Altstadt atau Konstitutionplatz, Luxembourg city.
Katedral Notre-Dame.
Pusat kota.
Luxembourg city juga dikenal sebagai markas kantor-kantor Uni Eropa. Tampak bendera anggota negara Uni Eropa.
Biar lebih mudah, ikut paket sightseeing saja.
Tampak pembangunan gedung bertingkat.
Suka bersepeda? Silahkan sewa di sini!

Setelah mampir sebentar ke Liechenstein, melipir sedikit ke Perancis dan main ke Bonn dan Köln sebentar maka liburan saya selanjutnya ke Luxembourg. Luxembourg memang jadi daftar tujuan saya selanjutnya manakala seorang teman bercerita betapa makmurnya beliau bekerja di negeri ini. Karena penasaran mendengar ceritanya maka meluncurlah kami ke sana. Ternyata negerinya tampak moderen, makmur dan tidak besar. Sebagaimana layaknya negeri kecil lainnya, sepertinya penduduknya terlihat sejahtera.

Kesejahteraan tentu sebanding dengan biaya hidup. Membayangkan berapa harga hotel semalam menginap di pusat kota, akhirnya kami putuskan mengambil di pinggiran saja dengan mengandalkan kendaraan pribadi. Namun rupanya tak mudah juga membawa kendaraan pribadi. Lokasi parkir tak begitu banyak di pusat wisata. Jika ada, tentu harganya lebih mahal. Meski disarankan menggunakan bis saja oleh petugas hotel, namun kami tetap menggunakan kendaraan kesayangan.

Luxembourg ini sebenarnya sudah ada sebelum Masehi menurut sejarah yang tertera di depan Katedral Notre-Dame. Secara resmi tahun 963 Masehi berdiri kerajaan yang menjadi cikal bakal kota Luxembourg. Berangsur-angsur kotanya sendiri berganti dinasti kepemimpinan dan mengalami berbagai masalah politik. Tahun 1989 Luxembourg merayakan 150 tahun kemerdekaannya. Jadi anda sudah bisa menebak kapan kemerdekaan negara ini. Kini tampak ibukota Luxembourg moderen namun masih banyak juga situs-situs yang dilindungi dan diakui UNESCO.

Kota Luxembourg dikenal kotanya dijadikan juga sebagai salah satu pusat kantor Uni Eropa. Selain kota Strasbourg, Perancis yang pernah kami kunjungi sebelumnya, sebagai markas kantor-kantor Uni Eropa maka Kota Luxembourg termasuk juga. Tampak bendera negara anggota Uni Eropa berkibar di sini.

Kota ini tumbuh dengan pesat. Beberapa gedung di kota ini dibangun dengan gaya arsitektur yang menawan, megah dan istimewa. Itu sebab banyak pembangunan moderen gedung-gedung bertingkat di pusat kota. Meski berbahasa Perancis dan bahasa Jerman sebagai bahasa resmi yang dipergunakan namun di sini setengah penduduknya adalah pendatang. Kota ini pun terlihat multikultural.

Ingin berkeliling kota Luxembourg, cukup rogeh kocek 14€ per orang maka anda bisa berkeliling berkunjung ke tempat-tempat menarik. Paket wisata sightseeing bisa didapat di seberang Katedral Notredam atau di sekitar Konstitutionplatz. Anda bisa mendapatkan informasi selama perjalanan dalam satu jam.

Jika anda punya anggaran lebih, silahkan menginap di pusat kota! Atau, anda juga bisa menginap di kota sekitar di Jerman seperti Trier atau Saarland. Dari situ anda bisa menggunakan kereta api. Bagi kami cukup satu hari saja sudah cukup berkeliling di pusat kota, hari berikutnya kami habiskan di pinggiran kota yang juga tak kalah menariknya seperti Schengen dan Remich.

Sampai saat ini, kami tidak tahu apa makanan tradisional atau yang menjadi khas negara Luxembourg. Informasi wisata yang kami terima dikatakan bahwa orang Italia yang pertama membuka industri kuliner di sini. Itu sebab ada banyak gerai pizza, pasta dan makanan khas Italia. Namun kami juga banyak mendapati makanan khas Jerman lainnya. Ada juga gerai restoran Perancis. Itu berarti mungkin tidak ada makanan khas dan wajib dicoba.

Asyiknya lagi jalan-jalan di sini, para turis atau pengunjung dibebaskan menggunakan toilet umum. Biasanya nih di negara-negara besar di Eropa, kita harus merogoh kocek 70 cents Euro hingga 1 Euro. Namun di negara ini, toiletnya bersih, moderen dan bagus pun gratis pula. Kami berpikir mungkin negara ini sudah maju. Bayangkan dari pusat kota hingga pinggiran kota, toiletnya gratis dan bersih. Keren ‘lah!

Selanjutnya, simak tempat-tempat menarik di Luxembourg. Tentu tak lengkap berwisata tanpa mencicipi sajian kuliner, simak cerita saya juga ya!