Klöppeln, Seni Pekerjaan Merenda dan Belajar Kehidupan

Apakah anda pernah belajar menjahit atau membuat pekerjaan tangan dengan benang dan jarum? Jika ya, saya perkenalkan satu pekerjaan yang mungkin serupa yakni klöppeln.

Saya sendiri pernah mendapatkan keterampilan menjahit saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya bersekolah di sekolah katolik. Dahulu siswa laki-laki belajar keterampilan listrik dan siswa perempuan belajar keterampilan menjahit. Dari menjahit, saya belajar menekuni suatu pola dan berlatih kesabaran. Namun belajar merajut atau merenda, saya belum pernah melakukannya?

Bagaimana saya bisa mengenal klöppeln?

Melalui festival budaya yang diadakan rutin tiap tahun seperti yang sudah diulas di artikel ini, saya mendapati pameran budaya yakni klöppeln.

Salah satu contoh hasil karya klöppeln.

Di area pameran budaya yang menampilkan mode dan gaya pakaian dari waktu ke waktu tampak dua orang perempuan sedang membuat klöppeln. Tangan mereka begitu terampil memainkan benang membentuk suatu pola. Sedangkan mata mereka sibuk mengikuti pola yang menjadi acuan pekerjaan mereka. Di sisi lain, ada hasil karya mereka yang juga dipajang di situ. Saya pun mengamati.

Klöppeln ini semacam teknik pekerjaan tangan yang menggunakan benang dan kayu gelondongan yang dibentuk mengikuti pola. Jalinan benang harus sistimatis, berkaitan dan saling silang antara satu benang dengan benang yang lainnya. Tak mudah memang karena diperlukan ketelitian dan kesabaran. Jika kita sudah salah dan keluar dari pola desain, harus mencari letak kesalahannya.

Seni kerajinan tangan ini bermula dari Italia di abad 16. Di Jerman sendiri, pekerjaan tangan ini sempat populer bagi para perempuan sekitar abad 19.

Ada satu pelajaran menarik dari pekerjaan tangan ini. Salah satu oma menunjukkan hasil renda setengah jadi. Saya kagum mendapatinya sangat indah untuk variasi selimut. “sehr schön, Oma!” kata saya. Oma pun balas tersenyum.

Namun si oma menunjukkan lagi sisi balik renda, tampak rumit dan tak menarik. Dia pun berpesan bahwa sesuatu yang indah itu butuh proses dan ketekunan. Saya melihat satu sisi sebagai orang lain, hasilnya sangat indah. Sedangkan di sisi lain sebagai pembuatnya, dibalik hasilnya ada proses yang rumit dan tak mudah untuk dijalani.

Saya belajar saat itu juga bukan hanya soal klöppeln, pekerjaan merenda tetapi juga tentang kehidupan.

Advertisements

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.