Untuk Jadi Pemimpin, Latih Dulu Komunikasi Anda!


Ada orang yang berjiwa pemimpin, meski dulu tak bermimpi jadi pemimpin. Lain lagi ada orang yang tidak menyangka jadi pemimpin karena kemampuannya sehingga ia terpilih. Kepemimpinan yang dimaksud di sini bukan diturunkan, namun bagaimana seorang pemimpin dipilih dan terpilih. Sesungguhnya kemampuan apa yang diperlukan oleh pemimpin? Salah satunya adalah komunikasi.

Bagaimana bisa mempengaruhi anak buah atau orang-orang yang dipimpinnya jika tak bisa berkomunikasi dengan baik? Komunikasi itu penting, tidak sekedar menyampaikan pembawa pesan saja. Tetapi komunikasi lebih pada pembawa perubahan. Jadi bila ada pemimpin memberikan dampak buruk, lihat saja bagaimana ia mengkomunikasikan segala sesuatunya. Apakah cukup jelas atau membawa masalah?

Ada pemimpin yang menyamaratakan komunikasi karena merasa ‘sok’ jadi pemimpin. Komunikasi itu tidak dipandang sebelah mata bahwa saya sebagai pemimpin dengan orang yang mendengarkan sebagai anak buah. Komunikasi seorang pemimpin, bukan ‘Dengarkan saya!’ tetapi ‘Mari duduk dan kita bicara bersama!’ Itu komunikasi seorang pemimpin.

Pemimpin harus paham saat berkomunikasi, bukan membangun jarak sehingga orang lain segan. Dia sebagai pemimpin tahu bahwa berkomunikasi adalah membangun kenyamanan sehingga tiada jarak. Ia tidak menyuruh bekerja tetapi ia sebagai pemimpin mengajak bekerja bersama-sama. Apa artinya? Ada komunikasi dua arah, bukan satu arah. 

Berkomunikasi ala pemimpin bukan pula serta merta tentang bagaimana teknik memberi instruksi. Namun seyogyanya pemimpin tahu bagaimana bersosialisasi, artinya ada interaksi. Ia tidak duduk dalam singgasana yang tidak terjangkau orang-orang yang dipimpinnya melainkan ia berada di tengah mereka yang dipimpin. 

Sebagai pemimpin berlakulah komunikasi yang punya rasa ‘ingin tahu’ ketimbang ‘sok tahu’ karena meskipun pemimpin itu pintar, ia perlu juga bertanya apa kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. 

Di era revolusi komunikasi sekarang ini, pemimpin perlu loh tahu bagaimana berkomunikasi yang bijak. Gunakan media sosial tidak hanya sekedar kekinian tetapi menginspirasi banyak orang. Itu baru namanya pemimpin. Ia tidak menggerutu kala tidak didengarkan namun ia membuka diri untuk mendengarkan. 

Sudah saatnya pemimpin bijak memanfaatkan berbagai saluran media komunikasi untuk menyuarakan hati orang-orang yang dipimpinnya. Ia bukan pemimpin yang berkeluh kesah lewat propaganda media. Ia berani karena piawai mengkomunikasikan kebutuhan orang-orang yang dipimpin. 

Advertisements