Telur berhias di depan Katedral Zagreb, tahun 2019 lalu.

Sewaktu saya masih anak-anak, paskah menjadi kesempatan saya mendapatkan keranjang yang berisi telur paskah berwarna dan berbagai manisan. Orangtua saya membelikannya di depan gereja sebagai salah satu cara merayakan sukacita paskah, yang saat itu belum bisa saya pahami maknanya. Empat puluh hari lamanya dikenal sebagai masa prapaskah dengan berbagai tradisi gereja katolik yang diyakini oleh keluarga saya.

Orangtua saya sering melibatkan saya pada berbagai perlombaan saat hari raya Paskah tiba. Ada lomba mewarnai gambar telur, lomba menghias telur atau lomba mencari telur. Semuanya begitu menggembirakan buat saya yang saat itu masih anak-anak. Menjadi juara dalam perlombaan itu tak begitu penting buat saya, karena setiap anak pasti dapat telur paskah dari gereja. Mendapatkan telur paskah berwarna yang dibagikan itu sudah menggembirakan.

Tahun ini tak ada lomba mencari telur atau menghias telur lagi.

Pertanyaan pada ayah saya saat itu, mengapa ya ada telur paskah?

Ayah saya tahu bahwa saya perlu diberi perumpamaan. Setibanya di rumah, dia menunjukkan kandang ayam milik tetangga yang berada dekat rumah. Tetangga sebelah rumah saya memiliki setidaknya tujuh ayam betina dan beberapa ayam jantan. Kandang ayamnya pun sangat besar.

“Kakak,” begitu ayah saya menyapa. “Bagaimana ayam-ayam itu awalnya hidup di dunia?” tanya ayah saya.

“Telur ayam” jawab saya.

Begitu pun telur dihadirkan sebagai lambang paskah, kak” kata ayah saya.

Perumpamaan itu mengingatkan saya sekarang, bahwa Paskah adalah simbol kehidupan baru dimulai. Sebagaimana Paskah yang dirayakan tiap musim semi di belahan bumi yang merayakan empat musim. Musim semi adalah kehidupan baru dimulai setelah berakhirnya musim dingin, yang dingin dan tanpa kehidupan.

Tentu tak hanya itu alasan telur sebagai tradisi di saat hari raya Paskah. Jaman dahulu masa prapaskah dilakukan dengan masa puasa dan pantang yang ketat, dibandingkan masa sekarang. Telur sudah direbus dan disimpan agar saat hari raya paskah tiba, mereka bisa menikmatinya karena orang tidak makan daging selama masa prapaskah.

Harga telur itu lebih terjangkau, dibandingkan daging. Dengan begitu, siapa saja bisa merayakan paskah, bahkan bagi mereka yang tak mampu membeli daging. Itu maknanya. Telur-telur yang sudah direbus dan diwarnai dibagikan kepada tiap umat yang telah menyelesaikan masa puasa dan pantang setelah misa berakhir. Begitu pengalaman saya saat merayakan hari raya Paskah di Jerman.

Tahun lalu, saya menjumpai telur berhias di Zagreb, ibukota Kroasia. Paskah tahun ini cukup berdiam di rumah, mengikuti ibadah digital dan merayakan sukacita Paskah bersama kerabat lewat komunikasi digital menjadi pengalaman saya tahun ini. Berterimakasih juga bahwa kehidupan digitalisasi kini telah membuat saya melalui krisis corona dengan mudah. Saya yakin Paskah tahun ini akan menjadi sejarah yang diingat banyak orang kelak.

Selamat Pesta Paskah bagi anda yang merayakannya!