OPINION

Hai Milenial, Hati-hati Burnout!

Jika anda berpikir bahwa burnout hanya menyerang kalangan orang usia lanjut, maka anda salah besar. Ternyata burnout menyerang juga kalangan muda, yang kini dijuluki generasi milenial. Tak percaya? Hal ini baru saja dialami oleh seorang remaja yang secara tidak langsung saya kenal. Hmm, saya yang mendengarnya prihatin.

Sebelumnya saya mengenal mantan rekan kerja suami yang juga berhenti bekerja karena dia mengalami burnout. Cerita saya bisa dicek di sini. Saya hanya berpikir gejala ini mungkin hanya mereka yang mengalami beban pekerjaan berkelanjutan, artinya mereka yang adalah orang-orang senior dalam pekerjaan atau mereka berusia lanjut. Ternyata burnout juga bisa dialami siapa saja. Penasaran ‘kan?

Burnout dalam bahasa Jerman bisa diterjemahkan menjadi “Ausgebranntsein” sedangkan dalam bahasa Indonesia mungkin, ini perkiraan saya saja yakni “lelah batin“. Memang kategori gejala ini dialami bagi mereka yang bekerja dan punya beban pekerjaan yang rutin, berkelanjutan dan tak menemukan solusi untuk memecahkan kejenuhan dalam hidup sehari-hari. Namun seiring dengan perubahan gaya hidup maka burnout bisa saja menyerang anak muda.

Kok bisa?

Burnout memang sepengetahuan saya belum bisa masuk dalam perawatan medis. Karena mereka yang mengalaminya, hanya mengalami kelelahan yang tak bisa dirasakan secara fisik. Itu biasa dikenal stress, gairah beraktivitas menurun dan menyendiri, bahkan depresi.

Hal itu bisa terjadi pada generasi milenial yang sedang kekinian. Burnout berdampak pada generasi milenial saat mereka tak mampu mengatasi kejenuhan hidup. Jenuh dirasakan saat remaja tak mampu memenuhi tuntutan gaya hidup, kebiasaan yang jadi kekinian, mencontoh apa yang dilakukan orang lain, mengikuti trend kekinian, dan masih banyak lagi. Jenuh ketika si milenial tidak memiliki apa yang dimiliki teman sebayanya. Jenuh ketika realita hidup tidak berjalan seperti impian.

Itu sebagian alasan yang saya ketahui dari remaja yang mengalami burnout. Meski ini tidak bisa digeneralisasikan, namun nyatanya burnout bisa menyerang kala kita tidak punya solusi untuk menyelesaikan kejenuhan batin. Burnout di kalangan milenial mungkin terjadi kala ada kesenjangan antara tuntutan gaya hidup dan realita kehidupan yang sesungguhnya.

Solusinya?

  1. Sediakan waktu untuk mengontrol penggunaan gadgets agar tidak berlebihan. Atau berhenti dari rutinitas penggunaan komputer atau telepon pintar yang menghubungkan diri dengan dunia maya.
  2. Alihkan perhatian dengan olahraga di luar rumah. Lakukan kegiatan kebugaraan yang disuka. Jika tidak, cukup berjalan kaki atau jogging di sekitar kompleks rumah agar mendapatkan energi baru.
  3. Hirup udara segar dengan berjalan di taman sehingga lebih rileks. Cari suasana yang dekat dengan alam sehingga memunculkan rasa syukur atas hidup dan nikmat dari Tuhan.
  4. Bercerita kepada teman, sahabat, orangtua atau orang yang dipercaya agar tidak merasa sendirian. Bagikan apa yang dirasakan bisa cerita atau menulis sehingga mendapatkan social support.
  5. Lakukan hobby yang jadi kesukaan selama ini.

Bagaimana pun hidup itu harus seimbang, sehat jasmani dan rohani. Pilihan hidup sehat pun di tangan anda. Jika anda mengalami gejala burnout, temukan solusinya segera agar tidak berkelanjutan.

Advertisements

Categories: OPINION

Tagged as:

13 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.