Thailand Setahun Lalu Kala Sang Raja Wafat

Posted on October 26, 2017

15



Jalan utama kota Bangkok setahun lalu.

Semua berkabung dan mengenakan pakaian hitam. Tampak kejauhan adalah Grand Palace.

Ribuan pelayat berpakaian hitam dan berpayung melewati pemeriksaan.

Kami mendadak transit di Bangkok. Wah, lumayan bisa jalan-jalan dulu sementara  dan melanjutkan penerbangan keesokan harinya. Agar dapat berwisata dengan jarak terdekat, kami memilih menginap di area Khao San Road, di pusat kota Bangkok. Bergegas kami menuju ke sana dan mencari penginapan ala kadarnya karena tidak booking hotel sebelumnya. Puji Tuhan, hotel sudah saya dapatkan mengingat saya sudah sering ke Bangkok. Dengan wajah yang ramah, saya meminta staf hotel untuk mengijinkan saya menginap karena staf hotel masih mengingat saya dengan baik beberapa tahun lalu.

Setelah tiba di hotel, kami mencari makan malam di Khao San Road, kawasan yang tak pernah sepi dari turis. Phad Thai Nodles jadi pilihan karena terlihat begitu banyak orang yang memesan. Banyak turis duduk dan merayakan kebersamaan di bar, kafe, pub dan beberapa restoran. Sementara banyak juga yang terlihat memadati pedagang kaki lima membeli makan malam.

Phad Thai Nodles sebagai street food.

Khao San Road yang tak pernah sepi.

Phad Thai Nodles ini semacam mie yang terbuat dari beras dan mie kuning yang dicampur kemudian dimasak layaknya bakmi goreng. Di dalam isian ada campuran sayuran seperti sawi hijau, wortel dan kol yang diiris. Selain sayuran si pedagang menambahkan telur, udang dan irisan cumi. Sebagai topping akhir, pedagang memberikan kacang goreng. Bagaimana rasanya? Saya pikir rasanya tidak terlalu lezat namun cukup untuk membuat perut tidak lapar malam itu.

Saya melihat mayoritas orang di sana mengenakan pakaian hitam. Benar bahwa saat kami datang, Thailand sedang berduka karena Sang Raja wafat. Untung kami membawa pakaian hitam, sepertinya besok saat jalan-jalan kami pun akan mengenakan pakaian yang sama. Si pedagang memperhatikan tampilan kami yang memang tidak mengenakan pakaian hitam karena kami sebenarnya hanya transit sebentar di Bangkok. Lalu dia menunjuk begitu banyak pedagang kaki lima lain yang masih berjualan pakaian berwarna hitam, letaknya tak jauh dari kami. Saya pun menjelaskan kepadanya dalam bahasa Inggris bahwa kami juga bawa pakaian hitam hanya kami baru saja tiba dari negara lain.

Keesokan pagi, tampak jalan-jalan utama di Bangkok dipenuhi banyak orang berpakaian hitam. Kami bergegas pergi menuju Wat Pho yang letaknya bersebelahan dengan Grand Palace, tempat raja disemayamkan. Ribuan orang bahkan mungkin jutaan orang memadati jalan utama ini, apalagi jalan ini ditutup untuk kendaraan. Kami hanya berjalan tak jauh dari kawasan Khao San Road. Untuk bisa datang ke Grand Palace, tiap orang harus melewati pemeriksaan keamanan dan tentunya untuk turis harus menunjukkan identitas paspor.

Sepanjang jalan utama ini, beberapa tenda menawarkan minuman dan makanan gratis bagi rakyat Thailand yang sedang berkabung dan datang untuk melayat. Salut saya terhadap antusias warga di sana, mereka rela berpanas-panasan, antri dan datang dari seluruh Thailand untuk memberi penghormatan terakhir pada Sang Raja. Raut kesedihan masih tampak pada wajah mereka. Kesedihan memang terasa untuk semua rakyat Thailand. Televisi di hotel juga memperlihatkan semua tayangan berwarna hitam putih. Beberapa kali informasi kedukaan ditayangkan di televisi.

Begitulah pengalaman setahun lalu kala Sang Raja Thailand wafat.

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: TRAVELING