Belajar dari Anne Frank, Menulis itu Mengenal Diri Sendiri

Apakah anda tahu siapa itu Anne Frank? Saya jadi paham sosok Anne Frank setelah menonton film autobiografi yang ditayangkan di Jerman. Film ini dikisahkan dari buku harian yang ditulis Anne sendiri. Buku harian ini akhirnya menjadi salah satu bukti kekejaman perang yang pernah terjadi di masa lalu. Bahwa perang menjadi tragedi kemanusiaan yang tak akan pernah terlupakan, itu dituliskan dari sudut pandang seorang Anne yang beranjak remaja.

Sosok Anne Frank cukup populer, anda bisa cari lebih lanjut profilnya. Dalam film ada hal menarik yang bisa dipetik sebagai hikmah hobbi saya menulis.

Anne mendapatkan hadiah buku harian saat usiannya beranjak 13 tahun. Usia 13 tahun adalah usia transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, ia menuliskan berbagai persoalan yang dihadapi umumnya. Misalnya bagaimana perubahan fisiknya yang berubah dan ini ditunjukkan dalam gaya berpakaiannya. Ia meminta saran pada kakak perempuannya bagaimana berpenampilan seperti perempuan dewasa.

Ia menuliskan gejolak remaja lainnya misalnya kala ia jatuh cinta dan memandang harapan pada lawan jenis. Anne juga menceritakan tentang siblings yakni hubungannya dengan kakak perempuannya yang banyak mendukung dan membimbingnya. Bahkan ia juga berselisih paham dengan ibunya, sementara ayahnya dipandang Anne cukup memahami karakter pribadi Anne.

Ini semua menjadi menarik untuk diceritakan kembali ketika Anne menuliskannya dengan baik dalam buku hariannya. Dia menuliskan pula bagaimana selama lebih dari dua tahun hidup dalam ruang kecil dan tersembunyi bersama keluarga lain ketika perang melanda. Namun Anne adalah sosok remaja pada umumnya, yang membuat saya terkenang masa saya beranjak remaja yang penuh tanya dan gejolak perubahan hidup.

Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulangtahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu. Ia menuliskan bagaimana ia kesal ketika seorang ibu yang sama-sama menumpang dalam rumah sempit persembunyian itu membandingkan Anne dengan kakak perempuannya yang punya kepribadian lebih baik.

Melalui buku harian, Anne menuliskan pergumulan masa remaja sebagai hal yang tak mudah dihadapi. Dia juga menolak permintaan ibunya saat dia harus berdoa menurut keyakinannya. Dia juga merasa dirinya itu unik dan tak ingin dibandingkan dengan kakak perempuannya. Ibunya kerap berpendapat bahwa kakaknya yang bernama Margot itu adalah anak perempuan yang baik. Anne menuliskan apa yang dia hadapi sebagai remaja dan seseorang Yahudi yang saat itu terancam karena kondisi perang.

Menurut saya, pesan menarik yang bisa dipetik dari film ini adalah menuliskan jurnal pribadi akan membantu mengenal diri sendiri.

Ini pula yang saya sarankan pada seorang remaja beberapa waktu lalu ketika dia merasa bingung dengan pergumulan hidupnya. Saya memberikannya buku harian agar dia menuliskan apa yang dia alami dan rasakan hanya untuk dirinya sendiri. Dua bulan kemudian dia memberi kabar bahwa saran saya menulis di buku harian itu membantunya untuk mengatasi kegalauan yang dia hadapi.

Menulis itu adalah ekspresi diri dari apa yang anda alami dan rasakan. Simpan itu untuk anda kemudian kelak anda baca bagaimana anda mengalami dan merasakan peristiwa itu. Dan anda akan tahu bahwa menulis itu mengenal diri sendiri.

Advertisements

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

4 thoughts on “Belajar dari Anne Frank, Menulis itu Mengenal Diri Sendiri”

  1. Ada bermacam2 perasaan saat membaca tulisan yang sudah lama. Seperti melihat diri sendiri lewat cermin. Ada rasa malu, kangen, dan kadang sedih. Tawa pun juga ada. Penyesalan saya rasa juga banyak yang mengalaminya ketika ingat diri kita dan apa yang menjadi persepsi terhadap kondisi dan kejadian saat itu.

    Sayangnya, di masa kecil dulu belum ada wordpress. Jadi banyak hal yg tak sempat direkam. Semua berlalu begitu saja. Smoga next time lebih baik.

    Liked by 3 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.