PSYCHOLOGY

Nilai Kepribadian Lebih Dari Apa yang Dilihat

Ada salah satu program televisi di sini bercerita tentang pembelian barang dari orang yang datang ke stasiun televisi. Modelnya semacam pasar loak atau flöhmarkt. Bedanya di sini orang yang menjual barangnya datang ke stasiun televisi yang berkaitan dengan program itu. Di studio di stasiun televisi itu, ada beberapa orang dari berbagai latar belakang yang akan menawar dan membeli barang yang dimaksud.

Satu kali saya menonton ada seorang ibu yang berusia senja membawa cincin. Seperti biasa moderator program bertanya kepada pengunjung yang ingin menjual barangnya seperti sejarah barang atau apa makna barang tersebut. Kemudian si ibu yang ingin menjualkan cincin ini pun bercerita panjang lebar.

Ibu ini mengatakan bahwa cincin ini merupakan pemberian dari neneknya. Neneknya memberikan padanya saat dia masih anak-anak. Neneknya berpesan begini “Jika kamu butuh uang suatu saat nanti, juallah cincin ini seharga dua ratus Deutsche Mark!” Deutsche Mark (DM) adalah mata uang negara Jerman sebelum diberlakukan Euro. Nilai 1€ sekitar 2DM. Mula-mula ia senang mendapatkan cincin pemberian neneknya. Namun makin lama, ibu yang menerima cincin dari neneknya mulai berpikir, apakah mungkin saya akan mendapatkan uang dua ratus DM. Karena cincin yang diberikan padanya nampak tak indah, berkarat dan seperti cincin biasa. Mengingat cincin ini pemberian neneknya, ia menyimpan cincin ini hingga neneknya pun tiada.

Lalu si moderator program pun merespon sambil bercanda. Kata moderator “Berapa harga cincin yang anda tawarkan?” Kemudian si ibu itu pun tampak tersipu malu menyahut. “Sebenarnya saya tidak ingin menjualnya. Saya hanya ingin membuktikan apa yang dikatakan nenek saya apakah benar cincin ini begitu berharga,” kata si ibu lagi. Seperti malu-malu, ia berkata “Saya ingin menjualnya seratus Euro saja.”

Moderator mengambil cincin dari si ibu. Tampak cincin bermata satu itu dengan warna kuning emas pun sudah tak terlihat dan guratan karat sedikit. Lalu moderator memberikan kepada beberapa para pengamat dan penilai. Mereka adalah laki-laki dan perempuan yang dipilih stasiun televisi berdasarkan latar belakang mereka. Kemudian masing-masing mengamati cincin dan memberikan komentarnya.

Biasanya di program ini, pengamat yang juga penilai memberikan keputusan dan mengeluarkan uang dari dompet mereka masing-masing untuk membelinya. Dari beberapa pengamat, mereka menilai cincin si ibu tampak buruk dan tak menarik untuk dikenakan di jari tangan. Ada satu pengamat yang berani membelinya dengan harga 20€, namun si ibu menggelengkan kepala. Itu menandakan bahwa si ibu tak ingin menjualnya di bawah 100€.

Ia pun hampir menyerah karena hanya tinggal pengamat terakhir yang belum memutuskan. Pengamat terakhir masih sibuk mengamati cincin dengan kaca pembesar miliknya. Lalu pengamat terakhir mengatakan bahwa ia akan membeli cincin si ibu dengan harga seribu Euro. Ibu itu pun takjub dan tak percaya dengan apa yang dikatakan pengamat terakhir. Itu artinya harga cincin itu melebihi tawarannya.

Si pengamat terakhir mengeluarkan satu lembar 500€ dan lima lembar 100€. Tentu moderator ingin tahu alasan keputusan pengamat membelinya. Si pengamat menjelaskan bahwa ia bisa melihat dengan kaca pembesar bahwa cincin itu benar-benar emas dengan kadar yang tinggi. Lagipula mata dari cincin adalah berlian. Meski cincin tampak buruk, pengamat berkeyakinan bahwa cincin itu tetap bernilai tinggi.

Dari hasil menonton tersebut, sejenak saya berpikir bahwa kebanyakan kita begitu mudah menilai sesuatu hanya dari tampak luar saja. Bahkan kita bisa saja meremehkan tanpa melihatnya lebih dalam dan lebih jauh lagi. Begitu pun kepribadian tiap orang yang tidak bisa dinilai tampak luar saja. Seburuk apa pun penampilan luarnya, belum tentu kepribadiannya juga buruk.

Setiap kepribadian itu begitu bernilai, bukan dilihat dari penampilan luarnya saja. Sudah banyak contoh bahwa dugaan kita terhadap orang lain itu bisa jadi salah. So, semoga cerita saya bermanfaat.

People may look you by the outside and judge it, but they never know what is the inside instead.

Happy weekend!

Advertisements

Categories: PSYCHOLOGY

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.