ALL ABOUT DEUTSCHLAND

666 Angka Sial, Takhayul?

Ilustrasi. 

Hari ini adalah Jumat, 13 Oktober 2017. Sebagian ada yang beranggapan angka 13 merupakan angka ketidakberuntungan. Mereka yang percaya itu mengkaitkan angka 13 sebagai pembawa petaka. Konon pada malam kamis, sebelum Jumat tanggal 13 menjadi malam menyeramkan. Benarkah itu? Kini saya menuliskan pengalaman yang berhubungan dengan angka lain yakni triple 6 atau 666. 

Ada yang tahu mengapa angka 666 disebut angka sial atau membawa ketidakberuntungan? Informasi ini saya dapat dari teman sebaya saat masih bersekolah dulu di Indonesia. Kata teman saya, hindari angka 666 meski saat saya tanya alasannya, teman saya tidak bisa menjawab.

Apakah ini takhayul juga? Boleh percaya boleh juga tidak percaya.

Suatu kali, saya berbelanja di sebuah toko sovenir di Jerman, saya dapat coklat sebatang. Saya katakan bahwa saya tidak mengambil coklat ini tetapi kasir yang sudah terlihat sepuh itu memaksa saya menerimanya. Lalu tiba-tiba pemuda Jerman yang lain, sepertinya anak dari si Kasir mengatakan bahwa saya membayar total belanja 66,6€ sehingga coklat ini sebagai hadiah. Ini semacam keberuntungan atau membuang kesialan ya? Saya tidak paham. Jelasnya saya dapat coklat karena berbelanja dengan jumlah tepat 66,6€. 

Tidak semua orang Jerman paham tentang takhayul bahwa angka 666 membawa ketidakberuntungan. Saya bertanya kepada orang Jerman, sebagian malahan mentertawakan kejadian saya dapat coklat karena berbelanja 66,6€. Mari kita selidiki alasannya!

Dari literartur diceritakan angka 666 dipercaya orang Kristen kuno sebagai lambang anti kristus. Ini dikenal dengan phobia ‘Hexakosioihexekontahexaphobia’ yang berarti ketakutan pada angka 666. Jika merujuk dalam Alkitab di bab Wahyu, Santo Yohanes menunjuk pada 666 sebagai “jumlah binatang” yang ditafsirkan sebagai Anti Kristus pada akhir jaman. Jumlah tersebut merupakan tanda iblis. Boleh percaya boleh juga tidak percaya. Namanya Takhayul.

Berdasarkan pengalaman saya membeli dengan jumlah 66,6€, tidak ada unsur kesengajaan bahwa saya berbelanja dengan nominal segitu. Jika coklat jadi bala untuk membuang ketidakberuntungan, terima saja! Bahwa keberuntungan atau ketidakberuntungan kembali diserahkan pada kekuasaan Tuhan semata. 

Ada pendapat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s