Vatertag: Hari Ayah dan Para Lelaki di Jerman

Posted on May 29, 2014

1



 

 

 

Jika hari Ibu dirayakan juga di Indonesia dan di Jerman, tetapi tidak untuk hari Ayah dan perayaan kaum lelaki. Di Jerman, ada Vatertag yakni perayaan hari Ayah dan para lelaki yang diperingati setiap tahunnya pada saat kenaikan Tuhan Yesus. Sedangkan hari Ibu dirayakan setiap minggu kedua di bulan Mei. Tentu baik hari Ayah maupun hari Ibu sama-sama jatuh pada hari libur sehingga hari itu menjadi hari bagi keluarga.

Secara global, sejarah hari Ayah tak jauh berbeda dengan hari Ibu. Jika dalam tradisi Kristen Awal, Gereja menghormati Bunda Maria sebagai Ibu para Bangsa maka hari Ayah dijadikan sebagai perayaan Santo Yusup.

Setiap negara pun memiliki sejarah dan tradisi yang beragam dalam merayakannya.

Bagaimana sejarah dan perayaan hari Ayah di Jerman yang jatuh setiap hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga?

Perayaan Vatertag atau Hari Ayah di Jerman mulai dirayakan pada abad pertengahan sebagai prosesi keagamaan menghormati “Gott den Vater” pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, yakni empat puluh hari sesudah Paskah. Kemudian pada abad ke-17, Vatertag mulai dijadikan sebagai hari keluarga untuk menghormati peran ayah dalam keluarga. Secara bertahap perayaan ini pun menjadi perayaan nasional.

Di tahun 1920 Vatertag sebagai perayaan hari Ayah dan para lelaki diidentikkan dengan minuman bir yang menjadi citra bangsa Jerman. Sejak saat itu, di Jerman hari Ayah dianggap hari para lelaki untuk bersenang-senang menikmati keriyaan bersama entah minum bir, tur bersama atau menikmati sepanjang malam untuk kumpul dan pesta. Oleh karena itu Vatertag juga kadang disebut Herrntag atau Mannertag.

Kita dapat menjumpai beragam aktivitas Saat Vatertag ini. Sebagian bisa melakukan perannya sebagai Ayah untuk kumpul dalam keluarga. Sebagian lagi menikmati bersama para lelaki lain dengan nongkrong di pub/bar sepanjang malam. Ada pula yang melakukan tur dalam kelompok kecil para lelaki seperti keliling kota atau hikking.Tak semua identik Vatertag dengan mabuk-mabukkan, ada yang memang memanfaatkan hari libur dengan wisata keluarga. Karena jadinya terhitung seperti “long weekend”.

Menarik ya jika Ayah dan Ibu dapat berbagi peran bersama membangun nilai-nilai keluarga di masa kini yang sudah rapuh oleh kecanggihan teknologi dan modernisasi. Tak ada ilmu khusus untuk belajar jadi Ayah. Ayah yang baik adalah ayah yang mengerti yang terbaik untuk anak dan keluarganya.

“Alles liebe zum schönen Vatertag Schatz. Viel Spass!!! Prost!!!”

 

Advertisements
Tagged: