COMMUNICATIONS

Taklukkan Amarah dengan “Gaya Sandwich”

Siapa pun boleh marah? Siapa pun bisa marah? Siapa pun juga berhak marah? Karena marah adalah hak setiap orang. Marah juga salah satu bentuk luapan perasaan atas ketidaksukaan, ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu hal.

Anda boleh marah terhadap kesalahannya, tetapi bukan pada pelakunya!

Acapkali saat marah, komunikasi ditujukan secara emosional dan direct (langsung). Karena amarah adalah cara untuk meluapkan perasaan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu hal.

Beberapa waktu lalu, saya membaca “teori sandwich” untuk berkomunikasi secara elegan saat marah. Mungkin anda berpikir seperti saya, boro-boro berpikir komunikasi yang elegan saat marah. Namun setelah saya merenung dan mengingat saat dimana saya dimarahi maka saya berkesimpulan teori ini baik juga.

Teori ini hanya sekedar mengingatkan bahwa marah ditujukan pada kesalahan dan tepat sasaran. Masing-masing pihak merasa nyaman, baik yang dimarahi maupun yang memarahi. Semacam win-win solution atau cara untuk melampiaskan kemarahain secara nyaman dan elegan tentunya.

Hal ini biasa diterapkan untuk mengedukasi seseorang misalnya. Atau penerapan dilaksanakan pada situasi atasan-bawahan, guru-murid atau orangtua-anak, dan sebagainya. Anda berhak memarahi karena ada otoritas dan alasan yang kuat mendasari.

Ada pesan orang bijak yang mengatakan, untuk mengetahui tabiat seseorang lihatlah saat dia sedang marah. Kemarahan adalah tes yang menguji kecerdasan emosional seseorang.

Semacam sandwich, ada tiga lapisan yakni lapisan pertama berisi roti. Pada lapisan pertama, kemarahan dinyatakan dengan sapaan yang positif. “Saya pikir anda sudah melakukan yang terbaik saat mengerjakan tugas anda. Anda sudah datang sejak pagi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan segera.” Demikian kalimat dari si bos kepada anak buahnya. Intinya pada lapisan pertama adalah hal yang berisi kalimat pembuka bersifat positif dan pengantar saja.

Pada lapisan kedua di sandwich berisi daging. Di sini kemarahan ditujukan pada inti atau isinya. Apa kemarahan anda? Namun tidak menyerang secara pribadi melainkan langsung (direct) pada kemarahan yang ingin diungkapkan. “Saya marah sekali ketika saya mengetahui bahwa anda telah menyalahi wewenang dengan berhubungan dengan banyak media massa. Anda adalah seorang communications specialist. Sementara membuat pernyataan di media massa adalah tugas saya sebagai manajer atau kepala staf di sini. Anda diperkerjakan untuk…”  Demikian lanjutan dialog bos dan anak buah, melanjutkan contoh di atas. Di lapisan kedua, ungkapkan kemarahan anda dan alasan kemarahan. Jangan bertele-tele!

Di lapisan terakhir sandwich tentu adalah roti lagi. Tutup kemarahan anda dengan ungkapan yang santun dan menyarankan. “Saya rasa ini sudah cukup sebagai peringatan pertama. Saya sampaikan surat ini agar anda memahami struktur organisasi bekerja dengan baik. Saya berharap anda tidak mengulanginya lagi. Terus pertahankan kinerja baik anda!” Demikian dialog lanjutan penutup dialog antara bos dengan anak buahnya.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Categories: COMMUNICATIONS, PSYCHOLOGY

Tagged as: , ,

2 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s