Den Haag (4): Gereja Katolik De kerk Onze Lieve Vrouw Onbevlekt Ontvangen

#StayAtHome#WirBleibenZuHause#

Gereja dengan dua menara runcing, mengingatkan bahwa arsitektur ini adalah gaya gothic.
Terlihat jelas menara dan patung Bunda Maria di pintu utama gereja.

Minggu ini adalah Hari Raya Minggu Palma bagi umat Kristiani di seluruh dunia yang menjadi awal pekan suci, jelang Hari Raya Paskah. Tahun ini begitu berbeda dibandingkan tradisi sebelumnya, dimana dunia sedang dilanda krisis corona. Meski begitu, antusias umat untuk beribadah dapat tetap dilaksanakan di rumah lewat layanan ibadah digital yang difasilitasi. Sebagai peringatan, saya menuliskan perjalanan berikut mengunjungi salah satu gereja katolik di Den Haag beberapa waktu lalu.

Kami tiba di Den Haag siang hari kala hari itu masih terhitung libur hari raya natal. Kota ini tampak begitu sepi, bahkan di pusat kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Bisa jadi warga di sini masih larut dalam keriaan hari raya natal sebagai hari berkumpul dengan keluarga dan sanak familie. Sekitar satu jam kami berkendara dari Amsterdam, ibukota Belanda. Tanpa tujuan, kami berputar dan berkeliling sejenak di pusat kota Den Haag.

Kota Den Haag tak seramai seperti Amsterdam. Kota yang dikenal sebagai International Court Justice ini berpenduduk sekitar 2,7 juta orang. Konon ini menjadi kota terbesar ke-13 di wilayah Uni Eropa. Tetapi mengapa sepi sekali waktu kami datang? Ini masih libur natal barangkali. Akhirnya mobil kami melipir ke Elandplein (Eland Square) di Den Haag Zeeheldenkwartier.

Kami berhenti di gereja katolik Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda Dosa. Nama resmi gereja tersebut adalah De kerk Onze-Lieve-Vrouw-Onbevlekt-Ontvangen. Maklum kami tak punya tujuan di Den Haag. Ada wisata keluarga yang menarik juga di sini. Ya, Madurodam sebagai wisata mini mengenali Belanda. Silahkan simak cerita saya sebelumnya.

Baca juga: Madurodam, wisata keluarga di Den Haag

Kami menyelusuri rumah Tuhan yang begitu mempesona di Den Haag, yang ditelisik dari pencarian informasi bahwa gereja dibangun tahun 1891. Akibat pertumbuhan populasi yang cepat kala itu, umat katolik berharap ada gereja katolik di situ. Sementara tak jauh dari situ sudah ada gereja protestan. Gereja katolik ini menjadi impian umat katolik yang sebenarnya sudah bertambah jumlahnya sejak tahun 1800-an. Bangunan ini diharapkan menggantikan gereja sementara yang telah ada sejak tahun 1878.

Depan gereja, taman yang sepi.
Pintu masuk gereja.

Baca juga: 6 Gereja Menawan di Amsterdam

Kemudian ada inisiatif mendirikan gereja katolik seperti yang tampak sekarang dimulai. Gaya arstitektur neo-gothic tampak pada gereja ini, dengan dua menaranya yang runcing. Umumnya saya perhatikan bangunan gereja di Amsterdam adalah neo-gothic. Konon gaya arsitektur pada gereja ini meniru gereja Notre Dam Paris yang tersohor dengan keindahannya. Semisal pada dua menara runcing di gereja ini dulu terdapat lonceng dan jam yang indah. Ini dimaksudkan untuk berdering dua kali sehari. Tetapi ide ini diprotes, pada abad 1900-an karena bunyinya yang nyaring dan mengganggu. Kini tak ada lagi jam berdering, namun jam besar itu tetap ada di menara.

Organ dalam gereja baru ada sekitar awal abad 20. Sedangkan jendala yang memenuhi gereja dengan patri yang indah berjumlah 66. Sayangnya jendela gereja pernah menjadi korban saksi perang dunia. Setelah perang berakhir, lonceng, organ dan kondisi gereja mulai diperbaiki, tetapi jendela yang hancur tetap dipertahankan. Hingga kini gereja katolik ini masih aktif melayani umat di sekitarnya meski lonceng gereja tak lagi berdenting memanggil umatnya.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga! Selamat memasuki pekan suci bagi anda yang merayakannya!