Ilustrasi.

Kemunculan emansipasi telah memberikan pengaruh dalam dunia kerja. Perempuan dan laki-laki pun punya peluang yang sama untuk menduduki posisi pemimpin. Meski ini belum tentu berlaku di semua perusahaan, tetapi saya terkejut juga ketika mendengarkan teman saya mengeluh lebih suka dipimpin oleh si A ketimbang B, berdasarkan gendernya. Hanya karena gender, dia berpikir bahwa bos perempuan itu lebih baik ketimbang bos laki-laki.

Begitu tiba di rumah, tangan saya sibuk mencari tahu tentang studi yang berkaitan. Saya bukan feminist activist, tetapi sebagai perempuan saya menjadi penasaran juga. Apakah benar berlaku bahwa bos perempuan lebih baik daripada bos laki-laki seperti yang dikatakan teman saya tadi?

Suatu studi menyatakan bahwa perempuan lebih terlibat dalam tim kerja, daripada pimpinan laki-laki. Ini yang menyebabkan pengaruh keterlibatan pemimpin perempuan mendorong performance lebih tinggi dalam pekerjaan. Meski studi ini tidak dapat digeneralisasikan dalam semua bidang pekerjaan, nyatanya pemimpin perempuan itu memakai pendekatan pendampingan ketimbang pendekatan komando yang dilakukan pemimpin pria. Melalui pendekatan yang seperti ini, pemimpin perempuan membangun komunikasi yang partisipatif sehingga lebih disukai. Sementara pemimpin pria tampak seperti militer dan tradisional yang mengesankan adanya hierarki dalam kepemimpinan.

Saya sendiri tidak terlalu ambil pusing, apakah suka dipimpin bos perempuan atau bos laki-laki karena saya berpikir ada perbedaan karakter yang unik yang tidak bisa disamaratakan. Ini sama seperti mengapa mereka memilih saya yang perempuan untuk suatu pekerjaan ini dan itu, ketimbang laki-laki. Ada alasan yang mendasar dan mungkin logis bahwa posisi tertentu memang lebih baik untuk lelaki dan atau posisi lain memang untuk perempuan. Hanya saja akan terdengar aneh saja jika anda suka dipimpin oleh si A atau B hanya karena gender, bukan karena kapasitas.

Gaya partisipatif pada bos perempuan bisa jadi tidak disukai karena terkesan tidak efektif. Namun gaya kepemimpinan bos laki-laki yang tradisional bisa jadi bumerang karena kontrol yang ketat dan lebih banyak diatur. Dengan begitu, sebenarnya sama saja. Tak ada yang lebih baik antara dipimpin bos perempuan atau bos laki-laki. Semua tergantung bagaimana kita sebagai pekerja bisa menunjukkan kinerja yang baik, bukan tergantung gender pemimpinnya.

Apakah kita akan giat bekerja hanya karena siapa bos kita? Saya pikir justru kita menjadi aktif dan produktif dalam bekerja karena siapa kita sesungguhnya.

Sejak perempuan diberi peluang dalam manajeman, tidak berarti bahwa pria dan wanita bisa dianggap sama dalam kepemimpinan. Mereka punya cara dan pendekatan tersendiri sebagaimana karakter kepribadian mereka. Orang yang berjiwa pemimpin tampak ketika mereka mampu mengorganisir dan menangani pekerjaan.

Satu hal menarik yang saya pelajari dari ayah saya adalah bagaimana kita bisa menjadi pemimpin, jika kita tidak bisa memimpin diri sendiri menjadi lebih baik. Jangan harap kita bisa menjadi pemimpin jika kita tidak bisa memimpin dalam hal kecil. Segala yang besar bermula dari perkara kecil. Bagaimana kita bisa jadi pemimpin, bila kita tidak tahu bagaimana mengelola kebutuhan diri sendiri. Jadi saya lebih setuju pemimpin itu tidak diperhatikan berdasarkan gendernya tetapi kapasitas dan kemampuannya.