Sontak saya terperanjat membaca email dari seorang senior yang memiliki posisi dihormati tetapi cara beliau mengkomunikasikan pesan tidak menunjukkan simpati. Akibat ulahnya yang berulangkali itu, hampir semua staf tidak menaruh respek lagi terhadapnya.

Contoh kedua, saat saya membaca status teman saya di dunia maya. Teman saya berpikir bahwa statusnya adalah bentuk eksistensi pendapat dan ekspresi emosinya tetapi dia lupa bahwa orang dalam kontaknya akan membaca dan mengetahuinya. Akhirnya, dia bermasalah dengan lingkungan sekitarnya, karena dianggap labil. Orang yang awalnya simpati menjadi antipati.

Kini hubungan komunikasi hanya seluas jari-jari tangan, karena kemudahan melakukan dan menerimanya. Dengan kemudahan tersebut, mem-posting-kan sesuatu hanya karena ego, emosi dan tidak memperhitungkan orang lain membacanya adalah bentuk eksistensi diri di dunia maya yang salah. Mengapa? Cobalah bersikap santun, meski dalam dunia maya.

Hitung 10 detik sebelum posting status, niscaya anda merasa lebih baik darinya.