Kendalikan Sampah Plastik, Cara Jerman Bisa Ditiru

Posted on October 21, 2017

9



Salah satu botol air minum kemasan plastik dibeli di Austria.

Botol kemasan plastik lainnya di Austria. Tidak ada logo bisa diuangkan hanya logo bisa didaur-ulang dan peringatan membuang sampah pada tempatnya.

Di Italia pun sama, tidak ada logo untuk diuangkan kembali. 

Botol minum kemasan plastik yang dijual di Italia.


Contoh pengelolaan sampah di kota Roma.

Tempat deposit botol plastik di Jerman atau dikenal Pfandautomat.

Kebiasaan minum air putih buat saya adalah hal wajar, termasuk ketika tinggal di Jerman. Saya pernah menuliskan bahwa penyajian air mineral tak bersoda bukan hal umum di restoran seperti yang saya ceritakan di sini. Saya juga tidak terlalu suka minuman bersoda. Stok minuman air mineral banyak di rumah. Karena air mineral dikemas dalam botol plastik plus bisa diuangkan kembali maka saya suka mengumpulkannya untuk membeli air minum lagi. Tentang cara mendapatkan uang dari botol plastik sudah saya jelaskan sebelumnya.

Nah, bagaimana dengan negara Eropa lainnya? Apakah sama seperti di Jerman dalam pemberlakuan botol plastik?

Ternyata tidak. Berdasarkan kunjungan saya di beberapa negara, sebut saja Austria yang bertetangga dengan Jerman pun botol kemasan plastik tidak ada kode yang menunjukkan bisa diuangkan kembali. Begitu pun dengan negara lainnya. 

Di tiap supermarket di Jerman pasti ada pfandautomat untuk menukarkan botol plastik dan mendapatkan uang kembali 1 botol 0,25€. Botol plastik yang dikeluarkan dari perusahaan air mineral di Jerman tentunya. Suatu kali saya tidak tahu dan memasukkan botol plastik yang beli di Austria, ternyata mesin Pfandautomat tidak mau terima. Artinya memang ada ketentuannya ya, hanya berlaku di Jerman.

Sebenarnya tidak hanya botol kemasan plastik saja, orang Jerman lain yang suka minum air mineral bersoda dengan botol gelas pun dapat menguangkan kembali botol-botolnya. Setiap botol memiliki warna, ada yang bening gelas, coklat, hijau yang saya ketahui dan memiliki tempat sampah tersendiri. Anda tidak bisa membuang sembarangan saat tinggal di Jerman bila ingin membuang botol obat berwarna coklat atau botol bir warna hijau misalnya. (Lihat gambar di bawah!)

Ini tempat membuang botol bekas, masukkan sesuai warna.

Kembali ke soal sampah plastik, Jerman begitu perhatian terhadap limbah plastik. Riset membuktikan bahwa sampah plastik ternyata sudah mencemari laut dan habitatnya. Bagaimana satwa di laut bisa terus berkembang jika sampah seperti plastik begitu sulit untuk dikendalikan. Pengedalian yang terutama adalah soal botol plastik kemasan air mineral itu. Mendapatkan uang deposit kembali menarik orang untuk mengumpulkan botol yang sudah tidak digunakan untuk dimanfaatkan kembali. Cara yang jitu.

Anyway soal plastik, saat anda berbelanja di supermarket pun di Jerman anda harus membayar kantong termasuk kantong plastik. Jika tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk kantong, sebaiknya anda membawa tas belanjaan sendiri. Aturan penggunaan kantong belanja saja sudah menunjukkan pengendalian lajunya distribusi plastik. Ini juga cara yang luar biasa sehingga saya pun menyimpan kantong-kantong plastik di mobil agar bisa digunakan berkali-kali untuk berbelanja.

Mengapa kita perlu mengendalikan laju sampah plastik?

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa berdasarkan riset, sampah plastik setiap tahun lebih dari 8 juta ton plastik berakhir di lautan. Tentu ini bukan berita baik manakala bencana akan datang pada satwa laut dan mungkin pariwisata bila laju plastik tidak dikendalikan.

Dalam rilis pers dikatakan Indonesia adalah satu dari 10 negara yang setuju memerangi sampah plastik yang diputuskan pada World Ocean Summit. Konferensi tingkat dunia tersebut bertempat di Bali pada Februari 2017 lalu dan diselenggarakan PBB. Dengan kampanye #CleanSees berharap laut tidak lagi tercemar polusinya seperti sampah plastik. 

Rupanya memang mengendalikan laju plastik diperlukan komitmen tidak hanya masyarakat saja namun pemerintah juga. 

Ada pendapat?

Advertisements