OPINION

6 Dilema yang Dihadapi Ibu dalam Pemenuhan Gizi Si Kecil

Semua ibu pasti berbahagia melihat tumbuh kembang anaknya yang sehat dan cerdas. Namun bagaimana membuat anak berkembang menjadi yang kita inginkan? Begitu hasil diskusi kami di kelas dengan latar belakang budaya dan kebangsaan yang berbeda-beda. Ini menjadi topik bahasan menarik, meski tidak semua peserta adalah seorang ibu yang memiliki anak. Lepas dari konteks pengalaman, topik ini menjadi ide menarik untuk ditulis di sini.

Berikut masalah yang dihadapi dalam memenuhi gizi anak.

1. Makanan bergizi itu pasti mahal

Tidak dapat dipungkiri, makanan sehat tentu memerlukan biaya. Misalnya, di banyak negara sudah tersedia makanan berlabelkan BIO dan tentu harganya lebih mahal ketimbang produk biasa. Produk bahan pangan BIO memiliki kelebihan pada proses pengolahannya yang sesuai standar ekologi, baik tumbuhan maupun hewan.

Masalahnya adalah saat menyediakan makanan bergizi untuk anak, kita terbentur oleh dana dan anggaran keluarga. Jika keluarga tergolong menengah ke atas, persoalan harga makanan tak masalah. Namun bagaimana jika suatu keluarga yang hidupnya pas-pasan dan harus memikirkan makanan bergizi untuk anak. Rasanya ini bisa jadi dilema seorang ibu.

Solusinya:

Ibu bisa membeli stok makanan dalam jumlah banyak karena harganya jadi lebih murah. Selain itu, kurangi jajan si kecil di luar rumah dan membuat sendiri jajanan di rumah sehingga pengeluaran bisa digunakan untuk membeli bahan makanan yang baik.

2. Makanan bergizi untuk anak itu perlu waktu banyak

Menyiapkan makanan untuk buah hati kebanyakan diletakkan pada peran ibu. Masalahnya tidak semua ibu punya cukup waktu lowong melakukan itu. Hal ini diketahui dari pengalaman seorang ibu yang memerlukan waktu untuk mengolah makanan si kecil. Alhasil sebagian ibu merasa mengeluh repot dan tak punya banyak waktu. Sebagian ibu lainnya mengaku sibuk bekerja sehingga tidak begitu banyak waktu menyiapkan makanan dan bekal anak ke sekolah.

Solusinya

Sebetulnya ini soal membagi waktu. Jika ibu bisa membagi waktu dengan baik, menyiapkan makanan bergizi untuk si kecil maka rutinitas akan menjadi kebiasaan. Dijamin tak perlu waktu lama untuk menyiapkannya.

3. Makanan bergizi untuk anak itu perlu kreasi ibu

Satu yang disepakati bersama bahwa gizi anak ditentukan dari kreasi ibu sehingga menjadikan anak tumbuh sehat dan cerdas. Banyak ibu mengeluh bagaimana membuat makanan sehari-hari untuk anak dan bergizi pula. Ini bukan perkara yang mudah. Kehadiran kelompok ibu-ibu yang berbagi cerita soal menu anak sehari-hari rupanya tidak cukup membantu ibu berkreasi. Meski gizi anak juga ditentukan oleh ayah, anggota keluarga lain dan juga sekolah misalnya, namun menjadi seorang ibu yang mengkreasikan makanan bergizi setiap hari bukan perkara mudah.

Solusinya

Perbanyak pencarian menu baru yang cocok untuk anak lewat mesin pencari di internet atau majalah. Dengan begitu, ibu bisa punya banyak pilihan kreasi.

4. Diperlukan pengetahuan ibu dalam mengelola kebutuhan gizi anak

Begitu luar biasanya peran ibu bagi tumbuh kembang anak. Anak yang sehat dan cerdas adalah dambaan setiap ibu. Salah satu faktor pendukungnya adalah asupan gizi yang perlu diberikan kepada si kecil. Jangan sampai ibu tidak tahu bahwa si anak sudah mengalami obesitas atau kelebihan kadar gula misalnya. Seorang ibu harus memperhatikan perkembangan anaknya agar tetap terjamin gizinya.

Solusinya

Berkonsultasilah pada ahlinya untuk mengetahui perkembangan si kecil. Cari tahu juga apa yang terbaik dan bisa diberikan untuk si kecil sebagai nutrisi terbaik. Jangan sungkan atau malu bertanya demi pemenuhan gizi si kecil!

5. Kemampuan ibu atasi anak yang picky eater

Lagi-lagi tugas ibu dalam menyiapkan gizi anak dihadapkan pada karakter anak yang susah makan dan pemilih. Jangankan makanan bergizi, apa pun makanan yang dibuat ibu menjadi masalah bagi si anak yang adalah picky eater. Anak yang demikian memang cenderung sulit untuk menerima apa pun yang disantapnya. Tak jarang ibu perlu banyak siasat agar anak mau makan.

Solusinya

Ibu bisa membuat kreasi makanan berdasarkan kesukaan si kecil misal makanan dibentuk tokoh kartun. Ajak anak untuk memilih makanan saat berbelanja sehingga menjadi pengalaman menyenangkan untuknya. Hal menarik lainnya juga, ibu bisa ajak anak mengolah masakan sehingga anak bisa menikmati hasil buatannya.

6. Mengontrol junk foods dan makanan instan

Di era yang super canggih sekarang ini begitu mudah kita mendapatkan makanan yang kita inginkan. Persoalannya apakah makanan itu sesuai dengan gizi dan pemenuhan nutrisi anak? Hal ini menjadi dilema manakala ibu repot dan tak punya banyak waktu. Atau anak ingin mencoba makanan yang sedang dikonsumsi ibu atau orang lain padahal makanan yang sedang dikonsumi tak baik untuk anak.

Solusinya

Ibu bisa memberi penjelasan yang baik agar anak mudah memahami mana yang baik untuknya. Ibu bisa membuat visualisasi yang menarik bahwa makanan tersebut hanya untuk orang dewasa saja misalnya. Buat dialog yang ringan agar anak mengerti mana yang baik untuk dikonsumsinya.

Kesimpulan

Semua kembali kepada pengalaman masing-masing ibu dalam mengelola dan menyediakan pangan pada anaknya. Pastinya ibu yang paling tahu, usaha terbaik yang sudah dilakukannya agar anak tumbuh seperti dambaannya.

Advertisements

Categories: OPINION

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.