‘Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia’


Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. 

“Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau terlalu baik untukku,” katanya. 

Bagaimana mungkin ia mengatakan itu setelah aku jatuh cinta padanya. Dulu ia memujaku bak seorang ratu. Aku bahkan tak peduli ketika ia berusaha mendekatiku. Aku tak menyangka dua tahun kami sudah bersama sebagai sepasang kekasih. 

“Anna, aku hanya tak bisa membahagiakanmu. Jalan impian kita berbeda, dunia kita berbeda.”

Aku tetap diam seribu bahasa. Aku bingung. Perasaanku bercampur aduk. Bahagia karena aku kini jatuh cinta dengannya. Senang karena aku diterima bekerja di negeri antah berantah ini. Bangga karena aku bisa mengandalkan kekasihku tinggal di kota ini. Sedih karena ia saat ini memutuskan hubungan cinta kami. 

“Anna, aku pun tahu bahwa sesungguhnya kamu tak pernah mencintaiku. Kamu tak pernah mengatakan ‘I love you’ selama kita berpacaran. Kau bilang akan mengatakan itu saat kita menikah nanti. Kau ingat itu, Anna?” tanyanya padaku sambil ia mengguncangkan tubuhku. Aku tetap diam. Tetapi aku juga bingung. 

Apakah dia lebih mementingkan kalimat ‘I love you’ ketimbang perasaan cintaku yang kini bersemi karena kebaikan dan ketulusan nya? Lalu mengapa ia memutuskan hubungan kami? Cinta ini benar-benar rumit. 

“Aku bahagia bersamamu, Anna. Kau bagaikan malaikat yang mengajariku cinta. Hanya saja aku sadar dunia kita berbeda. Kita tak mungkin bersama.” Dia menggenggam kedua tanganku dan matanya terlihat rapuh. Lagi-lagi aku bingung. 

Apakah cinta itu mengajari kita untuk hidup dalam dunia berbeda? Lalu buat apa mencintai jika kita tak bisa melengkapi satu sama lain karena dunia yang berbeda? Dia memelukku erat. Aku diam dan tak bisa menangis sewajarnya. 

Jika aku sedih, aku mudah menangis bahkan bila aku teringat keluargaku di Indonesia. Aku menangis padanya. Kini saat aku sedih hendak ditinggalkannya, mengapa aku tak bisa menangis? Ada apa denganku? 

Memang benar orang bijak berpesan. Bagi dunia, kamu hanya seorang tetapi bagi seseorang, kamu adalah dunianya. Hanya dia duniaku sekarang. Aku tak punya siapa-siapa di negeri asing ini. Keluargaku di Indonesia. Apa yang terjadi dalam hidupku tanpa dia di sini? 

Jika dia bahagia denganku, mengapa ia memutuskan hubungan indah ini? Apa alasannya? Dunia yang berbeda adalah omong kosong. Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan berjanji bahwa pria ini akan jadi yang terakhir berlabuh di hatiku. 

“Aku yakin kau akan bahagia menemukan belahan jiwamu,” katanya sambil mengusap rambutku. Belahan jiwa? Kalimat apa ini. Apa beda cinta dengan belahan jiwa? Aku jadi ingat perkataan temanku. Bahwa kau bisa jatuh cinta berkali-kali tetapi belahan jiwa itu hanya datang sekali. Apakah itu berarti bukan dia belahan jiwaku? 

Aku tetap bingung dalam kebisuanku. Ia pun melepaskan pelukannya. Apakah aku rela melepaskannya seperti rela melepaskan mimpiku bersama dengannya? Mengapa ia tidak memperjuangkan hubungan kami jika ia mencintaiku? Kata ibu, cinta itu perjuangan. 

Bila cinta adalah perjuangan maka berarti butuh pengorbanan. Aku berjanji akan mengorbankan mimpiku, tetapi mengapa ia tidak memperjuangkan cinta ini? 

Aku melihatnya mengepak pakaian dan barang miliknya. Sepertinya ia benar-benar menyiapkan perpisahannya. Ia sudah membawa kopernya. Aku pun tetap tak bisa berkutik. Apa aku perlu mengemis agar ia tidak meninggalkanku? 

“Semoga kau bahagia Anna! Semoga kau segera menemukan belahan jiwamu! Maafkan aku!” katanya lirih sambil mengangkat tangan melambai di depan pintu. Aku pun melihat dengan tak merespon sepatah kata pun. Inikah akhir sebuah cinta? 

Terkadang cinta memang tidak ditakdirkan untuk seorang pengecut atau pecundang. Mereka yang benar-benar memiliki cinta untuk hidup bersama adalah mereka yang berani, termasuk berani berkurban. 

Aku mengusap tangis di pipiku. Aku mendengar bunyi SMS di ponselku. Lagi-lagi dia mengirim pesan. Aku baru saja berencana untuk memblokir nomor dan namanya.

‘Membuat bahagia orang lain itu baik, Anna. Tetapi lebih baik kamu layak bahagia juga. Terimaksih untuk kebersamaan kita selama dua tahun’ 

Aku pun hanya membaca dan tak ingin membalas pesannya. Untuk apa? Setidaknya aku sudah hadir dalam hidupnya dan membuatnya bahagia. Rupanya dia paham bahwa aku belum bahagia bersama dengannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s