Isteri : “Sedang cari apa, Pak? Sibuk banget. Sini saya bantu.”

Suami : “Saya lagi cari anu.”

Isteri : “Cari apa?”

Suami : “Surat nikah”

Isteri : “Surat nikah? Memang kenapa dengan surat nikah kita, Pak?”

Suami : “Anu bu. Saya mau cek sampai kapan batas menikahnya kayak yang di KTP itu.”

Isteri : #@$@#$ (*gubraks)

Menikah adalah pilihan hidup yang tidak ditentukan. Saya yakin setiap pasangan yang akan menikah tidak pernah memikirkan kapan dan bagaimana bila bercerai, kecuali pernikahan kontrak yang memang tidak dilandasi cinta tetapi dilandasi kepentingan tertentu. Jelas ini berbeda.

Pernikahan dilandasi elemen cinta, komitmen, passion, dan kepercayaan yang menguatkan pilihan tersebut. Kepercayaan dan komunikasi adalah modal utama pernikahan.

Sewaktu saya bertemu dengan petugas catatan sipil di Indonesia. Petugas tersebut berasumsi bahwa pasangan suami isteri yang mengalami percekcokan dalam rumah tangga lebih memilih jalan perceraian ketimbang mempertahankan pernikahan.

Apa yang terjadi?

Masing-masing masih memikirkan diri sendiri. Anda paham maksud saya. Setelah menikah, anda bukan lagi dua tetapi satu. Mereka yang siap menikah memikirkan bagaimana masa depan “kita” anda dan pasangan hidup anda?

Mereka yang sudah menikah membentuk tanggungjawab baru menjadi keluarga dengan kehidupan bersama. Jika tidak bisa memikul tanggungjawab bersama berarti anda masih melajang. Menikah berarti “sama-sama bekerja” karena baik suami maupun isteri sama-sama memiliki peran untuk bekerja membentuk keluarga.