telah mengabulkan doanya. Pria ini begitu menyayangi isterinya.

Istrinya pun bahagia karena dulu ia begitu miskin sehingga harus berkerja keras untuk menghidupi keluarganya. Namun, satu hal yang terus membuat isterinya semakin curiga darimana suaminya ini mendapatkan emas-emas, sementara suaminya tidak pernah bekerja. Tentu hal ini berbeda dengan falsafah kehidupan yang diajarkan keluarganya, kita akan dapat mempertahankan kehidupan dengan bekerja. Sedangkan isterinya tidak pernah melihat suaminya bekerja.

Sampai suatu saat, ia mengintip perilaku suaminya di dalam kamar. Ia terkejut ketika diketahuinya suaminya dapat mengubah benda menjadi emas. Ia pun berpikir bahwa suaminya pastilah seorang siluman. Manusia seperti apa yang dapat mengubah suatu benda menjadi emas jika ia pasti seorang siluman. Ia pun takut dan memutuskan untuk meninggalkan suaminya. Pantas saja, tidak boleh ada yang tinggal di dalam rumah megahnya ini, pikirnya.

Saat bergegas membawa barangnya keluar dari rumah, suaminya memanggilnya. Pria itu berseru “Mau kemana kau? Malam-malam begini membawa tas dan barang-barangmu…” Isterinya kaget melihat kehadiran suaminya. Ia pun berteriak-teriak menjuluki suaminya dengan kata ‘Siluman’.

Pria yang dipanggil Siluman itu kaget melihat perilaku isterinya. Ia begitu sayang kepada isterinya. Apa yang menyebabkan isterinya menuduhnya sebagai siluman?  Ia tidak ingin kehilangan isteri yang begitu disayanginya. Jika yang dimaksud siluman adalah perilakunya mengubah benda menjadi emas, tentu ia akan menjelaskannya.

Segera pria ini menarik tangan istrinya, ia berkata “Tolong… mengertilah!” pintanya. Tentu saja, isterinya langsung diam dan terbujur kaku, tidak bergerak. Pria ini takjub dan sedih ketika dilihatnya sang isteri sudah menjadi patung emas dengan posisi memalingkan muka, hendak berlari dan sebelah tangannya sedang dipegang oleh suaminya. Pria ini pun menangis dan merintih memanggil sng isteri untuk hidup kembali. Apalah daya, sang isteri telah menjadi patung emas.

“Tidak… Tidak….Jangan ambil Istri yang kusayangi ini!” teriak pria itu yang memeluk patung emas isterinya

Sambil menangis, berlari cari pertolongan kepada penduduk di desa itu. Ia mengetuk rumah dan memegang tangan tetangganya sambil meminta pertolongan. Tak lama kemudian, ia mendapati tetangganya itu menjadi patung emas. Ia terkejut.

Ketika dilihatnya seseorang menjadi Patung Emas karena perilaku Pria kaya yang meminta pertolongan itu maka seluruh penduduk desa menjauhi dan melempari Pria ini dengan batu. Seluruh penduduk desa mengira Pria ini adalah siluman yang berhasil mengubah seseorang menjadi patung emas.

Pria yang meminta pertolongan itu pun kabur karena dilempari batu. Ia pun diusir dari desa itu. Pria ini begitu sedih dan bingung. Malang benar nasibnya, ia telah kehilangan istrinya. Kini ia telah kehilangan seluruh miliknya.

Begitu merana nasib Pria ini. Ia pun tidak berani kembali ke Desanya dulu dimana ia dilahirkan. Ia malu karena telah berpikir buruk terhadap mereka. Ia juga telah mengingkari janjinya untuk mengadakan syukuran jika ia sudah memiliki uang.

Ia begitu sedihnya sehingga hidupnya terlunta-lunta. Pria Bertangan Emas itu pun mati sia-sia karena kesedihannya. Apalah artinya hidup berkelimpahan harta jika harus kehilangan cinta dari orang yang kita sayangi.

 

***

Kakek yang mendongeng dengan pesan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari apa yang kita miliki tetapi apa yang kita rasakan. “Nak, kau akan bahagia karena hatimu bahagia. Bukan apa yang kau pakai atau apa yang kau miliki” seru Kakek sambil menutup kisah dongengnya.

Harta tidak menjamin seseorang akan hidup bahagia.

Ketamakan seseorang akan harta telah menutup arti cinta yang sesungguhnya yang berarti rela untuk mengorbankan apa yang kita miliki bagi orang lain.

Jika seseorang ingin berhasil tentu harus bekerja keras.

“Nak, uang bukan segala-galanya dalam hidup tetapi segala-galanya dalam hidup memerlukan uang. Jadi manfaatkan uang yang kau dapatkan dengan bekerja keras sebaik mungkin” pinta kakek kepada cucunya.

“Kek, falsafah yang diajarkan oleh gadis yang menjadi isteri pria itu. Bahwa kita dapat mempertahankan hidup dengan bekerja”  jawab si cucu menanggapi kisah dongeng Kakeknya.

“Ada satu hal lain yang menarik dari kisah ini selain pesan-pesan tadi” kata kakek menimpali cucunya.

“Apa?” tanya cucunya.

“Bahwa memang benar kamu dapat mempertahankan kehidupan dari apa yang kamu peroleh tetapi sesungguhnya kamu dapat menciptakan kehidupan jika kamu belajar memberi kepada orang lain. Dan itulah arti cinta sesungguhnya” kata Kakek kepada cucunya. “Tidurlah, sudah malam. Semoga kamu dapat memetik pengalaman berharga dari kisah pria bertangan emas ini” seru kakek sambil menyelimuit cucunya.

Kakek kemudian mematikan lampu di kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Ia menutup pintu kamar cucunya. Ia berharap cucunya dapat memahami tentang pesan moral dari kisah dongengnya itu.

dibuat oleh: AR (160808)

Advertisements
Posted in: FICTION