Pernahkah anda memberikan nasihat kepada orang lain? Pernahkah terpikirkan bahwa nasihat yang anda berikan adalah nasihat terbaik? Pernahkah terbersit bahwa nasihat itu begitu indah kedengarannya seperti layaknya teori pada umumnya?

Namun dibalik itu semua, bilamana anda mengalami kasus yang sama atau berada pada posisi orang yang diberi nasihat, apakah anda mampu melaksanakannya dengan baik nasihat anda?

Banyak orang mengatakan teori versus kenyataan sama dengan berbanding terbalik. Bahwa kenyataan terkadang berjalan berlawanan arah seperti teori yang dipikirkan atau dikatakan kepada orang yang minta nasihat dari anda. Itu sebab dikatakan kenyataan itu pahit dan teori itu manis.

Kembali ke pertanyaan di atas, mengapa kita bisa memberikan nasihat terbaik untuk orang lain?

1. Karena nasihat terbaik yang diberikan kebanyakan belum kita jalani. 

Ketika seorang sahabat bercerita masalahnya, tentu kita punya kecenderungan ingin membantunya. Salah satu bentuk bantuan umumnya dilakukan adalah memberi nasihat. Tentu segala upaya dilakukan agar kita benar-benar bisa jadi sahabat terbaik dengan mengupayakan nasihat terbaik pula. Sayangnya nasihat terbaik kebanyakan memang belum pernah kita jalani.

2. Karena nasihat terbaik yang diberikan hanya dilihat dari “kacamata” sendiri.

Saat orang datang dengan masalah dan kita mendengarkan, kecenderungannya kita menggunakan “kacamata” kita sendiri yang melihat hanya dari permukaan saja. Dengan “kacamata” sendiri, kita melihatnya hanya gambaran besar saja. Intinya nasihat terbaik yang diberikan hanya mendekati masalah.

3. Karena nasihat terbaik itu lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan.

Semua meyakini bahwa lebih mudah mengatakan ketimbang menjalani. Bahwa nasihat terbaik yang diberikan adalah kondisi ideal. Kenyataan saat kita menghadapi masalah ternyata selalu berada di luar ideal.

4. Karena nasihat terbaik menunjukkan kita mampu dan lebih unggul daripada orang yang punya masalah.

Nasihat terbaik tentu diberikan ketika ada teman atau sahabat yang memintanya. Secara naluri kita ingin terlihat lebih unggul daripada orang yang punya masalah. Jadi sedapat mungkin yang terbaik kita berikan, termasuk segala teori dan nasihat agar kita terlihat lebih baik. Kenyataannya, kita belum sepenuhnya atau belum menjalani nasihat terbaik itu.

Kesimpulan

Nasihat terbaik adalah pengalaman terbaik, termasuk kegagalan menjalaninya. Sayangnya tak mudah kita mengakuinya sehingga lebih memberikan ‘teori’ yang belum dijalani.