OPINION

Masih Perlukah Menonton Film Sebagai Media Pengajaran?

Ilustrasi.

Dalam dunia perkuliahan tak lengkap pengajaran tanpa menyaksikan film, hal ini menjadi salah satu bentuk teaching aid. Film juga digunakan guru/dosen/mentor/trainer sebagai bagian dari visual context yang dimunculkan agar peserta didik bisa memahami maksud pembelajaran yang seharusnya. Kita ingin membuat pembelajaran melandasi perilaku juga ‘kan.

Saya pernah menjadi siswa dan merasakan betul asyiknya menonton film yang berkaitan dengan materi belajar. Saya juga pernah ditempatkan menjadi posisi mentor/trainer dimana harus meriset beberapa film agar relevan dengan tema pengajaran. Dengan begitu saat film ditayangkan, saya bisa rehat sejenak di kelas dan mengobservasi peserta didik.

Film menjadi menarik atau tidak sebagai alat bantu belajar harus diperhatikan dari dua sisi, kelebihan dan kekurangan. Tak jarang peserta didik diajak untuk mendiskusikan film yang ditontonnya lalu dikaitkan dengan materi pengajaran. Namun terkadang menonton film menjadi membosankan bagi peserta didik. Lalu kira-kira apakah masih relevan di masa kini?

Kelebihan menonton film di kelas:

  • Menghadirkan visual pembelajaran yang menarik ketimbang ceramah dan teori.

Sebagai pengajar rasanya sulit tanpa menghadirkan tayangan visual agar peserta didik bisa mencerna yang dimaksud. Berbicara teori misalnya tentang komunikasi tidak akan mudah dipahami tanpa dipraktikkan. Praktik yang sesungguhnya bisa ditemukan dalam dunia nyata yang mudah tergambar dalam film. Oleh karena itu pengajar harus sudah mempersiapkan dan meriset film apa yang cocok dan tepat sesuai tema? 

  • Membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan aktif.

Setelah dikatakan bahwa akan ada sesi menonton film, serempak seluruh kelas berwajah ceria dan bersemangat. Mengapa? Manusia pada dasarnya adalah makhluk visual. Mereka menyenangi hal-hal yang mudah dilihat dan diamati untuk dipelajari, ketimbang anda menjelaskannya berulang-ulang. Alhasil suasana kelas yang semula sepi dan pasif menjadi lebih hidup ketika film diputar. 

  • Alat bantu belajar yang menyenangkan dan menarik peserta didik.

“Diskusikan apa yang dialami tokoh dalam film tersebut!” Tentu instruksi pengerjaan ini lebih memudahkan peserta didik untuk menjawab daripada meminta mereka berdiskusi suatu fenomena sosial yang hanya menjadi imajinasi. Tak jarang film lebih mudah diingat dalam pemikiran dibandingkan berbagai teori yang diceramahkan kepada peserta didik. Ini tentu memudahkan untuk mengajari sesuatu ketimbang menjelaskan dengan bahasa lisan.

  • Mengambil sisi tambahan atau yang berbeda dari tema pembelajaran.

Tak semua orang menyukai pengajaran baik melalui tulisan maupun lisan. Namun film pastinya disukai untuk disimak karena orang punya kecenderungan ingin tahu dan suka mengamati. Melalui film, peserta didik yang dijadikan penonton diharapkan mengambil sisi tambahan dan pastinya hal positif yang tidak ditemukan dalam pengajaran. Mengapa? Film memberikan situasi yang nyata dan realita tersebut lebih diterima ketimbang masih teori tertulis atau penjelasan lisan.

    Kekurangan yang mungkin terjadi setelah menonton film di kelas:

    • Peserta didik menjadi kurang fokus

    Siapa bisa menebak seratus persen peserta didik akan benar-benar menyimak film yang disajikan? Ketika dikatakan ‘Kita akan menonton film’ maka sebagian senang dan sebagian lagi bisa jadi melakukan hal lain diluar pembelajaran seperti pergi ke toilet, mengobrol dengan temannya, menerima telpon di luar kelas, dan hal lain. Oleh karena itu saat menonton film, pengajar tidak berarti juga berhenti sejenak. Namun ini bisa dijadikan untuk mengamati peserta didik. 

    • Menjadi tidak serius 

    Tergantung bagaimana anda menemukan film yang sesuai dengan tema pembelajaran. Terkadang demi menyelipkan aktivitas menonton sehingga suasana kelas menjadi menyenangkan, si pengajar/mentor/dosen lupa apakah film ini benar-benar sesuai dengan tema pembelajaran. Kekuatan meriset film yang sesuai juga diperlukan. Selain itu, saat menonton sebagian peserta didik masih tidak serius terhadap sajian tayangan, masih menganggap hiburan semata. Ada baiknya film sudah ditonton terlebih dulu dan diketahui alur ceritanya, lalu dipertimbangkan lagi apakah sesuai dengan pembelajaran? Namun jika punya keterampilan membuat video alangkah baik video bisa dibuat dan disesuaikan dengan kondisi pembelajaran.

    • Terlalu bertele-tele dan membosankan

      10-15 menit adalah durasi perhatian peserta didik menyimak film di kelas. Jika lebih akan membuat bosan. Jika ingin menyajikan film yang panjang namun bermutu, bisa meminta untuk dijadikan bahan tontonan diluar kelas atau jadi PR. Tayangan film yang panjang dan durasi yang bertele-tele sesungguhnya menyita waktu pembelajaran juga. 

      Berdasarkan uraian di atas, film masih dirasa perlu sebagai media pembelajaran bila relevan dengan tema, direct atau tidak bertele-tele, durasi yang cukup pendek dan diakhiri dengan diskusi seputar film tersebut. Demikian sekedar berbagi. Ada tanggapan?😁

      Advertisements

      Categories: OPINION

      Tagged as: , , ,

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

      w

      Connecting to %s

      This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.