Penang, Malaysia: Ritual Menjelang Kremasi ala Tionghoa

Posted on November 8, 2017

0



Dipimpin oleh seorang Biksu, bersembahyang sebelum dilakukan upacara kremasi.

Menjelang upacara kremasi.



Cerita traveling masih seksi, meski kunjungan ke Penang sudah lama. Saya ceritakan kembali karena berkaitan dengan artikel tradisi Allerheiligen di Jerman. Tiap tempat ada budaya dan tradisinya masing-masing. Tugas saya sebagai pendatang mengamati dan berbagi pengalaman, termasuk upacara kremasi menurut tata cara Tionghoa.

Di Penang saya berkenalan dengan seorang teman asal Jerman. Dia sudah lebih dulu tinggal di Penang sebagai turis. Karena saya tidak bisa menuju ke Hat Yai, Thailand dikarenakan tiket mini van habis saat lebaran maka saya pun bingung, tak ada agenda yang bisa dilakukan di Penang. Teman saya, orang Jerman ini kemudian membawa saya berkeliling kota Penang, termasuk menemani dia mendokumentasikan upacara menjelang kremasi yang kebetulan dekat dengan hostel, tempat menginap.

Hotel kami memang berada di pusat kota tua Penang yang juga paling banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Teman saya rupanya tertarik untuk datang ke upacara kremasi. Bagi saya ini menjadi menarik juga karena saya belum pernah melihatnya di Indonesia. 

Kerabat yang datang bersembahyang dan memasang dupa untuk mendoakan jenazah. 

Upacara simbol pembakaran di depan rumah kedukaan.

Saya dan beberapa turis ikut serta, tampak berbaju putih dan baju merah adalah turis dari Belanda.

Ini upacara menjelang kremasi sebagai simbol kepada Dewa Api. Api terus menyala dan dipantau beberapa orang agar nyala api tetap terkendali.

Keesokan hari persiapan di rumah kedukaan  sebelum dilakukan kremasi.

Mengapa dilakukan kremasi? Itu pertanyaan saya dan teman saya pada salah seorang yang berada di sana dalam bahasa Inggris. Kremasi adalah keyakinan mereka dan juga atas permintaan si almahurm. Sebelum dilakukan kremasi, jenazah masih disimpan di rumah kedukaan untuk memberikan kesempatan penghormatan terakhir kepada kerabat dan sanak saudara. 

Karena acaranya sudah sore menjelang malam hari, tak banyak yang bisa saya amati selain saya ingin tetap menghormati keluarga yang kedukaan. Tampak di rumah duka, ada seorang Biksu memasang dupa dan bersembahyang. Semua orang tampak bersembahyang bagi jenazah yang akan dikremasi. Beberapa turis tampak mengamati dan mendokumentasikan upacara ini, termasuk saya dan turis dari Eropa. 

Setelah bersembahyang, di depan sekitar jalan yang sepi, dekat dengan rumah duka dilakukan pembakaran pernak-pernik yang semuanya berwarna emas. Saya tidak tahu itu apa. Seorang bapak juga meminta kami ikut serta menaburkan pernak-pernik ini untuk dibakar. Sayangnya beliau tak bisa berbahasa Inggris atau Melayu sehingga saya tidak tahu apa maknanya. Namun ini bukan pembakaran jenazah yang dimaksud. Katanya ini simbol sembahyang kepada Dewa Api yang akan melindungi krematorium.

Keeksokan harinya baru dilakukan upacara kremasi. Namun saya tidak ikut serta upacara tersebut, hanya menyaksikan di rumah duka persiapannya. 

Begitulah tradisi pemakaman yang saya ketahui. Saya ingat teman kerja saya dulu di Jakarta, dia seorang Katolik namun sebelum beliau meninggal meminta agar dikremasi. Dia divonis kanker dan sudah memberikan mandat terakhir menjelang ajalnya. Tetapi memang tidak ada upacara seperti di atas. Hanya misa pemberkatan jenazah dan selanjutnya kremasi. Ternyata kremasi tidak melulu soal kepercayaan, ada juga pilihan jika sudah diamanatkan sebelumnya.

Selalu ada pengalaman menarik dari traveling, itu yang saya petik ketika saya kehabisan tiket mini van menuju Thailand. Saya pun jadi mengeksplorasi kota Penang sesaat. 

Baca https://liwunfamily.com/2015/01/28/berkunjung-ke-pulau-pinang-penang-malaysia/

Apakah anda punya pengalaman serupa? 

Advertisements
Posted in: TRAVELING