Mesir, Luxor (19): Peninggalan Kolosal Firaun Amenhotep III yang Tak Utuh Lagi

Tampak depan, patung batu.
Tampak samping.

Ada dokumentasi foto berpigura yang menandai kemegahan tempat ini di masa lalu.

Usai berkunjung ke lembah timur pemakaman raja, perjalanan program kami selanjutnya adalah ke patung raksasa firaun. Destinasi selanjutnya berada di pintu masuk Luxor barat yang telah terlihat dari kaca bis sejak kami memasuki Luxor. Agar rute perjalanan tidak berputar-putar maka tujuan pertama adalah lembah pemakaman barat dan timur. Sebelum kembali ke kapal wisata, tujuan terakhir di hari itu adalah peninggalan kolosal yang terbuat dari batu, biasa disebut The Colossi of Memnon.

Begitu tiba di lokasi yang lapang, bis kami berhenti untuk parkir di situ. Reiseleiter, pemandu wisata dalam bahasa Jerman memberitahukan bahwa kami bisa berfoto selama tiga puluh menit di situ. Tempat ini memang tidak begitu istimewa dibandingkan tempat-tempat sebelumnya. Tak banyak pula yang bisa dikunjungi, sehingga tak banyak foto juga yang bisa diambil. Sebagian besar foto reruntuhan kuil, saya ambil dalam bus, lewat kaca jendela.

The colossi of memnon tidak ada tiket masuk. Di depan lapangan parkir tersedia toko-toko penjual sovenir dan toilet umum. Di seberang jalan tersedia aneka restoran lokal. Ini adalah lapangan luas yang gersang dengan dua patung batu besar seperti firaun yang biasa kami jumpai di tempat-tempat sebelumnya. Semua terbuat dari batu. Kami pun mendekat, turis-turis lain yang bersama kami sudah lebih dulu mendekat dan berfoto.

Menurut informasi pemandu wisata kami, patung ini setinggi sekitar 18 meter. Patung batu ini memang tampak tak utuh karena bencana gempa bumi sempat mengguncang Mesir. Batu-batu itu dikumpulkan lagi dan butuh bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Diperkirakan bangunan kolosal ini telah ada sejak abad 15 Sebelum Masehi. Bencana gempa pun pernah ada sejak sebelum masehi setelah bangunan kolosal ini berdiri megah. Beberapa kali gempa bumi mengguncangkannya hingga luluh lantak. Atas inisiatif beberapa ilmuwan, bangunan kolosal ini tersusun kembali.

Lalu siapakah figur dari patung kolosal tersebut?

Sisa reruntuhan yang terekam selama perjalanan.
Masih tampak berdiri dua figur patung batu yang masih kokoh, sementara lainnya tersisa puing batu saja.
Sudut lain saya berhasil merekam, bukti bahwa tempat ini pernah megah dan kolosal sebagai peradaban sebelum masehi.

Informasi lain menyebutkan patung ini setinggi 13 meter, yang menggambarkan Firaun Amenhotep III. Satu sisi figur firaun tersebut dan figur lain adalah isterinya, Royal Queen Tiye. Firaun Amenhotep pernah berkuasa sekitar abad 14 Sebelum Masehi dari Dinasti ke 18. Peninggalan kolosal ini didedikasikan untuk firaun Amenhotep sebagai kuil penyembahan.

Dua patung kolosal ini adalah pintu masuk menuju kuil yang didedikasikan untuk firaun ini. Sayangnya kuil yang begitu megah dan menandingi kemegahan kuil-kuil lainnya, luluh lantak akibat bencana alam seperti gempa bumi dan banjir pula. Contohnya abad 18 kuil ini mengalami banjir yang tinggi dan menenggelamkan sebagian wilayah ini. Hal ini ditunjukkan dalam dokumentasi foto di pinggir area kuil.

Area kuil yang luas tak mungkin kami jangkau lagi. Selain suhu yang panas dan tak bersahabat, area kuil ini masih dalam penyelidikan para ilmuwan. Di area sekitar kuil tampak diselingi sawah. Di sisi area ada pigura berfoto yang mendokumentasikan kuil ini di abad 18 sesudah masehi.

Kami hanya berfoto sejenak, tak lebih. Pedagang asongan tampak gigih menawarkan sovenir ke kami. Hampir semua di antara kami menolak halus tawaran mereka. Kami tetap sibuk berfoto atau kembali duduk di dalam bis. Selesai berfoto, kami segera ingin mencari tempat sejuk untuk menangkal teriknya matahari sebelum jam makan siang tiba.

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]