Jaga jarak selama di supermarket.

#StayAtHome#WirBleibenZuHause#

Semula semua biasa saja ketika saya berbelanja di supermarket, tetapi kini segalanya bisa berubah ketika pandemi corona melanda dunia ini. Orang menjadi sensitif dan mengawasi satu sama lain. Seluruh supermarket memasang peraturan di pintu masuk demi keamanan dan kenyamanan bersama terkait krisis corona. Jika dulu saya tidak mendapati petugas keamanan di supermarket di wilayah tempat tinggal saya, kini ada 1 petugas keamanan yang mengawasi bersama. Di pintu masuk pun, ada sebagian supermarket menyediakan hand sanitizer untuk para pembeli secara gratis.

Perilaku berbelanja pun menjadi sorotan ketika tissue toilet di awal pemberlakuan masa ‘berdiam di rumah’ menjadi sulit dicari. Bersyukurlah, tisu toilet kini sudah bisa ditemukan kembali. Entah stoknya diperbanyak atau seiring kesadaran orang berbelanja.

“Berbelanjalah sesuai kebutuhan anda” mulai dikampanyekan agar orang berbelanja memikirkan kepentingan orang lain juga. Hal ini dimaksudkan untuk menekan fenomena panic buying yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Untuk menghemat waktu, saya membuat daftar belanja agar tidak perlu berlama-lama di luar rumah. Berbelanja hanya berdasarkan kebutuhan kemudian langsung pulang ke rumah. Itu perubahan perilaku saya berbelanja, tetapi perilaku lainnya bisa disimak dalam ulasan berikut.

1. Pakai sarung tangan dan masker

Jika di Jakarta dulu, saya begitu mudah menemukan orang memakai masker di jalan-jalan umum, maka ini tidak berlaku di tempat tinggal saya. Begitu pun jika ada yang terkena flu atau batuk, maka cukup gunakan saputangan untuk menutupinya. Orang akan menaruh curiga jika ada orang mengenakan masker di area publik. Itu dulu! Kini perubahan perilaku berbelanja terjadi seperti mengenakan masker. Masker yang dulu hanya dikenakan oleh tenaga medis di wilayah tempat tinggal saya, kini siapa saja yang punya dan merasa khawatir, bisa mengenakan masker ke supermarket. Baik pembeli yang merasa perlu pakai masker maupun staf supermarket pun memakai masker. Padahal dulu tidak demikian.

Saya pernah menuliskan penggunaan sarung tangan saat musim dingin untuk melindungi tangan. Namun perilaku mengenakan sarung tangan seiring krisis corona berbeda. Sarung tangan tentunya bukan untuk mode fashion seperti sarung tangan berbahan kulit misalnya, melainkan sarung tangan berbahan polyster seperti karet begitu. Padahal sarung tangan berbahan seperti itu biasanya digunakan untuk aktivitas membersihkan, kini seseorang bisa mengenakannya juga untuk berbelanja.

2. Hanya boleh 1 orang yang masuk

Kebijakan mengurangi gerombolan orang yang pergi dan bertemu dalam kelompok pun mulai diterapkan. Pusat perbelanjaan seperti shopping center dan supermarket non sembako (lebensmittel) memang ditutup, tetapi supermarket menjual kebutuhan pokok masih beroperasi. Tidak semua supermarket punya aturan yang sama.

Pada supermarket berskala besar dengan lokasi lebih luas, ada kebijakan hanya satu orang saja yang diijinkan masuk untuk berbelanja. Hal ini untuk mengurangi jumlah orang dalam supermarket. Di muka supermarket telah tersedia informasi petunjuk bahwa hanya 1 orang saja yang berada di dalam supermarket. Kemudian petugas keamanan yang dahulu tidak ada di supermarket kini tampak berjaga di pintu masuk mengingatkan pelanggan yang nekat datang bergerombol atau lebih dari 1 orang. Padahal dahulu, tidak ada petugas keamanan di pintu masuk.

3. Tidak banyak memegang bahan makanan, melainkan ambil yang akan dibeli

Sebelum terjadi pandemi corona, saya merasa sah-sah saja menimbang jahe dan memilih mana yang baik. Karena jahe di sini tidak terbungkus dan tersedia dengan berbagai ukuran di kotak tersendiri. Selama krisis corona ini, saya benar-benar lupa bahwa orang begitu sensitif dan akhirnya saya pun ditegur. Saya diberi peringatan oleh salah seorang pembeli yang memperhatikan saya memilih jahe terlalu lama dan memegang jahe tanpa sarung tangan. Pelajaran memang! Pandemi ini membuat orang begitu sensitif berbelanja di supermarket. Begitulah!

4. Ketersediaan tak banyak atau kosong pada rak makanan tahan lama, tisu toilet dan disinfektant hingga peringatan maksimal hanya beli 1 saja

Awal krisis corona yang melanda tempat tinggal saya, saya tidak begitu peduli dengan tisu toilet karena saya masih memiliki stok di rumah. Di sini 1 stok itu terdiri dari beberapa rol tisu toilet sehingga saya tidak terlalu khawatir. Semakin saya perhatikan, ini semakin ajaib ketika rak bagian tisu toilet itu kosong. Akhirnya saya pun ikut membeli ketika masih ada stok tak banyak di salah satu supermarket terdekat, tetapi hanya 1 stok saja yang boleh dibeli. Ada peringatan bahwa pembeli hanya boleh membeli 1 stok saja.

Setelah dua minggu waktu berdiam di rumah, nyatanya rak bagian tisu toilet dan disinfektant itu memang sering kosong. Beruntung jika pembeli datang saat supermarket sedang memasukkan stok baru sehingga bisa langsung membelinya. Namun saya masih mendapati kosong atau tak banyak pada stok tisu toilet, disinfektan dan rak makanan tahan lama di beberapa supermarket.

5. Tetap jaga jarak

Perilaku yang berubah adalah soal jaga jarak. Supermarket mulai menempelkan tanda peringatan untuk menjaga jarak di lantai supermaket. Ada sebagian supermarket di sini yang memang memiliki toko daging di dalam supermarket. Dulu kita bisa bebas berkomunikasi, melihat apa yang akan dibeli lebih dekat ke etalase kaca sambil menunggu giliran. Kini ada peringatan untuk tidak mendekati etalase kaca sekitar dua meter.

Begitu tiba di kasir, ada peringatan untuk tetap jaga jarak sekitar dua meter antara satu pembeli dengan pembeli lainnya sembari menunggu giliran di kasir. Selain itu, kasir kini dilengkapi dengan partisi transparan pelindung yang menjadi jarak antara pembeli dengan kasir. Dahulu, tentu tidak begitu.

Begitulah hasil pengalaman saya terhadap perubahan perilaku berbelanja yang berbeda setelah krisis corona masih terjadi sampai sekarang. Pastinya, kita semua ingin sehat dan berharap bahwa wabah ini segera berlalu.

Bagaimana perubahan perilaku berbelanja di tempat tinggal anda?