Hari minggu ini sudah memasuki Minggu Advent ketiga, semua orang sudah terlihat sibuk mempersiapkan Natal. Mulai dari berbelanja di supermarket hingga menyiapkan pernak-pernik di rumah.

Mayoritas penduduk Jerman merayakan Natal, bahkan libur untuk hari kerja perkantoran, sekolah, dan kuliah/kursus sebelum Natal hingga melewati Tahun Baru. Segala pernak-pernik sudah marak dijual sejak akhir Oktober lalu. Dekorasi Natal pun meramaikan semua tempat publik seperti pusat perbelanjaan, restoran bahkan kelas saya pun tak luput dari dekorasi Natal.

Berikut hasil pengamatan saya selama di sini:

1. Berbelanja

Tak hanya di Indonesia saat orang sibuk berbelanja menjelang hari raya, di Jerman juga. Sabtu lalu saat saya dan suami pergi ke salah satu mall, kami tidak dapat tempat parkir. Begitulah! Berbelanja bisa identik dengan kebutuhan berhias diri semisal pakaian dan alas kaki. Toko dan tenant di mall memberikan diskon untuk menarik atensi pembeli.

Berbelanja lain bisa juga untuk hadiah orang lain. Natal juga dirayakan dengan memberikan hadiah kepada orang yang dikasihi atau orang yang dikenal. Itu sebab banyak juga kemasan pernak-pernik dibungkus menyerupai kado. Misalnya kosmestik, parfum, cokelat dan sebagainya.

2. Christkindlmarkt atau Pasar menjelang Natal
Beberapa kali saya juga membahas pasar menjelang Natal ini yang sudah dimulai sejak minggu terakhir November. Selain menyediakan kebutuhan Natal bagi warga, sebenarnya pasar ini menjadi ajang keriaan warga untuk bertemu satu sama lain. Ini bisa dikatakan pasar rakyat.

Keindahan kemerlap lampu warna-warni di gelap malam menambah keindahan pasar ini. Christkindlmarkt adalah simbol masyarakat Jerman memeriahkan Natal. Ini juga terlihat indah kala malam hari, semacam pasar malam.

3. Menghiasi ruangan dengan dekorasi Natal
Dekorasi Natal tak hanya menghiasi area publik. Rumah-rumah di Jerman diwarnai berbagai hiasan dekorasi Natal. Apa saja? Der Krippe yakni gambaran Natal berisi drama kelahiran Yesus Kristus. Pohon Natal (Der Christbaum) dengan berbagai hiasannya. Hingga berbagai dekorasi menghiasi seluruh rumah dengan lampu berhias kerlap kerlip. Tak hanya rumah saya yang berhias, namun juga kelas tempat saya belajar juga diwarnai hiasan dan dekorasi Natal.

4. Menyediakan kue Natal

Hari raya di Indonesia identik dengan kue-kue, begitu pun di Jerman. Berbagai kue dan pengananan tersedia di berbagai supermarket. Tak hanya itu, mereka yang punya kepandaian membuat kue juga sudah mulai sibuk membuatnya seperti ibu mertua saya. Dia sudah membuatkan kue-kue tersebut sejakย dua minggu lalu.

5. Acara televisi program istimewa Natal

Sebagaimana hari raya yang identik dengan hari libur bersama keluarga maka program televisi di Jerman pun tak luput dari tayangan istimewa. Tayangan istimewa bertemakan Natal atau film-film box office menghiasi layar televisi. Iklan televisi bertemakan Natal juga mendominasi program tayangan. Sepanjang perjalanan dengan mobil saya juga mendengarkan radio sering memutar lagu-lagu Natal. Semua meriah.

6. Program liburanย 

Hari raya juga identik dengan keriaan liburan bersama keluarga di tempat istimewa. Ini pula yang disebut sebagai peak season, ketika semua harga bisa terkesan lebih mahal dari waktu hari biasa. Hotel penuh dipesan orang. Transportasi umum pun mahal karena orang hilir mudik di hari libur. Natal di Jerman seperti dimanfaatkan sebagai tradisi kebersamaan bersama keluarga secara istimewa. Liburan adalah salah satu cara mereka melewatkannya.

Kesimpulan

Demikian hasil pengamatan saya di Jerman. Hari Raya Natal menjadi meriah bukan hanya milik umat Kristiani saja. Natal menjadi tradisi dan bagian gaya hidup pada sebagian orang. Apalagi Natal selalu dirayakan menjelang Tahun Baru yang tentu menjadi musim liburan bagi semua orang di dunia.

Semoga bermanfaat!