Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?



Ilustrasi.

“Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?” pesan ibu lewat whatsapp sore ini. 

Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar.

Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa aku ingin jadi wanita pintar. 

“Pintar itu perlu. Tapi buat apa menguasai dunia jika kita tak bisa menguasai diri sendiri?” tanya ibu kembali. 

Pesan pertanyaan yang menohokku. Yup, siapa pun bisa menguasai dunia tetapi belum tentu bisa menguasai diri sendiri. 

Lalu aku bertanya balik ke ibu, “aku harus bagaimana ibu?”

Menaklukkan dunia itu memang hebat tetapi lebih hebat jika ia bisa menaklukkan diri sendiri. Buat apa pintar jika ia tidak bijak?

Banyak orang berusaha menguasai dunia tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Dia seolah-olah ingin dunia mengenalnya, tetapi apakah dia sudah mengenal dirinya sendiri? Belum tentu. 

Belajar menguasai diri sendiri agar kita sadar bahwa jika kita pandai dan punya ilmu sesungguhnya kita tak perlu sombong. Bahkan sesungguhnya mereka yang berilmu tinggi tiada artinya apa-apa. 

Mereka yang berilmu tahap pertama bisa sombong. Mereka yang berilmu di tahap kedua bersikap rendah hati. Padahal mereka yang sudah berilmu di tahap ketiga, mereka merasa diri tidak ada artinya lagi. Ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Setinggi apa pun ilmu yang dimiliki untuk menaklukkan dunia, pertama-tama kuasai dulu diri sendiri.

Advertisements

Vimperk: Kota Bersejarah di Selatan Ceko


Kota menyimpan sejarah dan indah.

Parkir 30 menit gratis, jika lebih bayar di kasir otomatis. Di situ saya temukan plakat bersejarah.

Siapa sangka saya punya hotel di sini?! Sepertinya ini hotel lama yang sudah tidak beroperasi lagi.

Dua puluh kilomoter dari perbatasan Jerman-Ceko, kami mampir di kota Vimperk. Kota ini dipenuhi bangunan kuno yang masih terawat indah terbuat dari batu dan rumah-rumah dari kayu. Kotanya berliku naik turun karena kontur tanah yang tidak rata, namun menarik mata.

Sebagai contoh berhenti sebentar di restoran, saya mengamati kontur restoran yang indah seperti masuk terowongan, di dalam interior terbuat dari batu dan plafon yang rendah, seperti rumah keong dalam dongeng. Menarik sekali!

Parkir 30 menit gratis, selanjutnya bayar di kasir otomatis seperti di Jerman dengan mata uang Korona. Ada restoran, hotel dan bank. Mau tarik tunai di ATM juga mudah? Saya tarik 1000 Korona setara dengan 600 ribu rupiah. Pembayaran di sini misal restoran, bisa dengan Euro atau Korona. Harga makanan di restoran atau kafe juga terjangkau atau lebih murah dibandingkan di Jerman. 

Banyak bangunan bergaya baroque di sini. Ada Gereja Katolik di pusat kota. Kastil dan museum bisa dikunjungi karena konon kota ini adalah kota lama nan indah yang menyimpan sejarah. Salah satu sudut bangunan, ketika saya memarkirkan mobil ada plakat tertulis ‘Pada 6 Mei 1945 Tentara Amerika membebaskan kota Vimperk.’ 

Menjangkau Perbatasan Jerman – Ceko


Area perbatasan di Ceko yang dijadikan kawasan menjual kebutuhan yang murah.

Mata uang Ceko, Korona.

Tak ada angin tak ada hujan, suami saya ajak mampir ke Ceko, salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Jerman. Oke, saya setuju karena tidak perlu berwisata bermalam-malam layaknya ke luar negeri. Hanya sekedar cari tahu saja untuk saya.

Kami berangkat pagi dan sore sudah kembali. Rencana suatu saat di bulan Oktober nanti, kami bisa berkunjung ke ibukotanya Praha.

Di perbatasan sebagaimana saya menjumpai beberapa perbatasan antar negara di Asia, saya menjumpai pasar atau istilahnya jual beli. Saya suka karena bisa mengamati budaya lokal untuk bertransaksi, karena harganya bisa ditawar. Ada juga supermarket atau toko yang menjual sembako, parfum, pakaian atau yang lain dengan klaim bebas pajak. Misal, waktu saya berada di perbatasan Thailand-Kamboja, ada mall perbatasan yang klaim bebas pajak juga. 

Di area perbatasan, tempat jual barang-barang murah saya temukan penjual adalah orang asal Vietnam. Ada beberapa lapak yang luas untuk menjual tas, pakaian, sepatu hingga perabotan dan juga makanan di sini. Selain itu mereka menjual rokok dan aneka minuman. Katanya sih harga lebih murah di negeri yang pernah bersatu dengan Slowakia itu. 

