Mesir (21): Luxor Temple Menjadi Tempat Sembahyang Sejak Sebelum Masehi

Dua patung Ramses II sedang duduk berada di muka.
Salah satu obeliks lebih dekat.
Empat patung Ramses II berdiri dan tugu obeliks.
Area Ramses II court.
Dahulu tempat ini juga menjadi tempat penobatan firaun sebelum berkuasa.

Mesir memang tak pernah selesai dikupas wisata sejarahnya. Negeri tertua di dunia ini rupanya menyimpan banyak sekali sejarah peradaban yang tak lekang waktu. Itu sebab cerita wisata saya pun masih berlanjut. Masih di Luxor, kota yang menyimpan kekayaan sejarah para Firaun yang pernah dipelajari dalam ilmu sejarah dan budaya di sekolah dulu. Kali ini wisata berlanjut ke Luxor Temple, tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi bila anda tertarik dengan sejarah, budaya, arsitektur dan plus agama.

Luxor temple letaknya tepat di tengah kota Luxor sendiri. Berada di pusat kota, temple ini begitu mempesona sebagai objek foto orang yang lalu lalang. Ada traffic light, gedung pemerintahan, hotel dan area pertokoan yang berada di sekitar lokasi wisata ini. Itu sebab lokasi ini dijadikan destinasi terakhir karena mudah dijangkau.

Cuaca yang terik saat kami datang membuat saya sudah lelah begitu tiba. Pemandu wisata memberikan penjelasan tentang asal muasal pendirian temple dan keterkaitan beberapa tempat yang sebelumnya sudah dikunjungi. Hanya saja saya sudah tak fokus lagi menyimaknya dalam bahasa Jerman. Padahal lokasi wisata ini amat menarik wisatawan karena bangunan arsitekturnya yang megah, yang pernah dibangun selama ratusan tahun. Wow!

Bangunan yang megah ini diperkirakan ada sejak abad 15 Sebelum Masehi. Keberadaan bangunan ini masih ada kaitan dengan Karnak Temple, yang sudah saya ulas sebelumnya. Bahkan ada garis lurus seperti jalan yang sebelumnya menghubungkan kedua bangunan antara karnak temple dan luxor temple. Bayangkan ini sudah terjadi tiga ribu tahun lalu sehingga banyak peninggalan yang tak utuh dan tak sempurna. Ukiran tiap dinding candi tampak tak jelas tetapi penggalian dan penyelidikan sejarah tak berhenti untuk mencari tahu.

Untuk menunjukkan keterkaitan Karnak Temple dan Luxor Temple, ada sebuah festival ritual kuno yang membawa patung dewa Amun, dewi Mut dan dewa Khonsu dari Karnak Temple ke Luxor Temple. Festival ini disebut festival Opet sesuai penanggalan keagamaan bangsa Mesir waktu itu, sebelum masehi. Dengan begitu temple ini juga didedikasikan untuk pemujaan dewa-dewa tersebut, sebagai festival keagamaan tertua. Konon di Luxor Temple terdapat tempat bagi Amun mengalami kelahiran kembali. Itu sebab nama Luxor Temple disebut Thebes. Thebes adalah sebutan orang Yunani untuk wilayah Luxor pada masa itu sebagai tempat berdevosi kepada dewa Amun.

Kuil diawali dengan sphinx yang sebelumnya menghubungkan dengan Karnak Temple. Sphinx berkepala manusia dulu terhubung sampai Karnak Temple. Lokasinya berada di selatan. Di muka kuil ada 2 tiang kokoh seperti obeliks yang berukir kisah heroik tentang pertempuran Mesir melawan bangsa lain. Tiang penyangga di muka kuil dibangun oleh Ramses II dengan 4 patung Ramses yang berdiri dan 2 patung Ramses yang duduk dengan tangan diletakkan di lutut. Area ini sendiri disebut area Ramses II court. Ramses II hanya memperluas kuil ini, sebelum Hatshepsut dan Amenhotep III membangunnya.

Saya sudah tak banyak mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Hanya saja, saya ingat bahwa kuil ini pernah menjadi pusat keagamaan terbesar. Dindingnya bergambarkan ukiran pujian kepada dewa-dewa Mesir dahulu. Namun bangsa Romawi datang menguasai Mesir. Luxor temple pun beralih fungsi.

Diperjelas dengan denah ini.
Sphinx dan lurus ke depan, tampak gereja.

Dewa Amun-ra dan dewi Mut.
Masjid.


Abad 6 Masehi Luxor Temple yang megah ini menjadi gereja kristen koptik yang mengawali jemaat kristen awal di Mesir. Untuk membuktikannya, di sini masih terdapat altar dan hiasan dinding seperti di gereja, tempat sembahyang umat kristiani. Sayangnya warnanya semakin pudar seiring waktu. Ada yang mengatakan bahwa dulu temple ini dijadikan biara untuk para misionaris kristen.

Salah satu peninggalan misionaris kristen di Mesir, anda bisa melihat di pusat kota Luxor gereja katolik Santa Chatarina dan beberapa gereja denominasi lainnya. Bahkan saat saya datang di hari Minggu ke Luxor, tampak gereja dipadati umat yang sedang beribadah.

Pemandu wisata mengatakan ada satu dinding yang dulunya menjadi kuil pemujaan dewa, berubah menjadi salah satu bagian gereja. Kemudian dinding itu pula menjadi bagian dari masjid, tempat sembahyang umat islam. Masjid itu bernama Abu Al-Haggag. Sampai sekarang masjid ini masih digunakan masyarakat sekitar untuk bersembahyang.

Dari sini saya bisa menangkap maksud dinding informasi yang bertuliskan dalam bahasa Inggris sebagai berikut. “The functioning mosque makes Luxor Temple one of the rare sites in Egypt that has been a place continous worship since at least 2000 BC.” Itu sebab, anda layak menyelami misteri peradaban manusia berabad-abad lamanya di tempat ini.