Menikah Tanpa Cinta, Tetapi Pilihan Orangtua

Berteman dengan berbagai bangsa dari belahan dunia lain mengenal saya memahami satu sama lain. Hidup itu tidak selalu sama dan menghargai perbedaan itu perlu. Salah satunya adalah cara pandang soal pernikahan yang akhirnya saya pahami. Itu yang membuat saya menuliskan kisah subjektif ini agar anda paham bahwa dunia itu luas dan beragam.

Cerita teman asal India menikahi pasangan yang menjadi pilihan keluarga bukan sekali dua kali saya dengar. Tak hanya India ada beberapa negara sebut saja Pakistan dan Afghanistan pun begitu. Namun saya memilih menceritakan pengalaman dan cara pandang teman saya asal India.

Menurut teman saya ini, di India adalah hal wajar bahwa menikah dengan orang yang dipilihkan oleh keluarga. Dia pun berpendapat bahwa cinta itu tumbuh bukan di awal, tetapi seiring berjalannya pernikahan. Saya yang mendegarnya takjub. Namun satu hal yang harus saya ingat, sistim menikah seperti itu menurut dia tidak pernah berakhir dengan perceraian. Saya yang mendengarnya semakin mangut-mangut juga mengingat perkawinan kini pun begitu mudah terancam dengan perceraian.

Ada kenalan saya asal India baru saja pulang kampung ke negaranya. Dia pamit untuk urusan keluarga. Sekembalinya dari India, dia bercerita bahwa dia melangsungkan pernikahan dengan perempuan pilihan keluarganya. Saya spontan bertanya seperti bagaimana kalian saling kenal satu sama lain, bagaimana kalian saling jatuh cinta atau bagaimana muncul ide menikah dan seterusnya. Dia hanya menjawab dia pun tak mengenal baik dengan perempuan yang kini jadi isterinya. Lalu saya pun semakin penasaran dan bertanya,

“Apakah kamu menikah tanpa cinta dengan perempuan yang jadi isterimu?”

Itu pertanyaan saya jika diterjemahkan dari bahasa Jerman. Dia pun menjawab,

“Cinta itu belakangan seiring berjalan waktu.”

Saya dan kenalan asal Jerman yang mendengar ceritanya sama-sama terkejut. Bagaimana kita bisa menikah di awal tanpa cinta. Kenyataannya itu terjadi pada kenalan saya ini dan kenalan saya lainnya asal India yang saya kenal di Jerman. Sekali lagi saya tak pernah mengerti bagaimana seseorang itu bisa menikah tanpa cinta.

Rupanya di belahan dunia lain masih ada pernikahan yang diawali tanpa cinta dan hanya berdasarkan kehendak keluarga. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Itu menurut mereka. Namun mereka kerap mengingatkan saya bahwa sistim pernikahan itu membuat mereka jarang atau tak pernah bercerai satu sama lain.

Kini beberapa kenalan saya asal India yang menikahi pasangannya tanpa cinta itu tinggal di sini untuk bekerja. Mereka kerap mengirimkan uang bulanan kepada keluarganya. Mereka punya anak-anak yang baik dan sehat. Kehidupan perkawinan mereka tanpa masalah, kata mereka. Liburan musim panas pasti dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga. Pasangan hidup mereka pun percaya dan setia meski hidup mereka kini long distance relationship. Itu semua ditunjukkan pada saya lewat foto dan cerita bahagia mereka.

Apakah anda percaya bahwa menikah itu di awal tanpa cinta?

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

4 thoughts on “Menikah Tanpa Cinta, Tetapi Pilihan Orangtua”

  1. Bisa jadi karena faktanya memang ada. Hanya kalau diterapkan pada anak2 sekarang yg paradigma berfikirnya sdh berbeda mingkin sulit. Lingkungan dan budaya sdh jauh berbeda. Mungkon maaih ba diterapkan di lingkungan yg maaih belum terkontaminasi dengan pemikiran manusia zaman now.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.