Bersikap Dewasa Kala Doa Belum Terkabul. Apa Bisa?

Posted on April 20, 2012

0



push

Dokumen pribadi.

Suatu hari saya pergi berbelanja ke Supermarket besar. Saya menjumpai sebuah peristiwa, seorang anak merajuk dan nangis hebat saat meminta mainan. Anak itu berguling-guling, teriak dan nangis karena melihat ayahnya menolak beli mainan yang disukainya. Karena saya suka melihat tingkah pola anak itu yang lucu dan menggemaskan, saya bertanya mengapa sang ayah tidak membelikan mainan tersebut. Saya penasaran.

Sang ayah bilang, dia khawatir dengan mainan tersebut yang akan membahayakan anaknya. Tak lama setelah itu, di ujung kasir terdengar suara anak kecil menangis hebat dan si Ibu berusaha menenangkan si anak, anak tersebut tampak meraung memegang matanya, sambil berteriak panas. Rupanya mainan yang baru dibeli terkena matanya. Mainan itu adalah mainan yang akan diminta oleh anak dari si ayah yang sedang berbicara dengan saya barusan. Cepat-cepat si Ayah meraih si anak yang sedang merajuk sambil menjelaskan peristiwa celaka anak di ujung kaisar. Anak itu berusaha memahami penjelasan ayahnya sambil melap air matanya dengan wajah sendu. Meski kecewa, anak itu memahami risiko mengapa keinginannya ditolak.

Usai berbelanja, aku menyadari sapaan Tuhan tentang doa yang belum terjawab dengan peristiwa di supermarket tadi. Aku tidak mungkin seperti anak kecil yang menangis, meraung, meratap dan ngamuk karena permintaannya tidak dituruti. Sebagai Bapa yang baik, Dia tidak ingin melihat saya menderita karena permintaan saya sendiri. Sesungguhnya Tuhan punya alasan dari setiap doa kita, terjawab atau tidak, bukan menjadi persoalan.

Makna doa adalah memahami kehendakNya, sabar terhadap apa yang terjadi dan bersikap ‘ dewasa’.  Bapa yang baik tidak akan memberikan kalajengking, ketika anaknya minta telur. Ia memahami apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan oleh kita. Ia tidak ingin kita terluka karena keinginan kita.

Advertisements
Posted in: OPINION