FOOD

Gebackene Ente mit Reis, Nasi Bebek Beda Versi: Makanan Khas Asia (28)

Gebackene ente mit reis, pakai kuah kari.

Gebackene ente mit reis, yang mirip seperti nasi goreng bebek.



Sudah lama saya tidak membahas makanan selera Asia karena begitu sibuknya mengeksplor rasa baru. Yups, cerita berikut adalah dua menu nasi bebek yang memiliki kemiripan dengan rasa dan penyajian berbeda. Ini saya dapatkan saat saya membeli keduanya di kedai Imbiss Asia di sini. Jeda makan siang, saya tak punya waktu banyak untuk memasak. Lantas, saya pun membeli keduanya di waktu dan tempat berbeda.

Gebackene ente mit reis adalah judul nama masakan dalam bahasa Jerman. Itu artinya adalah nasi dengan bebek goreng. Bebek goreng di restoran di sini disajikan tidak seperti bebek goreng di Indonesia pada umumnya. Bebek goreng dipilih dari daging fillet bebek yang sudah diberi bumbu. Sampai saat ini, saya masih mendapati daging bebek yang renyah, penuh daging dan tanpa tulang. Sementara di Indonesia mungkin daging bebek tidak penuh, bertulang dan digoreng renyah. 

Hal yang membedakan lainnya daging bebek yang disajikan di sini dengan di Indonesia adalah daging bebek diberi tepung roti. Daging bebek sendiri sudah renyah ditambah tepung roti yang pastinya semakin kriuk di mulut. Untuk setiap porsi, biasanya satu potong daging bebek. Lalu pastinya si pramusaji sudah mengiris-iris menjadi potongan kecil yang memudahkan kita menyantapnya. 

Jangan bayangkan makan daging bebek dengan sambal pedas seperti di Indonesia! Itu pengalaman saya selama ini. Di sini tak ada sambal pedas, jika kita ingin “sambal oelek” biasa disebut begitu, kita bisa tambahkan sendiri. Oh ya “sambal oelek” khas Indonesia juga dijual loh di gerai supermarket di sini. Biasanya kedai imbiss menyediakan sambal itu untuk memenuhi selera pelanggan yang datang.

Sekarang waktunya menjelaskan lebih detil dua menu nasi bebek di atas. Gambar pertama, paling atas adalah nasi bebek ditambah kuah kari. Ketika saya memesannya, si pramusaji tanya saus yang dikehendaki. Asal sebut saja, saya pilih kuah kari. Setelah pramusaji meletakkan nasi dan irisan daging bebek. Lalu bertanya soal saus kepada pelanggan, dia pun menambahkan di dekat daging bebek aneka sayuran rebus. Sayuran itu wajib disajikan di sini, apa pun menu yang dipesan. Setelah sayuran rebus diselipkan di dekat daging bebek, kuah kari berisi santan kelapa dan bumbu kari asal Thailand disirimkan di dekatnya. 

Berikutnya, saya jelaskan menu pada gambar kedua, paling bawah. Gebackene ente mit reis berikutnya boleh dibilang seperti nasi goreng bebek. Kalau menu pertama, menggunakan nasi putih biasa maka menu kedua menggunakan nasi yang digoreng. Nasi digoreng bersama sayuran seperti kol, mentimun dan kacang polong. Saya tidak suka nasi goreng ini karena rasanya hambar. Lebih baik saya pilih nasi goreng keliling yang biasa beredar di Jakarta karena rasanya lebih baik. Lagipula ajaib juga menurut saya bahwa nasi digoreng dengan aneka sayuran yang tidak pas. Mungkin sawi atau kol seperti nasi goreng keliling akan lebih baik rasanya.

Dari kedua menu di atas, saya lebih memilih menu pertama. Karena rasanya lebih enak dimakan ketimbang menu kedua yang rasanya “ajaib” di lidah saya. Kedua menu di atas berharga 6,5€ setara dengan Rp 97.500 dalam kurs 1€ sama dengan Rp 15.000. Begitulah, cerita kedua menu nasi bebek yang saya komparasikan.

Bagaimana cerita anda soal nasi bebek?

Advertisements

Categories: FOOD

Tagged as: , , , ,

2 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.