Cinta dalam Sepotong Pizza

Posted on March 17, 2017

0



“Was denkst du, Anna?” tanyanya. Apa yang kau pikirkan. 

Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. 

Aku gugup menjawabnya “Nicht”. Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun bergegas meraih tas jinjing di meja. 

Sekilas aku melihat penampilanku di kaca. Tiba – tiba aku merasa tak percaya diri berjalan bersamanya. Ada jutaan mata yang selalu melihat aneh kebersamaan pasangan Asia – Jerman. Kulitku yang eksotis dan berambut hitam legam terlihat kontras dengan pria berambut pirang miliknya. 

“Hey, kommst zu mir mit!” teriaknya dalam mobil. Apakah kau jadi ikut bersamaku makan diluar? Dia berteriak sambil menyalakan mesin mobil. 

“Warte auf mich, bitte!” Aku membalasnya teriak untuk menungguku. 

***

“Zwei Orangensaft und Pizza nummer sieben, bitte” katanya pada kasir yang mencatat pesanan kami. Dia memesan dua jus jeruk dan seloyang Pizza nomor 7 yang tersedia dalam daftar menu. Pizza favorit pilihannya selalu peperoni dan jamur. 

Sepertinya aku sedikit gugup, mataku mulai mengitari restoran untuk mencari tempat yang kosong. 

“Fertig?” tanya kasir untuk memastikan apakah sudah selesai memesan. 

Aku langsung menyahut “Ach so, noch einmal. Ich möchte ein Mineral Wasser trinken. Wie viel kostet es?”

Tiba-tiba aku ingin minum air putih untuk mengurangi keteganganku, aku bertanya pada kasir harganya agar aku bisa bayar langsung. Kasir malahan menyebut total seluruh pesanan kami. 

Dia pun menyerahkan uang 50€ pada kasir. Saat aku menyerahkan untuk bayar air mineral botol, dia menolak dan berseru “Anna, Ich möchte alles bezahlen” aku pun tersenyum. Dia membayar semua pesanan. 

Di restoran Pizzaria, kami duduk berhadapan seperti sepasang kekasih. 
***

Warst du schön mal in Italien?” tanyanya sambil kami menunggu pesanan. Apakah aku pernah ke Italia? 

Aku menjawab “Nein, Ich war noch nie in Italien. Warum?” 

“Du musst nach Italien besuchen. Das ist sehr schön” katanya. 

Ich spreche ein bisschen Deutsch. Können wir English jetzt Sprachen?” Aku katakan padanya bahwa aku bisa berbicara Bahasa Jerman hanya sedikit, apakah kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris? Begitu pintaku. 

Pizza yang kami pesan datang. Kami memakannya. Sepertinya dia amat menyukai rasa Pizza itu hingga kami berdua tak berbicara dan menikmatinya. Entah karena lapar atau rasanya yang lezat, kami terpesona sesaat. Diam menikmati Pizza. 

***

“I think now almost every country in the world has Pizza. In beginning, Italy made Pizza as local food. But Pizza is not only from Italy in this time. Eventhough Pizza is not original again, every one can accept the taste. It means they open their eyes beyond countries” katanya sambil menggigit Pizza yang terakhir. 

Aku mengangguk tanda setuju. Apa maksud semua ini? Makan malam? Sepotong Pizza yang aku makan? Kemana semua arah pembicaraan ini? 

Would be my Pizza, Anna?” tanyanya. Heh!!! Apa maksudnya ini?? 

To be Continued… 

Advertisements
Tagged:
Posted in: FICTION, FOOD