Sebelum lanjut membaca, pertanyaannya apakah anda membeli suatu produk karena merek yang diiklankan atau kualitas produk? Sebelumnya baca juga ulasan saya tentang kekuatan branding di sini. Bahwa alasan orang memilih produk, salah satunya adalah pengaruh iklan.

Iklan kerap dijadikan perusahaan untuk melakukan pencitraan produk. Misalnya nih, saat di Jerman saya ingin membeli hape baru. Si sales menawarkan dua produk HAPE A atau HAPE B. Kedua hape dengan tipe xx memiliki spesifikasi yang sama baik HAPE A atau HAPE B. Harganya tentu berbeda, HAPE A lebih mahal. Saya tertarik HAPE A bukan karena harganya, namun percaya pada iklan yang berulang-ulang di media.

Lalu sales hape berpendapat kedua hape yang ditawarkan punya spesifikasi yang kurang lebih mirip. Namun HAPE B memang tidak menggunakan iklan terlalu banyak untuk ‘menjual’ produknya. Ini sebab harga HAPE B tidak begitu mahal. Dari situ saya paham bahwa terkadang saya masih terpengaruh iklan untuk membeli produk. Dan ternyata biaya iklan juga dipertimbangkan suatu perusahaan sehingga harganya pun diperhitungkan lebih mahal, ketimbang produk yang jarang atau tak pernah beriklan.

Perusahaan yang menampilkan produk lewat berbagai iklan di media massa percaya bahwa iklan produk menjanjikan merek daripada kondisi produk. Menurut para ahli ini disebut ‘Brand Promise‘ kepada konsumen sebagai kampanye pemasaran. Iklan menawarkan janji dengan memusatkan pada kekuatan dopamin. Dopamin diyakini sebagai bahan kimia yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian yang menggiring keputusan seseorang.

Siapa sih yang tidak tergiur oleh janji? Naluri manusia saat dijanjikan tentu langsung bahagia. Iklan membangun kesenangan pada anda sehingga kita mempercayainya. Ingat saja jika ada pria menjanjikan untuk menikahi seorang perempuan, otomatis perempuan itu percaya pada si pria. Ini sekedar contoh. Jadi ingat juga janji politik para politisi, toh kita pun mempercayainya. Lagi-lagi ini contoh betapa kuatnya janji sehingga percaya kemudian memutuskan.

Intinya:

Kembali ke soal produk iklan, ulasan para ahli berpendapat sebaiknya perusahaan meningkatkan kualitas produk ketimbang kuantitas iklan.

Kini keterbukaan orang berpendapat sebagai blogger misalnya mereka bisa menuliskan hasil pengalaman menggunakan produk yang berkualitas. Bukankah ini bisa menjadi kampanye pemasaran yang baik bahkan lebih murah?

Semoga setelah ini ada yang menawari saya menulis advertorial produk­čśÄ Ini tipsnya jika mau mencoba.

Ada pendapat?