Jangan Remehkan Diri Sendiri! Kita Bisa Nyatanya

Siapa pun pasti pernah merasa pesimis terhadap kemampuan diri sendiri. Pesimis tersebut menandakan bahwa kita tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Padahal kita perlu tahu bahwa setiap individu terdapat kekuatan ‘raksasa’ yang perlu dibangunkan sewaktu-waktu sehingga kita bisa unjuk diri melebihi apa yang kita perkirakan.

Ini tentang pengalaman diri saya sendiri yang semula saya pikir bahwa saya gagal. Ceritanya adalah saya harus melewati satu ujian berupa presentasi yang menjelaskan suatu konsep akademis di depan kelas, termasuk di depan profesor sebagai dosen saya. Saya menyelesaikan bahan tertulis dengan sungguh-sungguh karena saya ingin lulus dan tak ingin mengulang lagi tahun depan.

Setelah materi tertulis sudah diselesaikan, kini saya belajar bagaimana presentasi di depan kaca di rumah. Latihan ini dimaksudkan agar saya tampil baik berbicara bahasa Jerman di depan mahasiswa yang mayoritas berbahasa ibu Jerman dan hanya 4 orang yang pendatang, termasuk saya. Anda tahu bahwa tiap kosakata terkesan asing buat saya, bahkan saya ragu dengan pengucapannya. Saya meminta bantuan google yang berbicara untuk melafalkan kosakata akademis yang asing buat saya.

Saat hari tampil, saya pun sudah merasa cemas dan khawatir. Hal normal buat siapa pun saat akan presentasi di depan banyak orang. Lalu giliran saya berbicara tentang materi yang harus saya kuasai. Sekitar lima belas detik berlalu saat saya memperkenalkan diri, tampak mereka melihat saya seolah ingin menerkam saya. Saya sungguh ingin berlari dan tak ingin menyelesaikannya. Masalahnya, saya harus tetap berdiri dan presentasi. Presentasi pun berlalu, entah saya pun tak tahu bagaimana penampilan saya saat itu.

Saya melakukan presentasi dengan tidak memikirkan siapa pun di depan saya karena saya tak tahu kosakata yang saya ucapkan itu terdengar aneh mungkin. Itu perkiraan saya. Contoh kata saja misal, Engagement. Di Jerman, kata ini tetap dipakai sebagai ‘Engagement’ padahal saya kenalnya ini adalah kosakata bahasa Inggris. Saya menyebutkan lafal kata ‘Engagement’ dalam bahasa Inggris sementara yang benar di Jerman, mereka melafalkan kata ini dalam bahasa Prancis. Tentu satu kata ini saja misalnya sudah berbeda.

Namun materi slide yang saya tampilkan dan handout yang saya berikan cukup membantu peserta yang mendengar saya berbicara untuk paham. Terus terang saya masih kesulitan melafalkan huruf berbahasa Jerman dengan umlaut seperti ö, ä dan ü sehingga saya benar-benar stress menghadapi hasil ujian yang akan diberikan nantinya.

Setelah presentasi, saya putuskan untuk menarik diri dan berpikir ulang, apakah saya tetap lanjut dengan jurusan saya atau mengganti jurusan? Saya semakin bimbang. Saya mulai meragukan kemampuan diri saya sendiri. Saya diberi batas waktu berpikir setelah saya konsultasi dengan Konselor Universitas.

Sebelum tenggat waktu pergantian jurusan berakhir, Tuhan membuat saya berpikir ulang lagi. Nilai ujian presentasi saya terkirim via email mahasiswa. Nilai saya sangat baik. Anda tahu bahwa penilaian di Jerman itu dimulai dari angka 1 sebagai sangat baik hingga angka 4.5 sebagai angka batas untuk lulus. Jika mendapatkan angka 5 maka pastinya mahasiswa tersebut tak lulus. Presentasi yang saya pikir itu buruk, ternyata tidak demikian. Profesor itu memberikan saya nilai 1.3 yang berarti nilai itu sangat baik buat saya.

Saya merefleksikan diri dari pengalaman tersebut. Bahwa terkadang saya dan juga mungkin anda pernah merasa pesimis dan meragukan potensi diri sendiri. Kita bisa saja meremehkan kemampuan sendiri. Nyatanya, jika kita mau dan percaya pada kemampuan diri sendiri maka selalu ada peluang untuk mendapatkan yang TERBAIK.

Jadi sesekali kita perlu membangunkan ‘raksasa‘ dalam diri sendiri untuk tampil melebihi apa yang kita pikirkan.

Bagaimana dengan anda?

Advertisements

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

9 thoughts on “Jangan Remehkan Diri Sendiri! Kita Bisa Nyatanya”

  1. Bagus sekali. Tulisan ini relate banget dengan saya hari ini. Tadi pagi saya kasih workshop 1 topik yang baru saya bawakan untuk pertama kali. Sepanjang workshop sebenarnya saya nervous banget. Di kepala saya berkecamuk dengan pertanyaan “apakah apa yang saya sampaikan bermanfaat? Apakah mereka suka?”. Beberapa point untuk saya sampaikan terlupakan. Tidak menyangka, setelah selesai workshop ada yang menfhampiri saya mengatakan “beautiful”, dan dia minta saya untuk membawakan topik yang sama du komunitasnya. Beberapa orang lain juga mengatakan mereka suka.

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.