FOOD

2 Plat Du Jour, Makan Siang ala Perancis: Makanan Khas Perancis (2)

Le Plat Du Jour, isinya dengan daging sapi.

Satu lagi dengan daging ayam.

Meski tidak memesan wine, gelas wine tetap disediakan.

Secangkir espresso setelah makan siang.

Setelah berkunjung ke Liechenstein, kami pun melipir ke arah Perancis. Ada banyak tempat di sana yang bisa dikunjungi karena keindahannya, tidak hanya soal Paris. Tiba kami di perbatasan tiga negara yakni Perancis, Jerman dan Luxemburg. Kami bermaksud untuk makan siang.

Tiba di salah satu kota tua perbatasan di Perancis yang sepertinya sudah banyak ditinggali penduduknya. Cerita tentang kota ini di lembar berikutnya. Kemudian kami menemukan salah satu restoran dari beberapa restoran di pusat kota. Agar paham menu yang disajikan, kami lihat dulu menu yang tertera. Kami tetap tidak mengerti karena berbahasa Perancis. Belum lagi memang harga makanannya meski di kota kecil tetap saja lumayan merogoh kocek.

Berhubung sudah lapar, kami tiba di satu restoran. Saat ditanya daftar menu, restoran tidak punya dan pramusaji menunjukkan pada papan tulis di depan restoran. Ini cara yang banyak dilakukan restoran-restoran di Eropa, menuliskannya di papan tulis dengan kapur tulis pula.

Pramusaji tidak bisa bahasa Jerman pun bahasa Inggris. Akhirnya kami menyetujui menu makan siang yang ditawarkan. Rupanya di tiap meja terdapat gelas wine dan gelas biasa lain yang akhirnya digunakan untuk minum coca-cola. Karena tidak terbiasa dan sedang tidak ingin minum alkohol, gelas wine kami kosong. Sementara bapak tua di sebelah kami, duduk seorang diri dengan gelas wine separuh isi. Setelah wine habis, dia pesan bir dan seporsi makan siang. Alamak!

Kami dapat makanan kecil dan minuman pesanan sementara menunggu menu makan siang. Di ujung lain, tampak dua perempuan paruh baya menikmati wine dan semangkuk salad. Rupanya sudah terbiasa minum wine di kala siang hari. Ini sama seperti kebiasaan masyarakat di Bavaria, Jerman meminum bir di sela makan siang.

Makan siang datang. Makanan kecil ditarik, ada roti, perlengkapan makan dan dua piring makan siang. Dua porsi yang serupa, perbedaannya hanya pada dagingnya. Satu porsi terdiri atas kentang goreng, tomat panggang dan ayam panggang berbumbu. Sedangkan yang lain, terdiri atas kartoffelspätzle, tomat panggang dan daging sapi berbumbu. Ditambah ada beberapa iris roti untuk menikmatinya. Bumbunya agak sulit didekripsikan.

Bagi saya, kuliner khas Perancis memang nikmat. Tidak membuat perut kekenyangan, porsinya pas dan sesuai. Rasanya pun nikmat. Pantas saja, makanan Perancis terkesan eksklusif dan lezat.

Usai menikmati makan siang, pramusaji datang menarik piring kami. Dia menawarkan lagi makanan penutup atau sekedar kopi. Suami yang menyetir mobil pun menyanggupi untuk memesan kopi. Selang berapa lama, muncul secangkir kecil espresso. Sementara bapak tua di sebelah kami, ia pun memesan secangkir kopi usai makan siang dengan menu yang sama.

Karena harus lanjut perjalanan lagi, kami panggil pramusaji lagi. Jadi pramusaji merangkap kasir juga berlaku di sini. Dia menyerahkan semacam mangkuk kecil berisi bon dan tiga permen. Permen yang diberikan ternyata tidak sekedar permen. Enak juga ternyata.

Begitulah pengalaman menikmati sajian di Perancis secara lengkap. Apakah anda ada pengalaman lain?

Advertisements

Categories: FOOD

Tagged as: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.