FICTION

“Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

*Fiksi*

Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai. 

Sejak pindah dari wilayah pegunungan ke tepi pantai, aku selalu lupa bagaimana rasanya hawa sejuk pagi hari yang berembun bila matahari muncul di timur, menyembul dari pegunungan. Aku bahkan lupa bagaimana memetik teh dan mencium aroma embun pagi.

Apakah kau menyesal tinggal di sini?” tanyanya. Tidak ada yang pernah disesali dalam hidup. Untuk apa? Toh, kita tidak bisa mengembalikan waktu dan mengubah segalanya. Aku tak suka bila ada orang yang masih menyesali masa lalu, karena masa lalu bukan seharusnya disesali atau ditangisi. 

Aku menggeleng. Aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi dengan hidup ini. Karena masa lalu memberikan aku pelajaran, bukan kenangan. 

Aku senang tinggal di mana saja. Di pegunungan atau di dekat pantai, asal bersamamu,” kataku menyanjung.

Tidak ada orang yang berhak mengatakan aku ‘kampungan’ atau ‘norak’ hanya karena aku belum pernah tinggal di tepi pantai. Tidak ada pula yang mengatakan tinggal di pegunungan itu lebih baik daripada tepi pantai. Itu hidup, kedua hal yang berlawanan harus dicoba. Panas dingin udaranya. Tinggi rendah wilayahnya, namun tak satu pun yang boleh mengklaim ini atau itu lebih baik.

Syukurlah kalau begitu,” katanya. “Banyak orang hidup membandingkan masa lalu dengan masa kini agar bisa menentukan masa depan” tambahnya. Maksudnya, mereka komplen dan tidak bisa menerima keadaan. 

Hidup itu sebenarnya menghidupi. Buat apa menjalani masa kini tetapi masih memikirkan masa lalu? Buat apa pula menjalani masa kini namun mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi?

Jika kau bisa hidup di hawa panas dan sejuk, itu artinya kau tidak bergantung pada kondisi sekitarmu,” serunya sambil memandang ke arah laut. 

Aku diam saja. Aku biarkan dia berlalu sementara aku masih menikmati semburat malu-malu dari fajar pagi hari.

Aku tak bergantung dengan keadaan. Namun orang banyak di sekitar rumah kami di tepi pantai seolah-olah menghakimi bahwa aku tak bisa hidup di tepi pantai. Jadi aku pun tak ingin menggantungkan perasaan pada penilaian orang-orang sekitar. 

Mereka tak berhak menghakimi diriku karena mereka belum mengenalku. Mereka juga tak kuasa menentukan masa depan karena aku lebih berkuasa dalam hidupku ketimbang mereka.

Advertisements

Categories: FICTION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s