Saya beli beberapa barang, memang harganya jauh lebih murah. Penjual menerima mata uang Euro, meski harga yang tertera bisa dalam mata uang Euro atau Korona, mata uang Ceko. Semisal barang yang dijual di Jerman 8€, di sini bisa 5€ atau harga bensin juga lebih murah di sini. 

Di wilayah perbatasan yang dijadikan kawasan niaga ini juga, saya bertemu komunitas asal Vietnam yang menjadi penjual barang-barang di sini. Mereka para penjual asal Vietnam, menebak saya dari Filipina atau Thailand. Asyik main tebak-tebakan, karena salah saya minta mereka turunkan harga. 

Dua orang perempuan yang saya beli barang dagangannya menuturkan mereka tiba di situ kira-kira 15 tahun yang lalu. Dalam bertransaksi mereka lumayan fasih bahasa Jerman loh. Meski saya tidak cek, apakah mereka juga fasih bahasa lokal alias bahasa Ceko?

Pedagang siap menerima uang Euro. Saya bercengkerama sebentar karena pernah wisata ke Ho Chi Minh City, sementara mereka mengaku dari Vietnam Utara, dekat dengan Kota Hanoi. Bagaimana mereka bisa bertahan dan memutuskan tinggal di situ? Lagi-lagi sejarah masa lampau negara-negara tersebut.

Di perbatasan saya temukan juga wisata malam, cuma saya dan suami datang siang sehingga tidak menyaksikan bagaimana gemerlapnya tempat itu. Anda tahu ‘kan? Ada kasino, ada diskotik atau night club. 

Bertanyalah, Anda Akan Tahu!


Ketika suatu kali, saya mengikuti kuliah. Dosen saya, seorang ahli komunikasi mengatakan begini. “Banyak komunikasi yang dimulai dari asumsi.” Katakanlah, dia bahagia. Apa benar dia bahagia? Anda bisa berasumsi dari posting status dan foto di fesbuk. Atau anda bisa tahu dia bahagia karena anda kerap melihat dia tersenyum atau tertawa. Tetapi pernahkah anda bertanya, apakah dia sungguh-sungguh bahagia? Itulah komunikasi. 

Dalam hidup pemikiran kita lebih banyak dipenuhi asumsi ketimbang rasa ingin tahu. Kita malu bertanya. Kita tidak mau terkesan ‘bodoh’ juga kemudian memilih jadi ‘sok tahu’ daripada ‘pura-pura’ bodoh. Mengapa tidak memulai komunikasi dengan bertanya? 

Benar juga bahwa diperlukan pertanyaan tingkat tinggi untuk mendapatkan jawaban yang cerdas pula. Bahwa pertanyaan mengasah rasa ingin tahu bahkan pertanyaan yang menggelitik sesungguhnya tidak hanya mengarahkan anda pada kreativitas saja tetapi inovasi. Saya jadi ingat pengalaman dulu membantu dalam riset sosial, bahwa dasar dari riset adalah pertanyaan, sehingga saya jadi tahu.

Seorang tokoh negarawan, Bernard Baruch mengatakan semua orang pernah melihat apel jatuh dari pohon, tetapi hanya Newton yang mempertanyakannya. Dengan begitu kita mengenal hukum gravitasi. Awal dari teori adalah pertanyaan.

Daripada berteori tentang hidup, buatlah pertanyaan sehingga anda jadi tahu. Misal, mengapa saya harus kuliah di jurusan ini? Mengapa saya bekerja begini? Mengapa saya harus kehilangan kacamata saya? Mengapa saya harus bertemu dengan orang pemarah macam dia? Mengapa saya tidak suka berbicara dengan dia? Dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan yang disusun. 

Pada akhirnya, anda akan menemukan sisi yang selalu baik dan positif ketimbang penyesalan. 

Pepatah itu benar, lebih baik bertanya daripada sesat di jalan! Bertanyalah maka anda akan tahu! 

* Catatan secangkir cappucino di Kafe.

Seperti Apa Anda Dikenal Dari Ucapannya?


Ada pepatah berbahasa Jerman dari guru saya, “von deine Sprache, kenne Ich Dich” yang diterjemahkan bebas, “Dari ucapanmu, saya mengenalmu.”

Apa anda percaya bahwa orang akan menebak karakter anda hanya dari ucapan? Mungkin saja iya, misalnya anda bisa mendapati pasangan atau sahabat anda jujur atau berbohong hanya dari ucapannya. Atau, anda bisa mengetahui perangai seorang ‘playboy’ dari kalimat rayuan yang meluncur dari mulut pria itu. 

Mungkin saja tidak, bahwa kita tidak bisa menebak seperti apa karakternya hanya berdasarkan ucapannya. Itu betul, kita perlu analasia psikologi lebih dalam melalui berbagai tes kepribadian. 

