Iri. Cemburu. Tidak suka. Perasaan yang kerap muncul kala melihat orang lain lebih daripada diri sendiri. Tetapi mengapa harus membenci?

Ketika saya membaca pengalaman hidup Bunda Teresa dari Kalkuta, India maka saya memahami mengapa timbul benci. Kebencian terjadi ketika kita tidak pernah memberi kesempatan untuk menerima dan mencintai orang yang dibenci. Terkadang kebencian itu pun tidak logis, tidak masuk akal. Padahal kita sama-sama punya kesempatan untuk membenci atau menyayangi orang lain. Tetapi mengapa memilih untuk membenci?

Akar kebencian bermula ketika kita merasa benar dan superior terhadap orang yang dibenci. Mereka yang dibenci selalu dianggap salah dan tidak pernah benar. Apa yang dilakukan di mata si pembenci tak pernah benar. Begitu ya?

Hal yang lebih parah kebencian bahkan mampu mempengaruhi orang lain untuk turut membenci. Menurut guru spiritual kebencian yang demikian sudah tidak wajar lagi. Ia menghalalkan segala cara agar orang lain juga turut dalam komunitas pembenci.

“Ini seperti luka batin yang tak terobati karena kebencian” kata guru yang bijak ini. Bayangkan bahwa kebencian akan menghabiskan seluruh energi sehingga kita menghasilkan karakter negatif. Apa itu? Suka marah-marah, fitnah, memukul atau mencaci dan masih banyak lagi kebencian yang mengarah pada bahaya keselamatan.

So ketimbang membenci, beri ruang untuk mendengar, melihat dan menerima kehadiran orang yang dibenci. Dengar dan terima mereka! Ternyata bisa jadi anda yang membenci salah selama ini.

Ingatlah bahwa kebencian anda tidak akan mengubah dunia menjadi seperti yang anda inginkan.

Menyimpan kebencian juga tidak akan mengubah hidup seperti yang anda inginkan. Hal yang anda butuhkan menerima dan menyayangi semua yang Tuhan ciptakan agar hidup lebih indah.

Kesimpulan

Kebencian tidak akan membuat hidup anda menjadi indah. Jadi buat apa membuang energi untuk membenci?