Jumlah mahasiswa di universitas, tempat saya studi kira-kira sekitar setengah jumlah penduduk kota, tempat tinggal saya sekarang. Jika tiap mahasiswa bawa kendaraan pergi ke kampus maka tak terbayang betapa macetnya kota saya. Itu sebab setiap mahasiswa membayar biaya semester termasuk biaya transportasi selama satu semester.

Penggunaan kartu bayar bis hanya menunjukkan kartu mahasiswa kepada supir di pintu depan saat mau naik bis. Di sini naik bis berawal dari pintu depan dan turun dari pintu belakang. Jika kita tidak bawa kartu mahasiswa, kita perlu bayar langsung di tempat sekitar dua Euro sekian mahalnya. Padahal jarak rumah ke kampus hanya sekitar 10 menit dengan bis tetapi bayarnya sekitar dua Euro.

Ada juga kartu bayar bis untuk delapan kali perjalanan yang dipatok harga sepuluh Euro. Bagi mahasiswa, kartu mahasiswa itu kartu sakti untuk naik transportasi umum, bayar makan di kantin, fotokopi murah dan print murah yang semua disediakan di kampus.

Saya pikir ini ide menarik untuk mengurangi kemacetan. Lagipula transportasi umum di sini sangat nyaman dibandingkan kita mesti pusing memikirkan tempat parkir yang sudah pasti mahal. Ada juga solusi lain kendaraan dengan bersepeda dari asrama ke kampus. Namun di musim dingin, siapa yang tahan mengayuh sepeda?

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya pikir bisa menjadi solusi atasi macet di Jakarta misalnya. Saya ingat dulu kampus saya di Jakarta dimana saya harus berjuang menerobos kemacetan menuju kampus. Dengan begitu, kartu identitas mahasiswa bisa dijadikan kartu bayar transportasi umum sehingga mahasiswa tak perlu bayar saat naik transportasi umum.

Saya mewawancarai teman-teman mahasiswa di sini. Anda bisa melihat bahwa mahasiswa yang kuliah di sini tidak membawa kendaraan pribadi. Berikut 7 alasannya:

1. Sudah membayar retribusi bayar transportasi umum per semester. Sayang saja jika fasilitas ini tidak digunakan.

2. Lahan parkir yang terbatas di kampus. Kampus lebih banyak menyediakan ruang hijau dan membiarkan suasana alami dibandingkan menjadi ruang parkir. Daripada mereka pusing memikirkan parkir mobil, lebih baik mereka naik bis.

3. Biaya parkir pun cukup mahal bagi kalangan mahasiswa. Daripada mahasiswa membayar parkir, lebih baik berhemat untuk kebutuhan lainnya.

4. Jarak rumah tinggal/asrama lebih dekat sehingga mereka urung bawa kendaraan.

5. Harga bahan bakar kendaraan (BBM) di sini lebih mahal.

6. Pilihan yang menyehatkan dengan berjalan kaki atau bersepeda jika jarak tempuh jauh.

7. Mahasiswa cinta alam. Ini alasan terakhir setelah saya bertanya pada segelintir teman yang dikenal. Mereka berniat mengurangi polusi kendaraan, mengurangi penggunaan plastik belanja dan sebagainya. Mereka ingin menjadi agen perubahan untuk keberlangsungan dunia lebih baik.

Demikian tujuh alasan yang dijelaskan di atas. Semoga ini menginspirasi!