ALL ABOUT DEUTSCHLAND

Mengapa Mengetuk Meja Usai Kuliah Berakhir?

Ilustrasi.

Banyak hal menarik yang berbeda dan menimbulkan rasa ingin tahu selama saya berada di negeri Tante Merkel. Satu hal menarik saat study di Jerman adalah menutup perkuliahan dari dosen yang menyampaikan dengan mengetuk meja. Bisa dikatakan ini sebagai pengganti tepuk tangan atau applause atas kuliah yang sudah diberikan. Pertanyaannya, mengapa harus mengetuk meja?

Sewaktu kuliah di Jakarta yang saya lakukan memang tidak demikian adanya. Kuliah selesai begitu saja. Teman yang mengambil study di negara lain juga sama, kuliah berakhir begitu saja. Tetapi di sini, saat dosen atau Profesor sudah menutup kuliah maka mahasiswa mengetuk meja berkali-kali sebagai apresiasi.

Saya pikir karena study yang saya ambil dalam bahasa Jerman, kemudian saya tanya teman lain yang mengambil study dalam bahasa Inggris. Dia pun mengatakan hal yang sama. Artinya mengetuk meja selesai perkuliahan adalah hal biasa yang dilakukan.

Mengetuk meja adalah kesepakatan dalam lingkup akademik di Jerman dan Austria sebagai apresiasi terhadap pembicara yakni dosen atau profesor. Meja kuliah di sini memang terbuat dari kayu. Maka terbayang jika akhir kuliah semua mahasiswa mengetuk meja, bisa dikatakan suaranya hampir sama dengan tepuk tangan.

Dalam budaya di sini dikatakan mengetuk pada kayu menumbuhkan ikatan emosional antara kelompok dengan si individu. Itu berarti antara kelompok mahasiswa dengan pembicara. Meski begitu, saya sendiri tidak pernah tahu kapan diberlakukan demikian? Ini semacam warisan dari generasi ke generasi berikutnya, atau konformitas.

Kebiasaan mengetuk meja juga saya tanyakan kepada suami. Menurut dia, ini adalah sapaan umum yang tidak hanya berlaku di kalangan akademis. Dia pun sebagai pekerja kerap mendapatkan seminar atau pelatihan di dunia kerja. Dia pun melakukan hal yang sama usai seminar selesai. Mengetuk meja menjadi tanda persetujuan atas apa yang disampaikan pembicara. Bagi kita, itu mungkin disampaikan dengan memberi tepuk tangan.

Beda budaya beda kebiasaan. Bagi saya yang pernah berkuliah di Indonesia, memang tidak ada tradisi untuk memberikan apreasiasi secara langsung usai perkuliahan.

Menariknya, saya bertanya alasan dibalik mengetuk meja ketimbang bertepuk tangan pada salah seorang mahasiswa yang sudah senior. Anda perlu tahu bahwa meja mahasiswa di tempat saya terbuat dari kayu jati. Dia mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah terjadi turun temurun sejak lama. Dahulu satu tangan mahasiswa sibuk mencatat apa yang disampaikan dosen sehingga tangan lain memberikan ketukan pada meja. Ini jadi alasan logis bahwa tak mungkin kedua tangan memberi tepuk tangan pada dosen usai kuliah berakhir.

Well, good to know ­čÖé

Advertisements

Categories: ALL ABOUT DEUTSCHLAND

Tagged as: ,

4 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.