WordPress mengumumkan.
Patung Multatuli di Amsterdam.

Anne Frank Huis.

WordPress mengingatkan saya bahwa hari ini saya sudah memasuki 900 hari blogging tiap hari alias one day one post di hari ke 900. Bukan hal mudah untuk mencari ide menulis dan tetap memperbaharui blog tiap hari lewat artikel gado-gado atau tema bervariasi. Saya memang tak bermaksud pada satu tema saja di blog ini karena blog ini berisi pendapat dan pengalaman saya yang indah dari berbagai macam pernik kehidupan. Saya berterimakasih pada anda yang setia untuk berkunjung ke blog saya. Tema hari ke-900 blogging tiap hari adalah Multatuli dan Anne Frank dalam perjalanan ke Amsterdam.

Bukan senjata untuk melawan dunia, tetapi tulisan. Petikan itu benar adanya ketika Multatuli, sang penulis berkebangsaan Belanda itu berhasil membuktikannya. Multatuli sebagai nama pena, memiliki nama asli Eduard Douwes Decker, yang diperhitungkan sebagai penulis hebat di Belanda. Saya sendiri mengenal namanya lewat pelajaran-pelajaran di sekolah di Indonesia. Sebelumnya, saya sudah menyambangi Museum Multatuli di Lebak, Banten Indonesia.

Begitu menjejakkan kaki di Amsterdam, saya pun menyempatkan diri bertandang ke museum Multatuli di bilangan pusat kota Amsterdam. Sayangnya, saya datang di hari libur Natal sehingga museum tersebut tidak beroperasi. Namun ini tidak menyurutkan niat saya untuk mencari tahu, karya romannya juga masih tersedia di beberapa toko buku yang saya sambangi di Amsterdam. Multatuli yang lahir tahun 1820 di Belanda, semasa hidupnya ia pernah tinggal di Indonesia kemudian ia wafat di Jerman tahun 1887.

Poster di depan museum.

Melalui roman “Max Havelaar” yang diterbitkan tahun 1860, sistim kerja paksa yang sedang berlangsung di Indonesia kala itu berhasil dihentikan sepuluh tahun kemudian. Karya tulisannya yang menyentuh berjudul “Max Havelaar” berisikan tentang sistim tanam paksa (Cultuurstelsel) yang terjadi di Lebak, Banten di jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1860. Ia juga menyisipkan roman di dalamnya, seperti asmara Saidjah dan Adinda. Pembaca akan tersentuh dengan kisah dalam buku tersebut. Rupanya buah pikiran ini mampu mengubah dunia, meski butuh 10 tahun. Pada tahun 1870, sistim tanam paksa dihapuskan di Indonesia dengan terbitnya UU Agraria tahun 1870.

Rupanya menulis itu memberi kekuatan untuk memberi perubahan untuk dunia. Anda pasti mengenal beberapa nama penulis dunia yang juga melakukan hal yang sama untuk membuat perubahan. Meski itu sekedar buku harian saja, nyatanya hal itu memberi inspirasi bagi banyak orang. Sebut saja Anne Frank, seorang gadis belasan tahun yang menuliskan tentang situasi mencekam peristiwa perang dunia kedua dari sudut pandangnya, gadis berusia belasan tahun. Letak museum Anne Frank itu pun tak jauh dari Museum Multatuli.

Tampak muka, Museum Anne Frank Huis.
Rumah di tengah adalah museum Anne Frank.


Lagi-lagi saya tidak dapat menelusuri museum Anne Frank. Dua minggu sebelum kedatangan, tiket museum sudah habis terjual. Tiket museumnya hanya bisa dibeli secara online. Padahal saya begitu bersemangat untuk mengunjunginya, begitu tahu saya akan berangkat ke Amsterdam. Saya sendiri pernah menuliskan pelajaran yang dipetik Anne Frank saat menulis buku hariannya usai menonton dokumenter filmnya yang berbahasa Jerman. Saran saya, anda perlu membeli tiket museum Anne Frank satu atau dua bulan sebelum kedatangan agar bisa diijinkan masuk.

Mungkin saya atau bisa jadi anda belum sehebat mereka dalam menulis, tetapi siapa sangka bahwa catatan kecil yang kita buat bisa menjadi dokumentasi yang menginspirasi. Menulis itu memang tak mudah pun tak sulit, tetapi kebanyakan kita menjadi lupa untuk menuliskannya. Padahal setiap hari tangan kita disibukkan dengan menulis atau mengetik pesan singkat di smartphone. Kita mungkin juga menuliskan rencana harian atau laporan pekerjaan tetapi kita lupa membuat catatan di luar itu sebagai jurnal.

Menulis itu mencerahkan bagi penikmat tulisan. Bukan tak mungkin catatan yang kita tulis membawa perubahan dalam diri sendiri. Ini seperti self reminder untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena otak kita terbatas, yang tak mungkin menyimpan semuanya. Melalui tulisan, kita terbiasa mendokumentasikan apa pun yang berjalan. Anda bisa menyebutnya tulisan itu sebagai kenangan, tetapi saya lebih menyebutnya pengalaman dan mungkin pelajaran.

Dear lovely Readers, thanks for stopping by. Much love:)