PSYCHOLOGY

Ada Kala Menyerah Juga Perlu. Simak Alasannya!

Bermimpi besar memang tak salah. Bisa jadi salah jika anda terlalu menghabiskan energi hanya untuk tujuan yang tak tercapai. Jika satu pintu tertutup, masih ada jendela yang tetap terbuka.

Ketika saya sedang membuat mini pizza, teman saya yang jauh di sana bercerita lewat whatsapp bahwa impiannya akhirnya dihentikan. Loh kenapa? Setelah tujuh kali mencoba melamar kerja sebagai PNS, akhirnya ia berhenti dan memutuskan tidak mencoba lagi di tahun ini. Dia memang masih ada kesempatan, belum ada batas umur. Menurut saya menjadi pegawai swasta juga sama baiknya dengan PNS. 

Teman yang lain ada juga punya pengalaman serupa. Ayahnya adalah seorang polisi. Ayahnya ingin anaknya, yang adalah teman saya, menjadi polisi suatu saat nanti. Dia mencoba lima kali tes, gagal terus. Pekerjaannya sekarang jadi satpam bank. Tak apa tidak menjadi polisi, setidaknya satpam juga sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Kata saya sambil berkelakar.

Menyimak kisah dua teman saya, mungkin anda dan juga saya pernah mentok dan mengalami putus asa setelah mencoba beberapa kali. Artinya percobaan yang anda lakukan lebih dari sekali. Ketika kita mulai menyerah, seseorang yang bijak kemudian mengkaitkan pengalaman kita dengan percobaan Thomas Alva Edison yang melakukannya ribuan kali untuk satu penemuan. Namun lagi-lagi kita dan anda juga bukan penemu. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Jurnal Psychology Today mengatakan ketekunan dan kegigihan memang diperlukan untuk meraih impian. Sejak kecil kita sudah ditanamkan pesan moral untuk tidak mudah menyerah. Namun apa daya bila tujuan yang kita capai tidak bisa diraih? Karena bisa saja kegigihan mengejar sesuatu bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Itu kata Psikolog loh.

Alasannya sederhana, saat kita fokus pada satu hal terkadang kita melupakan hal lain yang justru sama baik dengan tujuan kita. Kita cenderung menghabiskan energi untuk meraih tujuan itu namun melupakan kemampuan kita sendiri. 

Saya masih ingat pesan baik ibu saya saat ingin meraih impian saya. “Anna, ibaratnya tubuhmu hanya sanggup membawa beban 10 kilo. Namun kau memaksakan diri untuk membawa beban itu 100 kilo. Apa mungkin?” Dari situ saya bercermin bahwa jangan sampai kita larut pada satu tujuan, lalu melupakan kemampuan atau keterbatasan kita.

Ada saat kita perlu menunggu waktu yang tepat dan belajar dari pengalaman agar bisa meraih impian. Jadi menyerah itu perlu juga. Mengapa? Agar kita tidak depresi dan menjadi tetap waras. Ini kata Psikolog juga loh. Sabar itu juga kuncinya.

Apa iya? Banyak kasus ditemukan misalnya orang menjadi tidak waras setelah gagal bertarung jadi kepala daerah. Itu contoh yang mungkin bisa ditemukan dalam berita. Atau ada orang menjadi depresi ketika tujuannya tak tercapai.

So, mengapa kita sekali waktu perlu menyerah? Bermimpi itu perlu. Namun jangan habiskan energi hanya untuk itu. Turunkan standar anda. Ingat di saat satu pintu tertutup, masih banyak jendela terbuka.

Moral of story is… bijaklah dalam menjalani hidup. Investasikan energi anda untuk hal lain yang juga sama baiknya. Ingat juga, tiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Semua baik adanya.

Semoga bermanfaat😁

Advertisements

Categories: PSYCHOLOGY

Tagged as: , , ,

11 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.