Namun, siapa sangka bahwa hanya dari ucapan kita sudah bisa menebak seseorang misalnya, humoris, bijaksana, pemarah, ‘sok pintar’ atau sebenarnya dia memang pintar. Jadi ucapan yang terlontar sudah bisa menggambarkan seperti apa anda dikenal oleh orang sekitar anda.

Bahkan mereka yang mengenal anda bisa jadi rindu dengan aneka ucapan anda yang lucu, mengesankan atau membuat suasana menjadi menyenangkan. Atau ucapan anda bisa menenangkan, menginspirasi dan terdengar bijaksana. 

Namun ada pula dari ucapan, mereka yang mengenal anda tidak mengerti apa yang diucapkan. Ada? Tentu ada. Dulu saya punya teman saat rapat sering menggunakan bahasa yang tidak tepat, terlalu akademisi, sok gunakan kata yang kebarat-baratan atau politis. Alhasil kita yang mendengarkan tidak bisa paham apa yang  diucapkannya. Dan kita pun tidak bisa mengenal dengan baik seperti apa teman saya itu. 

Ada juga yang setiap berbicara di depan umum selalu mengesankan, menyenangkan dan menginspirasi. Banyak orang yang mengenalnya secara publik pun suka jika orang yang berbicara di depan umum itu berbicara. Ia bisa saja dibayar hanya karena ucapannya. 

Lain orang, lain pula ucapannya. Ada orang yang harus tampil di depan publik namun dia sebagai pembicara tidak mengerti ucapannya apalagi mereka yang mendengarkannya. 5 Menit pertama dia mengerti, orang yang mendengarkannya tidak. 5 Menit kedua dia dan orang yang mendengarkannya sama-sama tidak mengerti. Lucu ya!

Kembali ke topik, ucapan itu berasal dari pribadi anda. Jika anda tidak bisa memahami apa yang anda ucapkan, bagaimana dengan orang lain? Berbicaralah sebagaimana mereka memahami anda. Itu sudah.

Aneka Jajanan Festival Ala Bayerisch


(Festival ditutup dengan pesta kembang api, atau feuerwerk dalam bahasa Jerman)

Salah satu tanda musim panas adalah digelarnya aneka festival di berbagai kota. Karena udara yang mendukung dilakukan di alam terbuka (outdoor) dan lamanya matahari bersinar menyebabkan festival berlangsung meriah di biergarten. 

Kemarin adalah salah satu festival yang saya hadiri. Acara festival selama 3 hari berturut-turut. Saya tidak membicarakan festivalnya tetapi jajanan yang saya temukan di sini. Apa saja?

1. Crepes

(Ini crepes sudah terlanjur saya gigit. Tak apa ya?!)

Di Indonesia tersedia jajanan ini, demikian pula di sini. Saya pesan yang rasa nuttela dan pisang sebagai isian. Rasa lain adalah coklat atau selai strawberry. Harganya bervariasi dari 2€ hingga 4€. 

2. Bretzel dan Steckerlfisch

(Saya suka sekali Bretzel. Makan satu saja sudah berasa kenyang.)

Apa itu? Saya suka bretzel, semacam roti yang ditaburi garam. Jika di luar dikenal, Pretzel. Lalu ikan mackarel yang dibakar atau Steckerlfisch. Bretzel harga 2,5€ dan ikan bakar ini 7,5€. Jika di rumah saya di Jakarta, ikan bakar ini hanya sekitar Rp 16.000 per potong maka di sini berbeda harganya. 

3. Pommes, Lachssemmel dan wurst salat

(Jika suka sushi, silahkan mencoba makan ala burger dengan isian salmon baked. Enak dan sehat.)

(Salat sosis atau wurst salat diberi irisan bawang merah dengan kuah asam dan menyegarkan.)

Pommes adalah kentang goreng. Ada juga semacam hot dog, roti dengan sosis di dalam. Lalu saya membeli Lachssemmel yakni roti semmel yang di beri isi irisan salmon yang sudah dipanggang ditambah irisan bawang. Kisaran harga 10€.

4. Zwetschgenbavesen

(Ini seperti roti bantal menurut saya)

Hmm, menyebut jajanan ini susah buat lidah saya. Semacam kue yang diberi isian coklat atau mesis dan ditaburi gula. Semacam roti bantal kali ya. Rasa kue ini tentu manis. 

5. Ayam panggang, Salat Kentang dan Leberkasse

Bagi yang suka ayam panggang, boleh dicoba. Jika beli di sini harus setengah atau utuh. Makannya bisa dipilih dengan roti semmel atau bretzel atau salat kentang. Harga variatif sekitar 7,5€. Ada juga leberkasse dan salat kentang. 

6. Aneka manisan (kacang manis, permen, liebkuchenhertz, zuckerwatte)

Bagi anak-anak, booth ini selalu menarik karena ada manisan, coklat atau permen kapas dari gula (zuckerwatte). Ada juga kacang manis dan kue jahe berbentuk hati (liebkuchenhertz).

Demikian laporan kuliner festival yang saya coba. Semoga bermanfaat.