Salah satu model kue lebkuchen yang biasa dijual di supermarket.
Empat lilin Advent sudah dinyalakan. Tinggal hitungan hari, Natal tiba.

Hari raya natal tinggal dalam hitungan jari, berbagai persiapan sudah mulai dilakukan bagi mereka yang merayakannya. Tentu hidangan kue-kue natal pun tak luput disiapkan sebagai sajian para tamu yang datang di hari istimewa tersebut. Di Indonesia saya sudah membayangkan kue nastar mungkin sudah mulai disiapkan. Berbicara kue kering, kali ini saya berbicara lebkuchen asal Jerman yang memang dikenal saat hari istimewa, hari natal yang dirayakan mayoritas penduduk sini.

Lebkuchen atau ada yang menyebutnya pfefferkuchen adalah kue kering asal Jerman yang sudah mendunia. Saya sendiri pernah melihat bagaimana lebkuchen disajikan di salah satu hotel di Jakarta sebagai dekorasi natal. Begitu melegendanya kue ini karena dulu saya mengenalnya ini adalah kue jahe atau gingerbread. Ada rasa renyah, gurih, hangat dan sedikit manis menjadi pengalaman saya mencicipi kue ini. Lebkuchen itu pasti tersedia di supermarket jelang natal, tetapi seiring banyaknya penggemar kue ini rupanya kue ini bisa diperoleh kapan saja di supermarket.

Untuk mengetahui sejarah lebkuchen, tentu anda harus datang ke toko kue legendaris di Nuremberg. Saya sendiri pernah datang ke toko tersebut lewat lawatan tempat yang harus dikunjungi di Nuremberg. Di Haus des lebkuchen, anda bisa merasakan rasa dan sensasi kue lebkuchen yang diracik sejak tahun 1500-an. Kue lebkuchen memang punya banyak kreasi sehingga disukai banyak orang. Tak harus menunggu hari natal, saat volkfest kadang tersedia lebkuchen dengan bentuk hati di gerai makanan manis. Variasi lain lebkuchen juga bisa ditemui dalam bentuk model. Di sebuah hotel di Jakarta, saya pernah menemukan kue lebkuchen dibentuk menjadi rumah-rumah bergaya eropa yang di musim dingin.

Kue lebkuchen itu pasti tampak berwarna kecokelatan. Di Belanda misalnya kue lebkuchen dibuat seperti persegi panjang yang biasa dinikmati sambil minum kopi. Sedangkan di Austria, kue lebkuchen sudah mendapatkan tempat tersendiri sejak lama. Sebagai tetangga terdekat, Austria memiliki banyak produsen lebkuchen yang siap dinikmati kapan saja. Lebkuchen itu bisa ditemukan juga di Swiss, Polandia atau Ceko sebagai negara tetangga Jerman. Itu berarti lebkuchen begitu populer.

Dari sekedar kue, lebkuchen juga menjadi media budaya yang memperkenalkan tradisi natal dari Jerman ke berbagai belahan dunia. Seperti kue lebkuchen yang menjadi kue jahe ini di Jakarta misalnya dibentuk menjadi dekorasi natal. Atau kompetisi membuat dekorasi lebkuchen bagi para pembuat kue. Sedangkan saya di sini, lebkuchen biasa dibawakan ke kelas oleh sekelompok mahasiswa yang memperagakan Santa Nikolaus. Ada semacam drama kecil dan meminta donasi untuk kesejahteraan anak di seluruh dunia.

Kue lebkuchen punya banyak cerita, tetapi mengapa namanya lebkuchen?

Lebkuchen itu menjadi nama ejaan lama yang diawali pada abad pertengahan dimana saat itu ejaan yang digunakan adalah mittelhochdeutsch. Mittelhochdeutsch itu berada pada periode abad pertengahan sekitar abad 1500-an. Kata-kata dalam bahasa Jerman seperti di Alkitab misalnya terkadang menjadi asing bagi saya bila masih menggunakan ejaan lama, mittelhochdeutsch. Sedangkan kini ejaan bahasa Jerman menggunakan hochdeutsch sebagai standar berkomunikasi menyiasati perbedaan dialek dalam kultur di sini.

Selamat merayakan Minggu Advent keempat bagi yang merayakannya!