Jika Nasi Sudah Jadi Bubur, Begini Menikmatinya!

Penyesalan terbesar apa yang pernah anda alami dalam hidup? Meski setiap orang berpendapat bijak bahwa tidak ada yang perlu disesali dalam hidup, namun kenyataannya kita pasti pernah menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Seperti misalnya, mengapa saya tidak menyelesaikan pendidikan hingga tamat? Atau jika dahulu saya tidak berkata demikian, mungkin sekarang dia masih di sini bersama saya. Dan masih banyak lagi penyesalan yang mungkin saya dan anda alami.

Lalu apa selanjutnya?

Datang ke Jerman, saya tidak punya bekal memasak apa pun. Suatu saat saya harus tahu bagaimana memasak sebagai kebutuhan utama. Saya tidak mungkin makan di luar rumah saban hari. Hal pertama yang saya pelajari adalah memasak nasi tanpa rice cooker. Saya tidak tahu bagaimana memasak nasi tanpa alat itu. Saya belajar memasak nasi, yang ternyata malah membuat nasi menjadi bubur. Rupanya air yang saya berikan lebih banyak ketimbang beras yang saya masukkan. Saya menyesal bahwa nasi benar-benar sudah menjadi bubur. Saya terbiasa memasak nasi dengan rice cooker sehingga ketika saya tidak memilikinya maka saya tidak tahu bagaimana memasak yang benar.

Berhubung saya adalah mahasiswa waktu itu dan belum menikah, hal yang saya pikirkan adalah bagaimana menikmati nasi yang sudah jadi bubur untuk tetap enak. Saya pikir itu pasti tidak mudah. Saya menyesal mengapa saya tidak belajar dari dulu memasak nasi tanpa rice cooker. Atau saya seharusnya mencari tahu dulu bagaimana memasak nasi tanpa rice cooker. Atau saya sebaiknya sudah membawa rice cooker dari Indonesia. Dan seterusnya muncul penyesalan yang saya ingat ternyata bubur tak seenak nasi saat saya makan.

Dalam jurnal psikologi yang saya temukan, ada pendapat dari studi yang dilakukan Beike dkk (2009) tentang penyesalan. Menurut beliau, penyesalan terjadi ketika orang belum ingin mengakhiri sesuatu yang sudah terjadi, bahkan mereka yang menyesal adalah mereka yang tidak bisa memahami sesuatu sudah terjadi. Itu sebab mereka menyesal.

Jika “nasi sudah menjadi bubur” maka berikut cara yang bisa dilakukan:

1. Terima

Ada satu hal yang tidak bisa didapatkan kembali dalam hidup. Itu adalah waktu. Kita tidak bisa mengulang sesuatu yang sudah terjadi. Kita yang sudah melakukannya, tidak mungkin mengulang hal yang sama dalam dua kali. Waktu itu cuma terjadi satu kali. Mereka yang menyesal adalah mereka yang tidak menerima keadaan itu sudah berlalu.

Saya ingin membuat nasi, apa daya air yang saya berikan begitu banyak sehingga yang saya dapatkan bubur. Menyesal, tentu. Sedih, pasti. Kecewa, wajar. Tetapi saya harus menerima apa yang sudah di depan mata. Apa itu? KENYATAAN. Meski kenyataan itu pahit dan tidak sesuai harapan, tetapi itu semua sudah berlalu. Terima kenyataan sebagai bagian dari hidup ini.

2. Tambahkan “bumbu” agar lebih enak

Jika saya mendapatkan bubur, tentu rasanya tidak sesuai harapan. Awalnya saya ingin makan nasi putih dan ayam goreng. Kenyataan, saya mendapatkan bubur. Saya tambahkan kaldu ayam di bubur, masukkan kecap asin, bawang goreng dan kemudian saya suwir-suwir ayam gorengnya. Jadilah bubur ayam! Meski saya tidak begitu suka dengan bubur ayam buatan saya, tetapi saya harus makan agar tidak sakit.

Dalam hidup, kenyataan terjadi sebagian besar di luar rencana kita. Bawa payung, ternyata sepanjang hari tidak hujan. Belajar sungguh-sunguh nilai yang didapat justru jelek. Berniat berbuat baik, malah disangka melecehkan. Ingin membantu seseorang justru difitnah. Berdoa supaya ujian tertulis dimudahkan, ternyata soal ujian begitu sulit. Dan seterusnya berbagai hal yang terjadi kebalikan dari harapan. Berpikirlah kreatif untuk memberi “bumbu” dari hal yang terjadi. Meski kita tidak benar-benar menyukai apa yang sudah terjadi, tetapi “bumbu” itu membuat kita merasa lebih baik tentunya.

3. Nikmati

Menikmati bubur ayam yang tidak sesuai harapan memang bukan hal yang mudah. Namun saya harus makan dan menikmatinya sebagai makan siang saya saat itu. Kata ibu saya, menikmati itu adalah “nrimo” . Menikmati itu tanpa syarat. Titik. Apa adanya. Itu kuncinya.

Jika sesuatu yang sudah berlalu itu bisa anda nikmati sebagai bagian dari kenyataan hidup maka semua itu terasa mudah. Menangis tidak akan mengubah keadaan. Meratapi tidak akan memundurkan waktu. Jadi menikmati itu seperti anak kecil, tanpa beban dan tanpa syarat.

4. Pengalaman, bukan PENYESALAN

Semula saya tidak tahu memasak baik nasi tanpa rice cooker maupun bubur ayam. Kini saya mengetahui bagaimana memasak keduanya dengan baik. Apa yang terjadi adalah pengalaman berharga. Saya tidak mungkin mengalaminya dua kali. Semua terjadi hanya satu kali. Itu yang disebut pengalaman.

Begitulah penyesalan selalu datang di belakang. Namun anda dan saya punya waktu sekarang dan masa depan. Tidak lagi melihat ke belakang sebagai penyesalan tetapi PENGALAMAN. Dengan begitu, kita punya kesempatan untuk belajar sesuatu hal. Bukankah hidup itu adalah pelajaran tanpa henti?

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.