Marstallmuseum, Munich (2): Galeri Kereta Kencana yang Mewah Nan Bersejarah

Kereta kencana yang digunakan Raja Ludwig II pada musim panas.
Kereta kencana yang digunakan Raja Max I Joseph pada penobatan kedua menjadi Raja.
Lambang hercules yang diberi lingkaran merah.
Kereta kencana lainnya.
Gerbong kereta kuda yang dipakai bangsawan Maria Antonia von Österreich (1669-1692) yang menikah dengan bangsawan Bavaria.

Melanjutkan kunjungan ke Marstallmuseum yang sudah diulas sebelumnya, maka saya ajak lagi membahas sisi lain dari museum yakni pameran kereta kencana yang tak semua orang di dunia memilikinya. Di museum ini tersimpan kereta kuda dan taksi mewah milik keluarga bangsawan Bavaria selama tiga abad. Kereta kuda ini bukan hanya sekedar alat transportasi saja, tetapi lambang status dan prestige bagi pemiliknya. Museum ini menjadi warisan berharga dunia yang memamerkan lebih dari sekedar museum transportasi saja, melainkan karya seni berharga yang memperlihatkan koleksi mewah dan detil aksesoris yang melengkapinya.

Kunjungan saya memang tak lama, namun ini berbeda bagi pecinta koleksi museum yang ingin memperhatikan tiap detil kereta kencana dari masa ke masa. Di museum ini saya tidak mendapati tour guide tetapi setiap lokasi selalu dilengkapi media visual yang menjelaskannya. Hal menariknya, museum menyediakan tayangan video singkat dan sofa untuk menikmati galeri potret kuda dan kereta kencana. Gemerincing kaki kuda pun diperdengarkan sehingga membawa pengunjung seolah-olah seperti di masa lalu.

Konon bangunan museum semula memang diperuntukkan untuk sekolah berkuda. Mengingat warisan kereta kencana yang mewah dan bersejarah maka diputuskan untuk membuat museum agar bisa dinikmati publik. Untuk kereta yang bersejarah diberi sorototan istimewa semisal kereta yang pernah dipakai Charles Albert dan Maximillian I. Ada juga kereta kencana yang terinspirasi dari kereta kencana Inggris dan Prancis pada abad 17.

Museum ini menyimpan koleksi kereta kuda selama abad 17 hingga abad 19. Ada gerbong keretanya, replika kuda, kereta luncur, kereta rekreasi, kereta gala penobatan hingga aksesoris kuda yang dipakai pada masa itu. Dahulu juga kuda yang biasa dipakai keluarga kerajaan diberi nama dan dilukis. Lukisan tiap kuda dan namanya juga ada di sini.

Kereta jenazah.

Saya juga menemukan kereta jenazah yang dipakai pada masa lalu. Untuk kereta jenazah tidak memperlihatkan kemewahan. Kereta ini seperti peti dibungkus warna hitam dan ornamen sederhana.

Di sudut lain, saya memperhatikan kereta indah yang dipakai raja Ludwig II ke Istana Linderhof pada musim panas. Sedangkan di musim dingin, kereta kuda ini dilengkapi tudung untuk menutupi si kusir.

Kereta kencana paling tua adalah yang dipakai Bangsawan Max Emanuel (1680-1726). Di kereta tersebut terdapat patung yang melambangkan hercules yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai manusia terkuat. Konon Bangsawan Max Emanuel juga paling suka mengendarai kuda.

Sementara di sudut lain, ada kereta kencana yang digunakan kala penobatan Raja Max I Joseph tahun 1806. Beliau dinobatkan setelah berakhirnya perang Napoleon sekitar tahun 1800-an. Setelah perang Napoleon berakhir, Bavaria memiliki otonomi kekuasaan tersendiri. Di kereta kuda penobatan raja Bavaria pertama kali menggunakan kereta dengan empat lambang virtual di tiap ujung gerbongnya. Empat lambang tersebut adalah wisdom, strength, prosperity dan justice. Atas alasan politik, baru dilakukan penobatan raja pada kali kedua secara resmi.

Ada dua kereta yang dipamerkan yang dipakai Raja Max I Joseph. Desain gerbong kereta Raja Max I Joseph pada penobatan kedua terinspirasi dari kereta yang digunakan Raja Louis XVI saat penobatan menjadi raja dan sebelum terjadinya revolusi. Di kereta kedua ini tampak terlihat jelas lambang pemerintahan pada pintunya.

Setelah datang di museum ini, saya hanya berpikir bahwa seandainya kereta kencana ini bisa berbicara pasti mereka akan bercerita sejarah peradaban manusia di masa lalu. Setiap detilnya begitu jelas memperlihatkan karya seni, bukan sekedar alat transportasi mewah belaka. Setelah cukup berkeliling, pengunjung juga bisa datang ke lantai dua, yakni museum porselen.

Anda tak perlu bayar tiket masuk lagi menuju museum porselen, hanya saja kami tidak begitu tertarik berkunjung. Museum ini lebih memperlihatkan koleksi mewah porselen milik keluarga kerajaan. Katanya sih, dahulu porselen ini juga diproduksi sendiri sebagai perlengkapan rumah tangga hingga aksesoris dekorasi.

Sebelum berkunjung ke museum ini, kami datang ke istana Nymphenburg. Nantikan cerita kunjungan kami selengkapnya!

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.