Saya tidak merokok, tetapi saya suka mengamati perilaku dan iklan rokok. Di Jerman ternyata sulit menemukan iklan rokok di televisi. Anda juga tidak menemukan iklan rokok di internet dan majalah. Saya mengamati itu hingga sekarang.

Namun nyatanya jika anda di Jerman maka anda masih menemukan iklan rokok bertebaran di luar atau bioskop. Iklan rokok biasanya memiliki personifikasi sebagai gaya hidup kekinian. Sosok yang dijadikan model dalam iklan rokok bahkan bisa menjadi idola bagi remaja. Ini tentu mempengaruhi remaja untuk memodeling perilaku hanya karena citra diri dari model.

Di tahun 2016, Jerman mengeluarkan aturan bahwa lima puluh persen dari kemasan rokok harus berisi peringatan bahaya merokok. Pada akhirnya sebagaimana yang pernah saya tulis, visualisasi menyeramkan di kemasan rokok berdampak pada penurunan penjualan rokok. Ini dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi bahaya rokok dengan memasang informasi peringatan dalam porsi kemasan rokok yang cukup besar.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/02/apakah-ada-hubungan-sampul-rokok-terhadap-perilaku-merokok/

Di tahun 2013 Jerman juga sudah mulai melarang kampanye penjualan rokok untuk remaja. Remaja dan orang muda biasanya merupakan target potensial untuk penjualan rokok. Bagaimana pun masa remaja adalah masa pencarian jati diri sedangkan iklan rokok dipersonifikasi sebagai sosok yang keren. Bagi remaja, iklan ini mudah diterima sehingga merokok bisa menjadi gaya hidup mereka. Sudah beberapa tahun belakangan ini, kampanye iklan rokok untuk remaja di Jerman dilarang.

Kebijakan pemerintah Jerman tidak hanya pada iklan saja, namun juga pengecekan penjualan rokok untuk remaja. Untuk membuktikan itu, saya mengamati bagaimana kasir supermarket mengontrol pembeli rokok saat suatu kali saat saya berbelanja di situ. Di depan antrian saya berdiri tampak dua perempuan remaja. Saya menebak mereka masih remaja karena gaya pakaian mereka plus konten bahasa yang mereka ucapkan pun bahasa slank.

Untuk mendapatkan rokok di supermarket, biasanya diletakkan di sekitar kasir. Salah satu dari remaja tersebut meminta pada kasir sebungkus rokok. Tak mudah bagi kasir untuk memenuhi permintaan mereka. Kasir pun meminta mereka menunjukkan kartu identitas diri. Kasir mengecek usia mereka dari kartu identitas diri, kemudian kasir dapat memberikan rokok pada mereka. Ternyata memang kasir telah menjalani prosedur penjualan rokok dengan baik, yakni menjual rokok kepada mereka yang sudah berada di atas 18 tahun.

Untuk mendapatkan sebungkus rokok, biasanya orang yang merokok bisa membelinya di tempat tertentu di supermarket, diletakkan di dekat kasir. Selain itu, tersedia pula mesin otomatis penjualan rokok di beberapa tempat semisal restoran atau tempat umum yang menjadi area publik. Namun lagi-lagi, untuk menjalankan mesin ini ada ketentuan untuk menggesek kartu identitas diri untuk membuktikan kelayakan membeli rokok.

Saya pikir bahwa cara ini efektif untuk menghindari penjualan rokok pada remaja.

Bagaimana menurut anda? Ada pendapat?