Ilustrasi.

In times of crisis, people reach for meaning. Meaning is strength. Our survival may depend on our seeking and finding it,” pendapat Viktor Frankl (1905 – 1997). Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yakni “Di masa krisis, orang-orang berusaha mencari makna. Makna itu adalah kekuatan. Kelangsungan hidup kita mungkin bergantung pada pencariannya dan menemukannya.” Frankl adalah salah satu murid dari Sigmund Freud (1856 – 1939), bapak psikoanalisa.

Jika Sigmund Freud menekankan tentang ‘Wille zur Lust‘ atau bisa diartikan ‘keinginan untuk berkehendak’ maka Viktor Frankl pada Wille zum Sinn atau bisa diartikan dengan ‘keinginan untuk kebermaknaan’. Oleh karena teori dan pengalaman Viktor Frankl inilah saya menuliskan kaitan krisis yang sedang kita hadapi meski saya bukan seorang ahli.

Semester perkuliahan lalu saya diingatkan kembali tentang salah satu tokoh yang menuangkan gagasan ‘Kebermaknaan Hidup‘ yang lama sudah saya lupakan saat kuliah di jurusan psikologi beberapa waktu lalu. Saya pun sempat menyaksikan wawancara Herr Frankl sewaktu beliau masih hidup di salah satu film dokumenter di sini tayangan berbahasa Jerman.

Rupanya Viktor Frankl pernah mengalami krisis dalam hidupnya. Dia pernah mengalami krisis hidup beberapa tahun lamanya karena ia harus mendekam di kamp konsentrasi saat berlangsungnya perang dunia kedua. Selama krisis di kamp konsentrasi itu, ia menemukan pencerahan.

Dari pengalaman hidupnya itu, Frankl belajar bahwa manusia kehilangan hal fundamental yakni kebebasan selama di kamp, tetapi seyogyanya manusia masih bebas memilih caranya bertindak sendiri atau cara bereaksi. Menurutnya, eksistensi manusia itu bukan semata-mata nasib yang menantikan kita melainkan bagaimana kita bereaksi menerima nasib tersebut.

Dalam krisis tersebut, Frankl menjalani penderitaannya dan bertahan untuk hidup. Frankl selamat sementara isteri dan kedua orangtuanya dibunuh di kamp konsentrasi. Keinginan untuk mencari kebermaknaan itu yang memunculkan model psikoterapinya, Logoterapi. Setelah berhasil bebas dari kamp Auschwitz, ia kemudian mendirikan logoterapi dan memulai karya-karyanya hingga wafat di Wina, Austria.

Frankl juga menuliskan buku terkenal di dunia berjudul Man’s searching for Meaning, dalam bahasa Jerman buku tersebut berjudul ‘Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager’. Kata logo yang menjadi acuan terapinya berasal dari bahasa Yunani, yang berarti ‘aku menyembuhkan’.

Frankl berpendapat bahwa makna hidup itu bersifat unik, personal, spesifik dan berbeda-beda tiap individu. Seseorang pada dasarnya selalu berusaha untuk memaknai hidupnya. Jika orang tak berhasil memaknai hidupnya maka ada kecenderungan muncul keputusasaan, kehilangan arah, perasaan hampa atau mulai merasa bosan. Begitu pun saat manusia mengalami krisis hidupnya, ia dituntun untuk mencari makna dibalik penderitaan yang sedang dihadapi. Makna hidup menuntun manusia pada kehidupan spiritual yang mendorong kebebasan bertanggungjawab.

Ada banyak tokoh dunia lainnya yang ternyata juga berhasil memaknai hidupnya saat ia mengalami krisis. Melalui penderitaan itu, manusia memang berkurang kesenangannya tetapi ia semakin bertambah makna hidupnya sebagai cara mengaktualisasikan diri.

Ini pula yang ditemukan dalam sebuah riset yang saya baca baru-baru ini bahwa cara untuk melewati masa-masa krisis seperti sekarang ini, bukanlah mencari kebahagiaan melainkan menemukan maknanya. Dengan menemukan makna hidup, manusia akan merasakan hidup yang bernilai meski dalam krisis. Ini yang dimaksud Viktor Frankl, bapak Logoterapi yang saya pelajari.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga di rumah!