FICTION

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s