Brussels (3): Cara Memikat Pelanggan Restoran Ini Bisa Ditiru

Restoran selera asia di Brussels.
Restoran yang menyajikan menu sea food.
Contoh kreasi wafel ini juga menarik.

Waktu makan siang tiba. Saya dan suami masih berputar di area pusat kota yang menjadi destinasi wisata. Saya bermaksud untuk mengunjungi satu lokasi tempat lagi sebelum makan siang, tetapi godaan-godaan dilalui yang membuat saya takluk. Godaan itu adalah kami melewati restoran yang menawarkan aneka macam sajian sesuai selera. Suami saya masih bisa menahan diri, sementara saya semakin tergoda setelah melihat food presentation di depan restoran. Oh No!

Tak hanya saya, beberapa turis asal Asia tampak berhenti memperhatikan tampilan makanan yang mencitrakan menu restoran. Tentu saja makanan-makan tersebut visualisasi dari menu restoran. Ini adalah palsu, meski sekilas anda melihatnya seperti menu makanan asli yang menggairahkan dan menggoda saya. Namun ada juga beberapa kedai jajanan yang menyajikan food presentation itu adalah makanan sungguhan. Ini dimaksudkan agar turis dan orang yang tertarik dapat langsung mengerti makanan yang dipesan.

Saya adalah orang yang bertipe visual. Jika saya melihat daftar menu makanan dan hendak memesan, saya butuh waktu sejenak untuk membayangkan seperti apa makanan yang akan dipesan. Nah, food presentation yang dibuat restoran dan kedai makanan ini sangat membantu orang bertipe visual seperti saya. Betul ‘kan, akhirnya saya tergoda untuk mampir dan menikmati makan siang.

Ide food presentation memang bukan kali pertama saya jumpai. Di Asia pun saya pernah menjumpainya sebagai bagian dari strategi marketing. Saya pun pernah menyaksikan program televisi yang membahas industri rumahan yang berbisnis food presentation. Industri ini tak mudah karena membutuhkan ketrampilan menata dan membuat dekorasi yang tak mudah. Ada sisi seni dan kuliner di sini.

Banyak restoran yang juga mencoba cara ini agar pembeli datang ke lokasi usaha mereka. Selain itu food presentation meminimalisir komunikasi antara pramusaji dengan pembeli, karena pembeli sudah mendapatkan gambaran makanan yang hendak dipesan. Apalagi lokasi usaha di sekitar area turis misalnya, hambatan bahasa bisa diminimalisir setelah pembeli tahu apa yang hendak dipesannya.

Strategi membuat food presentation bukan tanpa alasan. Jika anda memajang makanan yang tampilannya menarik dan menggairahkan di media sosial saja, bukan tidak mungkin anda tertarik. Suatu studi (2012) menyatakan visualisasi makanan akan memicu hormon di otak yang membuat anda ingin mencobanya atau merasa lapar.

Oleh karena itu, rasa makanan untuk pertama kali bagi orang yang belum tahu makanan tersebut adalah nomor kedua. Pertama, orang tertarik mencobanya setelah melihat bagaimana penampilan makanan yang begitu menarik itu. Tak hanya itu, tampilan contoh makanan ini bisa menjadi ukuran kualitas rasa makanan yang hendak dipesan.

Ada pendapat?

Author: Anna Liwun

I can do all things through Christ who strengthens me [Philippians 4:13]