wp-image-979156162

Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru.

Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa pekerjaan anda?” Guru pun hanya menjawab biasa saja, “Saya ini hanya Hamba Tuhan.”

Si Tukang cukur mulai bercerita bahwa ia tidak pernah percaya tentang kehadiran Tuhan. Sang Guru balik bertanya, mengapa Tukang Cukur tidak percaya dengan Tuhan? Tukang Cukur pun menjawab sambil menunjuk ke arah pengemis di luar sana, sedang berdiri dan meminta-minta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat.

Jawab Tukang Cukur “Jika memang ada Tuhan maka Pengemis itu tidak perlu ada. Jika memang Tuhan ada maka tidak perlu ada kejahatan, kemiskinan dan keadaan buruk lainnya di dunia ini.”

Sang Guru bukannya menyangkal jawaban Tukang Cukur tetapi hanya termangut-mangut saja. Si Tukang cukur pun selesai mencukur Sang Guru. Sang Guru memberikan upah, mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada Tukang Cukur.

Saat dalam perjalanan pulang, Sang Guru pun bingung bagaimana meyakinkan Tukang Cukur. Sambil berjalan, ia melihat seorang pemuda berambut gondrong, tidak beraturan dan rambutnya berantakan sekali. Kemudian, Sang Guru pun berlari dan menemui Tukang Cukur. Ia mendapati Tukang Cukur sedang tidak mengerjakan tugasnya. Tukang cukur pun terkejut mendapati Sang Guru kembali datang.

Sang Guru pun berkata kepada Tukang Cukur begini, “Saat dalam perjalanan pulang, saya menjumpai seorang pemuda berambut gondrong, rambutnya berantakan dan tidak rapi. Jika memang ada Tukang cukur, mengapa masih ada orang seperti itu?”

Sang Guru pun penasaran dengan jawaban Tukang Cukur. Tukang Cukur pun menjawab begini, “Lah, mengapa mereka tidak datang kepada saya?” sanggahnya. Sang Guru pun membalas, “Begitu pun dengan pernyataanmu tadi tentang Tuhan. Mengapa mereka juga tidak datang kepada-Nya, yang empunya segalanya?”

***

Tuhan ada, hadir dimana saja dan kapan saja. Bagaimana kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Kembali kepada diri kita masing-masing. Mengapa kita tidak datang kepada-Nya, jika kondisi hidup kita buruk?