PSYCHOLOGY

Lebih Baik Diketahui Banyak Kesalahan, Daripada Berpura-pura Jadi Sempurna

Ujian di perguruan tinggi di Jerman berbeda-beda penerapannya. Ada ujian yang dilakukan secara tertulis dan ada pula yang dilakukan secara lisan. Jangan tanya saya mana yang paling mudah ujiannya! Semua punya tingkat kesulitan masing-masing. Ujian pun tidak berlaku sama di tiap jurusan atau pengajar.

Satu kali saya mendapat ujian tertulis essay berbahasa Jermam. Tiap orang mendapatkan poin pertanyaan kemudian peserta ujian diminta menjawab dengan menulis sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan belajar yang dipahami. Ujian tertulis ini berlangsung selama durasi waktu yang ditentukan dan biasanya singkat. Peserta ujian hanya membawa bulpen yang diperlukan untuk menulis dan mungkin minuman, sedangkan barang-barang lain diletakkan di tempat tertentu.

Tiap orang dapat satu lembar pertanyaan dan satu lembar jawaban. Waktu ujian pun dimulai. Semua sibuk memikirkan jawaban dan mulai mengerjakannya, termasuk saya.

Saat itu yang terlintas, saya ingin lembar jawaban essay saya sebagus mungkin tanpa coretan. Mengingat lembar jawaban itu hanya satu lembar, tidak boleh lebih maka saya harus mengoptimalkan lembar jawaban saya dengan buah pikiran saya yang benar dan tak ingin banyak coretan. Itu maksud saya.

Saya pun mulai menuliskan jawaban di lembar pertanyaan sebagai draft. Jika itu sudah selesai, maka saya pindahkan ke lembar jawaban. Saya pun melakukannya dengan baik, tanpa saya memperhatikan durasi ujian yang singkat.

Saat saya memindahkan semua draft dari lembar pertanyaan ke lembar jawaban, waktu ujian selesai. Saya benar-benar tidak memperhatikan pengawas ujian memberikan peringatan waktu ujian. Namun semua sudah berlalu. Pemeriksa ujian menarik semua lembar jawaban peserta ujian. Saya berupaya memindahkan draft jawaban dari lembar pertanyaan ke lembar jawaban. Lagi-lagi lembar jawaban saya belum sepenuhnya berisi poin yang diminta untuk dituliskan. Saya terpaksa menyerah ketika pengawas ujian menarik lembar jawaban dan lembar pertanyaan milik saya.

Saya coba diskusi dengan pengawas ujian, apakah ada kemungkinan pemeriksa ujian akan mencek jawaban saya pada lembar pertanyaan? Pastinya tidak! Saya sedih saat itu.

Usai hasil ujian dibagikan, nilai saya pun tidak seperti yang diinginkan. Saya meminta pengajar apakah ada perbaikan untuk memperbaiki kegagalan ujian saya. Saya yakin, saya seharusnya lulus karena berhasil menjawab poin yang ditanyakan dengan baik di lembar pertanyaan.

Akhirnya saya mendapatkan kesempatan memperbaiki ujian. Anda tahu, sebenarnya poinnya bukan kegagalan ujian pertama yang saya buat tetapi pelajaran hidup yang disampaikan profesor, si pengajar kepada saya.

Dia mengatakan, “Saya lebih baik mendapatkan lembar jawaban anda banyak kesalahan ketimbang anda berpura-pura sempurna di lembar jawaban.” Saya pun tertegun mendengarkan pernyataan profesor itu. Pengalaman itu membuat saya tidak mengulangi kesalahan saat ujian. Jika essay, maka saya langsung menulis di lembar jawaban.

Ada satu pelajaran hidup dari pengalaman saya tersebut. Bahwa untuk menjadi sempurna, saya dan terkadang anda berusaha menghindari kesalahan. Padahal kesalahan itu membuat manusia berusaha jadi sempurna. Satu lagi, tak perlu menunggu jadi sempurna untuk menjawab tantangan hidup. Salah, coret, perbaiki, kemudian coba lagi adalah sebuah proses.

Advertisements

Categories: PSYCHOLOGY

Tagged as: ,

12 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.