Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!


(Salah satu kasino perbatasan. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan.

Makan siang sudah tiba. Aku bertemu dengan seorang teman yang ajak makan siang bersama di restoran perbatasan. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan dengan rekan suamiku ini. Alasannya klise sih, teman ini suka pergi ke kasino. Halah! Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengenalnya. Siapa tahu aku bisa belajar darinya! Bukan belajar berjudi tetapi belajar tentang hidup menurut pandangannya.

Perbatasan Kamboja-Vietnam begitu panas terik siang itu, tambah terik lagi dengar obrolan suami dan rekannya yang tidak aku mengerti. Wajar karena mereka berbicara satu sama lain tentang aneka topik yang tidak aku mengerti. 

Ternyata aku salah menilai orang, rekan ini orangnya sangat baik dan murah hati. Ia membayarkan makanan yang terbilang cukup mahal karena si kasir melihat tampang kami turis sehingga ia cepat menyebutkan nominal total makanan yang dipesan tanpa berhitung panjang. Pikirku jangan-jangan semacam dipalak, dipaksa bayar. 

Rekan suamiku langsung berkata “Saya akan bayar semua. Ini uangnya!” serunya pada si kasir restoran. Kasir dengan girang menerima uang dan melanjutkan pesanan.

Tidak hanya karena ia sudah membayarkan makanan, teman ini juga mengajari arti kemenangan diri. Rasanya jiwaku yang kalah karena harus membayar makanan, langsung antusias ingin tahu. 

Kau tahu Anna. Saat kau masuk kasino, kau harus terlihat elegan dan berpenampilan rapi. Meski kau membawa uang banyak, namun penampilan itu utama agar kau bisa diterima,” katanya. Aku mendengarkan termangut-mangut. Pantas saja ya orang-orang dalam kasino terlihat elegan seperti film-film yang sering aku tonton.

Lanjutnya, “Aku bermain hanya sebatas hiburan, tidak lebih. Mereka yang sudah kecanduan adalah mereka yang menuntut lebih dari seharusnya.” Waduh apa pula?!

“Aku habiskan seratus ribu misalnya. Lalu aku dapatkan tujuh lima ribu. Ya sudah, aku selesai. Anggaplah itu cuma hiburan, tak lebih,” jelasnya sambil ia mengunyah makanan yang baru saja disajikan. Hmm, menarik juga ya.

Aku pun antusias bertanya “Apa kau tak ingin menang lalu menjadi kaya?” Aku bertanya menyelidiki, sementara suamiku menyenggol kaki di bawah, memberi kode agar aku berhenti bertanya.

Rekan ini malah tertawa. Suamiku yang sungkan ikut tertawa setelah menyenggol kakiku. 

“Anna, itu dua hal yang berbeda. Kaya dan menang,” jawabnya. “Jika kau ingin menang, kau harus punya rasa cukup dan bersyukur. Itu menang namanya. Seberapa pun kau dapat, ambil dan pergi. Jangan menuntut lebih! Kau pasti tidak akan menang jika menginginkan lebih dari yang kau dapat.” Dia menjelaskan panjang lebar arti kemenangan sesungguhnya. Kemenangan itu tidak pernah abadi.

Kebanyakan orang setelah menang bertaruh, mereka ingin coba lagi, lagi dan lagi. Mereka berpikir kurang dan ingin lebih. Akhirnya mereka pulang dengan kekalahan karena candu. Ingin punya rasa menang sebaiknya bersyukur dan cukup menerima yang sudah didapat. Jangan mengambil berlebihan. Itu sih makna yang aku dapat dari rekanku ini. 

Aku bahkan tidak menikmati sajian makan siang khas Indocina ini dan memilih menikmati obrolan dari pendapat teman yang baru aku kenal. 

“So kaya? Siapa pun ingin kaya! Begitu ‘kan Anna?” tanyanya dan aku pun mengangguk. Sementara suamiku menjelaskan bahwa terkadang orang mencari cara instan untuk datang ke kasino misalnya untuk mendapatkan kekayaan.

“Tidak. Itu salah jika mereka datang mencari kekayaan di sana. Itu hanya hiburan,” jelasnya pada suamiku. 

“Kaya adalah pola pikir. Jika kau merasa kaya, kau akan merasa cukup dan bersyukur. Menjadi kaya bukan melakukan cara agar disebut kaya. Kau bisa membeli tas harga ratusan Dollar agar disebut kaya namun apalah artinya jika di dalam tas kau hanya punya tiga Dollar. Lebih baik kau punya tas harga tiga Dollar tetapi di dalam tas kau punya ratusan Dollar.” Aku dan suami mengangguk-angguk dan memperhatikan orang di hadapan kami seperti seorang yang memberikan pencerahan. Padahal awalnya aku menolak bertemu dengannya karena ia suka pergi ke kasino.

Siang yang terik ini aku jadi menikmati obrolan yang semula kupikir membosankan. Ternyata aku salah. 

Banyak orang tak pernah puas saat mendapatkan apa yang mereka inginkan, akhirnya mereka “kekurangan” dan tak pernah menang malahan. Lagi-lagi bersyukur dan merasa cukup atas apa yang dimiliki. 

Jangan pula mencari cara untuk kaya dengan cara instan! Kau tidak akan pernah mendapatkannya. Mengapa? Kemenangan dan kekayaan tiada yang abadi. Tetapi rasa syukur dan cukup itu yang utama dalam hidup sehingga merasa menang. 

Jika dalam pertandingan, kau tidak menjadi juara, kau tetap menang karena kau sudah cukup ambil bagian jadi peserta dan bersyukur bertemu dengan Sang Juara. Kalah menang, kaya miskin itu semua hanya pola pikir. Seberapa pun harta yang dimiliki, jika kau merasa puas dan bersyukur maka berpikirlah kaya.

Pencerahan tidak melulu dari seorang Maha Guru. Dari seorang yang semula tidak aku sukai karena sering pergi ke kasino, ternyata aku belajar arti kemenangan dan kekayaan.

Advertisements